Kandas di Piala Presiden, Barito Putera Langsung Fokus ke Liga 1 Persiba Balikpapan Gasak PSIM Yogyakarta 2-0 Tarif Air Bersih Naik, Dewan Kotabaru Minta Pelayanan PDAM Ikut Membaik Indomaret Izin Masuk Barabai Bukan Pepesan Kosong Gaji ke-13 Sudah Cair Rp 8 Triliun, ASN Banjarmasin Sabar Dulu…

Wall Street Ditutup Lebih Tinggi pada Akhir Perdagangan

- Apahabar.com     Jumat, 21 Agustus 2020 - 12:17 WITA

Wall Street Ditutup Lebih Tinggi pada Akhir Perdagangan

Ilustrasi wall street. Foto: Liputan 6

apahabar.com, JAKARTA – Indeks-indeks utama Wall Street ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan, Jumat (21/8) pagi lantaran kenaikan kuat di saham-saham sektor teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 46,85 poin atau 0,17 persen menjadi ditutup di 27.739,73 poin.

Sementara, Indeks S&P 500 naik 10,66 poin atau 0,32 persen, menjadi berakhir pada 3.385,51 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup bertambah 118,49 poin atau 1,06 persen menjadi 11.264,95 poin.

Saham-saham raksasa teknologi AS, atau yang disebut grup FAANG terdiri atas Facebook, Apple, Amazon, Netflix dan induk perusahaan Google, Alphabet, semuanya berakhir lebih tinggi.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor jasa teknologi dan komunikasi masing-masing terangkat 1,44 persen dan 1,37 persen, melampaui sektor-sektor lainnya. Sementara sektor energi merosot 2,13 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terburuk.

Di awal sesi, ekuitas AS berada di bawah tekanan karena data menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran melonjak kembali di atas satu juta pada pekan lalu.

Klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, meningkat 135.000 menjadi 1,106 juta dalam pekan yang berakhir 15 Agustus, mencerminkan tingkat pengangguran yang masih tinggi di negara itu, Departemen Tenaga Kerja melaporkan pada Kamis (20/8/). Para ekonom yang disurvei oleh MarketWatch memperkirakan 910.000 klaim baru selama seminggu.

Wall Street juga terus mencerna risalah dari pertemuan Juli Federal Reserve AS yang dirilis pada Rabu (19/8).

“Anggota setuju bahwa krisis kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung akan sangat membebani kegiatan ekonomi, lapangan kerja, dan inflasi dalam waktu dekat dan menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah,” kata risalah tersebut dilansir Xinhua. (Ant)

Editor: Fariz Fadhillah

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Tak Berkategori

Thailand Menghapus Ganja dari Daftar Narkotika
apahabar.com

Tak Berkategori

Jelang Harganas, Paman Birin Minta Siapkan Ribuan Blanko KIA
apahabar.com

Tak Berkategori

Pemudik di Bandara Syamsudin Noor Banyak Darah Tinggi
Peresmian Bendungan

Tak Berkategori

Bersyukur Peresmian Bendungan Lancar, Bupati Tapin: Presiden Senang
apahabar.com

Tak Berkategori

Kinerja Komoditas Batu Bara-CPO Menyedihkan
covid-19 kotabaru

Tak Berkategori

Kasus Covid-19 Kotabaru Melonjak, 71 Orang Terpapar!
apahabar.com

Tak Berkategori

Catat, 5 Biaya yang Disiapkan Jelang Buah Hati Lahir
Kabupaten Banjar

Tak Berkategori

HUT RI ke-76 di Kabupaten Banjar, Ini Pesan Veteran untuk Generasi Muda
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com