Ditangkap di Tabalong, Janda asal Ampah Kalteng Sudah Teler dari Amuntai Guru Danau Imbau Ulama Kalsel Tidak Berpolitik Praktis Puncak Pandemi, Berapa Limbah Infeksius Covid-19 di Kalsel? Amankan Pilgub Kalsel 2020, Polres Tapin Siapkan 258 Personel Akhir 2024, Agropolitan Anjir Pasar Batola Ditarget Berdaya Saing

Hipertensi dan Diabetes Mellitus Jadi Pemicu Ginjal, Begini Tips Mengatasinya

- Apahabar.com Sabtu, 12 September 2020 - 05:15 WIB

Hipertensi dan Diabetes Mellitus Jadi Pemicu Ginjal, Begini Tips Mengatasinya

Ilustrasi. Foto-Shutterstock

apahabar.com, JAKARTA – Penyakit ginjal tahap akhir (End Stage Renal Disease/ ESRD) mayoritas disebabkan oleh penyakit lain diabetes mellitus dan hipertensi.

Berdasarkan data yang dihimpun dalam Indonesian Renal Registry (IRR) 2018, terdapat 65.947 pasien baru yang membutuhkan cuci darah, 92 persen di antaranya termasuk dalam kategori penyakit ginjal tahap akhir.

Pokja Transplantasi Ginjal RSCM, Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Maruhum Bonar H. Marbun, Sp.PD-KGH mengatakan penyakit ginjal tahap akhir (End Stage Renal Disease/ ESRD) mayoritas disebabkan oleh penyakit kronik.

Beberapa penyakit kronik yang menyebabkan penyakit ginjal tahap akhir, seperti hipertensi dan diabetes mellitus. Selain itu radang ginjal (glomerulonefritis), kista ginjal, dan sumbatan saluran kemih juga memperburuk kondisi ini.

Dalam acara re-launching ‘Unit Layanan Transplantasi Ginjal RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jumat (11/9/2020), dr. Maruhum juga menjelaskan tentang pencegahan yang bisa dilakukan untuk menghindari penyakit kronik seperti hipertensi dan diabetes mellitus.

“Menjaga tekanan darah dan kadar gula darah dalam batas normal, patuh terhadap pengobatan yang diberikan dan mempraktikkan gaya hidup sehat. Hidup sehat bisa dilakukan dengan mengonsumsi diet harian yang tepat, melakukan aktivitas fisik, menjaga berat badan, beristirahat cukup, menghentikan konsumsi zat yang tidak baik seperti merokok, minuman beralkohol,” terang dr. Maruhum.

Ia mengatakan langkah-langkah tersebut juga perlu diterapkan bagi calon donor transplan dan resipien ginjal sebelum prosedur transplantasi ginjal.

“Pasca prosedur transplantasi ginjal. Diperlukan pemantauan yang ketat untuk menilai adanya risiko penolakan organ. Pasien resipien transplan diberikan obat-obat penurun sistem imun dan ditempatkan pada ruangan khusus untuk mengurangi kemungkinan infeksi,” lanjutnya.

Nantinya dokter akan melakukan penilaian waktu dan jumlah urin awal untuk menilai fungsi ginjal baru. Selanjutnya, diperlukan pemantauan lain pasca operasi dari indikator jantung dan pembuluh darah serta keseimbangan cairan. (Okz)

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Keseruan Seminar di Outlet Solchic Banjarmasin
apahabar.com

Gaya

Yurianto Jelaskan Pedoman Kegiatan di Kantor Selama Pandemi
apahabar.com

Gaya

Benarkah Perokok Aman dari Covid-19? Simak Penjelasan WHO
apahabar.com

Gaya

Film Dokumenter, Wawancara Terakhir John Lennon Rilis Akhir 2020 di Layanan BritBox
apahabar.com

Gaya

Berlibur ke Penang, Jangan Lewatkan 4 Destinasi Ini
apahabar.com

Gaya

Jaga Kesehatan Jantung, Olahraga Saja tidak Cukup
apahabar.com

Gaya

Tips Bisnis Makanan Sahur untuk Ramadan
apahabar.com

Gaya

Kiat Bagi Orang Tua Buat Anak Betah Saat #Dirumahaja
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com