Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Wall Street Ditutup Lebih Tinggi pada Akhir Perdagangan

- Apahabar.com Jumat, 21 Agustus 2020 - 12:17 WIB

Wall Street Ditutup Lebih Tinggi pada Akhir Perdagangan

Ilustrasi wall street. Foto: Liputan 6

apahabar.com, JAKARTA – Indeks-indeks utama Wall Street ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan, Jumat (21/8) pagi lantaran kenaikan kuat di saham-saham sektor teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 46,85 poin atau 0,17 persen menjadi ditutup di 27.739,73 poin.

Sementara, Indeks S&P 500 naik 10,66 poin atau 0,32 persen, menjadi berakhir pada 3.385,51 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup bertambah 118,49 poin atau 1,06 persen menjadi 11.264,95 poin.

Saham-saham raksasa teknologi AS, atau yang disebut grup FAANG terdiri atas Facebook, Apple, Amazon, Netflix dan induk perusahaan Google, Alphabet, semuanya berakhir lebih tinggi.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor jasa teknologi dan komunikasi masing-masing terangkat 1,44 persen dan 1,37 persen, melampaui sektor-sektor lainnya. Sementara sektor energi merosot 2,13 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terburuk.

Di awal sesi, ekuitas AS berada di bawah tekanan karena data menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran melonjak kembali di atas satu juta pada pekan lalu.

Klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, meningkat 135.000 menjadi 1,106 juta dalam pekan yang berakhir 15 Agustus, mencerminkan tingkat pengangguran yang masih tinggi di negara itu, Departemen Tenaga Kerja melaporkan pada Kamis (20/8/). Para ekonom yang disurvei oleh MarketWatch memperkirakan 910.000 klaim baru selama seminggu.

Wall Street juga terus mencerna risalah dari pertemuan Juli Federal Reserve AS yang dirilis pada Rabu (19/8).

“Anggota setuju bahwa krisis kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung akan sangat membebani kegiatan ekonomi, lapangan kerja, dan inflasi dalam waktu dekat dan menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah,” kata risalah tersebut dilansir Xinhua. (Ant)

Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Harga Ayam Potong Mahal Masuk Bulan Maulid, Warga Khawatir di Momen Natal dan Tahun Baru
apahabar.com

Ekbis

BPH Migas Berkolaborasi dengan Pemda Bangun Pipa Trans Kalimantan
apahabar.com

Ekbis

Pajak Kuliner dan Hotel Jadi Penyumbang Terbesar PAD Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

Kalsel Belum Lirik Potensi Sarang Burung Walet
apahabar.com

Ekbis

Covid-19 Mewabah, Apindo Kalsel Usul Penghapusan Pajak Penghasilan
apahabar.com

Ekbis

Hipmi Usul Pemerintah Kembali Buka Ekspor Nikel
apahabar.com

Ekbis

2020, Kalsel Genjot Swasembada Daging
apahabar.com

Ekbis

Hipmi Siap Lahirkan Sentra Ekonomi Desa
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com