ga('send', 'pageview');
Baliho Jagoannya Ditutupi Paslon Lain, Relawan Cuncung-Alpi Tunjukkan Sikap Santun Karang Payau Kotabaru Geger, Ketua RT Hilang Diduga Dimangsa Buaya! Perampokan Brutal di Kotabaru, Korban Ditusuk dan Dilempar ke Sungai Kesan Mendalam Warga Pulau Burung ke Cuncung H Maming: Relakan Gaji untuk Membuka Isolasi Gali Lubang Buat Kabur, Napi Cina Lapas Tangerang Jadi Buruan Tim Khusus

Kasus Covid-19 Masih Naik, Layanan RS di Indonesia Terancam Kolaps

- Apahabar.com Senin, 7 September 2020 - 17:37 WIB

Kasus Covid-19 Masih Naik, Layanan RS di Indonesia Terancam Kolaps

Ilustrasi tenaga medis rumah sakit. Foto-Antara

apahabar.com, JAKARTA – Kasus Covid-19 di Indonesia masih naik. Dalam dua pekan terakhir telah menembus angka 3.000 per hari.
Penambahan kasus itu tentu dibarengi dengan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit. Bukan mustahil kalau keadaan terus memburuk, RS di Indonesia terancam kolaps.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengakui kapasitas tempat tidur di RS mengalami peningkatan dari semula di bawah 40 persen, sekarang lebih dari 40 persen.

Salah satu daerah yang tingkat keterisian tempat tidur isolasinya meningkat cukup pesat adalah DKI Jakarta. Padahal, kata Doni, tingkat keterisian tempat tidur isolasi RS rujukan di Jakarta sempat menurun pada periode Mei-Juni.

Epidemiolog dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina mengingatkan pemerintah bahwa kasus corona bisa tidak terkendali jika tak ada perubahan pada upaya mitigasi wabah.

Ia menjelaskan kondisi ini disebut surge capacity, dimana jumlah kasus melampaui batas kapasitas kemampuan layanan kesehatan yang dimiliki pemerintah.

Untuk mencegah surge capacity, kasus yang perlu dirawat tidak boleh lebih dari 20 persen batas kapasitas layanan kesehatan.

“Kalau pengendalian kita tetap seperti ini, sangat besar kemungkinan kita bisa surge capacity. Karena apa? Enam bulan ini kita seperti tidak melakukan apa-apa,” katanya.

Baca juga :  Cegah Sebaran Covid-19, Polsek Rantau Badauh Rutin Gelar Ops Yustisi

Menurut Masdalina, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 sejauh ini belum bekerja maksimal.

Dilansir dari CNN Indonesia, salah satu indikasinya, kata dia, tak sedikit kepala dinas kesehatan di daerah yang hanya bertugas sebagai juru bicara perkembangan kasus Covid-19. Padahal, menurutnya, kepala dinkes akan lebih berguna jika dikerahkan sebagai Wakil Ketua Satuan Tugas.

Namun, terlepas dari kerja Satgas yang dianggap belum maksimal, Masdalina mengingatkan layanan kesehatan agar berani memutuskan kondisi kasus yang bisa diisolasi mandiri dengan yang memerlukan perawatan.

Menurutnya, kasus yang perlu dirawat hanya yang memiliki gejala sedang, berat dan kritis. Pengambilan keputusan tersebut bisa berguna untuk mencegah surge capacity.

“Yang [gejala] ringan ini tidak butuh bantuan obat, tapi dengan upaya peningkatan daya tahan tubuh. Kalau sedang, butuh bantuan obat. Kalau berat butuh bantuan alat seperti oksigen, ventilator. Kalau kritis yang membutuhkan ICU,” jelasnya.

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada Donny Achmad menilai peningkatan sumber daya manusia dan logistik pada layanan kesehatan tidak bisa seutuhnya diandalkan dalam penanganan corona. Ia berpendapat pemerintah harus mengutamakan upaya penekanan penyebaran virus.

Ia mengatakan kondisi wabah dapat dilihat dari positivity rate atau tingkat penyebaran virus. Meskipun kasus terus bertambah jika positivity rate menurun, artinya penyebaran kasus berhasil ditekan.

Baca juga :  Disanksi Beras, Satu RT di Banjarmasin Haramkan Rokok di Wilayahnya

Namun hal tersebut ia duga tak terjadi di Indonesia. Saat ini positivity rate di Indonesia masih tinggi, dibarengi dengan penambahan kasus harian. Artinya, penyebaran corona masih berlangsung dengan masif dan cepat.

Ia menduga penyebaran yang semakin massif ini disebabkan oleh sikap pemerintah yang tidak lagi mau mengetatkan pembatasan sosial dan ekonomi seperti pada masa awal pandemi.

“Padahal yang namanya new normal seharusnya situasi bagaimana kita melonggarkan tapi mengencangkan mobilitas penduduk,” ujarnya.

Surge capacity sendiri, katanya, dapat dihitung dengan mempertimbangkan sejumlah kondisi. Yakni jumlah kapasitas layanan kesehatan dan kondisi pasien dari keseluruhan kasus aktif.

Ia mengatakan layanan kesehatan bisa saja dinilai kewalahan meskipun jumlah kasus sedikit. Kondisi itu bisa terjadi jika layanan kesehatan tidak didukung kemampuan logistik memadai. Untuk itu, pemerintah harus memiliki rencana mitigasi yang efektif, terutama ketika terjadi lonjakan kasus secara tiba-tiba.

“Saat ini tersedia sekian banyak bed (di rumah sakit), kalau tiba-tiba ada lonjakan kasus plan pemerintah seperti apa. Itu akan mempengaruhi overwhelm atau tidak layanan kesehatan,” katanya. (CNN)

Editor: Syarif

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Kesenian Sinoman Hadrah Sambut Kedatangan Jokowi di Kalsel
apahabar.com

Nasional

Kabareskrim Peringatkan Tempat Hiburan yang Fasilitasi Narkoba
apahabar.com

Nasional

Positif Virus Corona di Malaysia Jadi 19 Orang

Nasional

Tragedi Wiranto, Polda Kalsel Perketat Pengamanan Pejabat Negara
apahabar.com

Nasional

Timur Laut Sumbawa Diguncang Gempa Hari Ini
apahabar.com

Nasional

Densus 88 Tangkap 6 Orang Terduga Teroris di Cirebon
apahabar.com

Nasional

Tahlilan Personil Seventeen Korban Tsunami Didatangi Banyak Sahabat Artis
apahabar.com

Nasional

Animasi Berperan dalam Pembentukan Karakter Anak
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com