Tolak Omnibus Law, Ketua DPRD Kalsel Digelari Juara Stand Up Komedi Hari Ini Kuota Internet Belajar Siswa dan Guru Dikirim Langsung ke Nomor Peserta, Berikut Besar Sibsidinya Ribuan Buruh Kepung DPRD Kalsel, Supian HK Janjikan Pertemuan dengan DPD-DPR RI Hasil Liga Champions, Real Madrid Dipermalukan Shakhtar Donetsk, Skor Akhir 3-2 Geger Pria di Kelumpang Kotabaru Tewas Diduga Disengat Ratusan Lebah

Menyelisik Ritual Pemakaman Adat Dayak Meratus: Hamburkan Beras Kuning Agar Keburukan Tak Menyertai Peserta Ritual

- Apahabar.com Sabtu, 19 September 2020 - 12:12 WIB

Menyelisik Ritual Pemakaman Adat Dayak Meratus: Hamburkan Beras Kuning Agar Keburukan Tak Menyertai Peserta Ritual

Ritual 'malangkah sangkin duyung' dalam prosesi pemakaman adat Meratus. Foto-apahabar.com/Dayat

apahabar.com, KANDANGAN – Ritual upacara pemakaman masyarakat adat Dayak Meratus, mengantar arwah orang wafat agar tenang di alam lain.

Pengantaran itu juga sekaligus dilakoni untuk membuang keburukan agar tidak mengikuti orang-orang yang hadir di pemakaman.

Untuk menyaksikan langsung prosesi ritual masyarakat Adat Dayak Meratus itu apahabar.com mengikuti pemakaman mendiang Damang Dayak Meratus Ayal Kusal, Jumat (19/9) siang.

Damang Ayal merupakah tokoh sentral pimpinan masyarakat Meratus se-Kalimantan Selatan (Kalsel) yang tinggal di Dusun Malaris, Desa Loklahung, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Pemakaman dilaksanakan di tengah hutan, dan dilaksanakan secara gotong-royong oleh warga dan kerabat almarhum.

Usai kubur tertutup tanah dan ditancapkan sepasang nisan, didirikan pula atap sederhana dari belahan bambu yang disusun dengan tiang kayu kecil.

Kemudian, para balian atau dukun adat dayak mulai ritual (bamamang) guna merapalkan mantra-mantra. Hal itu, untuk mengantarkan arwah si jenazah ke alam lain agar hidup tenang.

Biji-bijian beras kuning dibagikan kepada para warga yang hadir, dihamburkan bersama-sama pada saat tertentu. Dimaksudkan untuk membuang segala keburukan.

Beras kuning tidak dihamburkan semuanya, disisakan untuk dihambur kembali di lain tempat.

apahabar.com

Ritual basiraman, yakni bercebur di sungai untuk membersihkan badan usai menghadiri pemakaman Adat Meratus.Foto-apahabar.com/Dayat

Para balian terus beritual (bamamang) selama kurang lebih satu jam.

Meski kata-katanya tak beraturan dan tidak dimengerti orang awam, namun para balian sudah menguasai dan hafal apa yang mereka ucapkan.

Selanjutnya, tiap warga yang hadir di pemakaman wajib mengikuti prosesi ‘malangkah sangkin duyung’.

Yakni, berjalan arah pulang sambil berkeliling dan melewati sebuah gerbang kecil, dari bambu yang membentuk segitiga.

Di bawahnya terdapat abu bekas membakar sesuatu, serta air yang dimasukkan dalam bambu.

“Ada unsur abu, api dan air dilangkahi bersama di sana. Agar kesialan, keburukan maupun roh jahat saat dipemakaman tidak mengikuti warga yang hadir,” ujar Kaldi, seorang pemuda asal Dusun Manutui.

Seorang warga Desa Loksado, Suriani menambahkan, hal itu juga dapat dimaknai agar memisahkan antara makhluk yang hidup dan yang sudah meninggal.

Selanjutnya, di perjalanan pulang semua warga wajib pula mengikuti prosesi ‘basiraman’ dengan bercebur di sungai.

Suriani menjelaskan, hal itu dimaksudkan untuk membersihkan badan dari segala macam kotoran terlihat ataupun tidak terlihat.

“Hakikatnya, air bisa melarutkan kotoran, begitupula segala hal keburukan. Jadi, berendam di sungai dapat membuang segala hal tidak baik yang menempel di badan setelah menghadiri pemakaman,” ucap anggota Satpol PP Kecamatan Loksado, yang juga merupakan seorang tokoh adat itu.

Saat di sungai, para balian kembali melakukan bamamang. Begitu pula sisa beras kuning, kembali dihamburkan di sungai secara bersamaan.

Sebelum pulang, lamang atau beras ketan yang dimasak dalam bambu buluh, disantap bersama-sama. Disisakan sedikit untuk dijadilan sesajen, kemudian ditinggalkan di sungai bersama bakul tempat membawanya.

Dijelaskannya, ritual-ritual itu biasa disebut ‘mambuang tampulu’, yang bermakna membuang keburukan.

Ritual-ritual itu terus dilaksanakan untuk mengantarkan, warga adat yang meninggal dunia. Secara turun-temurun diajarkan cara melaksanakannya, oleh tokoh-tokoh adat kepada para generasi penerus.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Ketika Dosen Muda ULM Jadi Pembicara Pada Forum ASEAN
apahabar.com

Kalsel

Polisi Amankan Puluhan Miras di Eks Pembatuan Banjarbaru, Begini Modusnya!
apahabar.com

Kalsel

Positif Covid-19 Bertambah Lagi, Simak Laporan Gugus Tugas Tanbu

Kalsel

Demo Setahun Jokowi-Ma’ruf, Pelajar di Banjarmasin Kepergok Bawa Miras
apahabar.com

Kalsel

Ibnu Sina Cabut Kebijakan Air 10 Kubik, Ombudsman: Dia Pandai Memanfaatkan Momentum
apahabar.com

Kalsel

AKBP Afri Darmawan Pastikan Pelayanan SIM, STNK dan BPKB Sesuai Protokol Kesehatan
apahabar.com

Kalsel

Sasar Warga Kurang Mampu, Polsek Berangas: Semoga Meringankan Beban Mereka
apahabar.com

Kalsel

Penyakit Kambuh, Pensiunan PNS di Banjar Tewas Terlindas
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com