Ngenes! Mau Tutup, Pengunjung Duta Mall Banjarmasin Malah Menurun H-1 Lebaran, Puluhan Pemudik Diputarbalik di Pos Penyekatan Tabalong! Buat Jalur Khusus Jemaah, Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Gelar Salat Ied Hore! Remisi Lebaran Warga Binaan di Kalsel Diusulkan Bertambah, Segini Jumlahnya Pencarian Korban Longsor di Batu Bini HSS Kembali Dilanjutkan

Kebijakan Razia Masker di Banjarmasin Tuai Kontroversi; dari Caci Maki Warga hingga Dugaan Kampanye Gelap

- Apahabar.com Rabu, 16 September 2020 - 17:08 WIB

Kebijakan Razia Masker di Banjarmasin Tuai Kontroversi; dari Caci Maki Warga hingga Dugaan Kampanye Gelap

Calon Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina menanggapi soal zona merah Covid-19. Foto-apahabar.com/dok

apahabar.com, BANJARMASIN – Penerapan Peraturan Wali (Perwali) Kota Banjarmasin Nomor 68 Tahun 2020 tentang protokol kesehatan resmi beroperasi selama 16 hari.

Namun, kebijakan itu menuai kritik, bahkan caci maki dari sebagian masyarakat. Para petugas di lapangan pun sering menerima kata-kata kasar dari warga yang dirazia.

Ini jelas tidak menguntungkan untuk Ibnu Sina sebagai wali kota yang kembali mencalonkan diri pada Pilwali Banjarmasin tahun ini. Ibnu menilai ada dugaan kampanye gelap di balik banyaknya kritik yang mengarah pada dirinya.

“Semakin kencang ditanggapinya malah semakin terkenal,” kata Ibnu, menanggapi dugaan kampanye terselubung itu.

Ibnu mengakui kondisi ini tidak menguntungkan untuk dirinya. Jika di dalam ring tinju, petahana adalah orang yang bertanding terlebih dahulu, sehingga segala kelebihan dan kekurangan bisa dilihat jelas oleh lawan yang belum naik ring.

“Yang lain ‘kan belum naik ring. Jadi belum tahu dia punya kelebihan atau kekurangan. Tidak ketahuan,” ucapnya.

Di luar dari kemungkinan-kemungkinan itu, Ibnu mempersilahkan siapa saja untuk mengkritik kebijakannya.

“Serang aja kebijakan penguasa. Tapi saya punya tangan kiri dan kanan, lalu suatu saat bisa bikin uppercut dan jab seperti tinju,” katanya.

Saat menggelar razia, anggota Satpol PP Banjarmasin, kata Ibnu, sering diteriaki menggunakan ucapan kasar.

“Ketika dikasih tahu tidak mengenakan masker, petugas Satpol PP dibilangi dan diteriaki bangsat. Tapi petugas diam saja. Ini mungkin murni protes saja, tapi karena disampaikan di media sosial. Jari jemari kita gatal untuk tak dishare hal yang sifatnya kontroversi,” imbuhnya.

Ibnu mengaku sangat menyesalkan sikap warga tersebut. Sebab, menurut dia, para petugas hanya menjalankan tanggung jawab untuk menyampaikan imbauan terkait displin protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

“Subtansi di Perwali ini sebenarnya untuk menyelamatkan warga. Pemerintah niatnya baik,” ucapnya.

Di Perwali nomor 68/2020 mengatur beragam sanksi ketika memperoleh warga tak mengenakan masker, baik tertulis, teguran, sanksi sosial hingga denda Rp 100 ribu.

“Yang namanya aturan itu pasti ada sanksi lah. Tapi ini sanksinya tidak sampai dipenjara dan hukuman badan,” tegas Ibnu.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Jelang Ramadan, Intip Cara Pengusaha Wanita Kalsel Gelar Pasar Murah
apahabar.com

Kalsel

Duta Mall Banjarmasin Siap Fasilitasi Vaksinasi Tahap Dua
mudik

Kalsel

Nekat Mudik Lebaran, Sanksi Pendisiplinan hingga Pidana Menanti!
apahabar.com

Kalsel

Bawaslu Banjarmasin Bersiap Hadapi Pilkada
Banjarbaru

Kalsel

Bawa Sajam saat Berkendara, Pria di Banjarbaru Ditangkap Polisi
apahabar.com

Kalsel

Dear Warga Kalsel, Waspada Lonjakan Kasus Covid-19 Efek Lebaran
apahabar.com

Kalsel

Hadiri HKGB ke-68, Kapolda Kalsel Ajak Bhayangkari Memaknai Peran
banjir

Kalsel

Banjir Belum Berakhir, Kalsel Perpanjang Status Tanggap Darurat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com