Mubadala Petrolium Sosialisasi Pemboran Sumur Eksplorasi Yaqut-1 Upah Minimum Naik Rp 10 Ribu, Buruh Kalsel Meradang Buntut Demo, Koordinator BEM Kalsel Ahdiat Zairullah Resmi Tersangka Koordinator BEM Kalsel Tersangka, Kuasa Hukum Siap Melawan BREAKING NEWS: Wakil Rektor ULM Penuhi Panggilan Polda Kalsel

Menyelisik Sejarah PKI di Kalsel, Kekuatan Hingga Vonis Mati Tokoh Mereka

- Apahabar.com Rabu, 30 September 2020 - 12:54 WIB

Menyelisik Sejarah PKI di Kalsel, Kekuatan Hingga Vonis Mati Tokoh Mereka

Ilustrasi. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Hari ini, tepat 55 tahun peritiwa kelam G30S/ Partai Komunis Indonesia (PKI). Peristiwa nahas itu menjadi catatan buruk perpolitikan bangsa Indonesia.

Gejolak G30S/PKI kala itu bukan hanya terjadi di Jakarta. Melainkan, juga di Banjarmasin. Bahkan, PKI telah mendirikan Comite Daerah Besar (CDB) Banjarmasin.

Seperti halnya di seluruh Indonesia, PKI mendirikan organisasi Comite Daerah Besar (CDB) tingkat provinsi, Comite Seksi (CS) tingkat kabupaten dan kota.

“Lalu, terdapat Comite Subseksi (CSS) tingkat kecamatan, dan Comite Resort (CR) tingkat kelurahan dan desa,” ucap Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Mansyur kepada apahabar.com.

Dari dokumen Pidato Kawan S.A. Sofjan (Sekretaris CDB PKI Kalsel) dituliskan, secara politik 1955-1960-an pada pemilihan umum parlemen 1955, PKI memperoleh suara 9.574.

Pemilihan untuk konstituante memperoleh 10.169 suara.

Sedangkan, pemilihan DPRD pada tahun sebelumnya, PKI mendapat 22.618 suara. Ini berarti PKI mencapai kenaikan suara 137% dari hasil pemilihan parlemen.

Dalam pidato tersebut juga dituliskan, keanggotaan dalam DPRD-DPRD pun dengan sendirinya mendapat kemajuan, yaitu pada DPRDS tidak seorang pun wakil PKI yang duduk di dalamnya.

“Kemudian, dengan adanya DPRDP wakil PKI yang duduk di dalamnya baik di tingkat propinsi maupun di kabupaten-kabupaten semua berjumlah 3 orang,” bebernya.

Sebagai contoh, dalam DPRD-DPRD PKI di tingkat I dan II seluruhnya mendapat 8 kursi. Di antaranya seorang yang duduk di Badan Penasehat Persiapan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

“Comite Partai sudah berada di semua kabupaten dan di sebagian besar kecamatan,” jelasnya.

Dari 849 desa, sudah separuhnya terdapat Comite-Comite Partai.

Kemajuan ini dinilai sangat cepat. Mengingat, benih partai ditabur di Kalsel pada 1950. Pada 1954 disempurnakan.

“Kala itu PKI di Kalsel merupakan partai yang ketiga sesudah NU dan Masyumi,” katanya.

Organisasi-organisasi revolusioner pun mengalami kemajuan-kemajuan yang pesat. Dari kurang lebih 25.000 kaum buruh yang terorganisasi, sudah ada 14.146 yang terorganisasi dalam organisasi buruh revolusioner.

Dari dokumen Pidato Kawan S.A. Sofjan (Sekretaris CDB PKI Kalsel), juga dipaparkan bahwa organisasi tani revolusioner meskipun kemajuannya belum sebagaimana yang diharapkan, tapi organisasinya sudah terdapat di semua kabupaten dan menghimpun ribuan anggota.

Organisasi wanita revolusioner juga sudah mulai tumbuh dan berkembang. Sedangkan, perkembangan organisasi revolusioner di kalangan pemuda dan pelajar juga mencapai kemajuan-kemajuan yang menggembirakan.

“Selanjutnya, dituliskan juga bahwa Pemuda Rakyat sudah mempunyai organisasi di semua kabupaten dengan keanggotaannya lebih dari 3000 orang,” terangnya.

Gerakan Pekan Perdamaian selama 8 hari pada 1957 dan dalam memperingati dasawarsa gerakan perdamaian di samping memperingati partisan perdamaian yang terkenal almarhum Juliot-Curie yang mendapat sukses.

Kerja sama Partai dengan partai-partai demokratis di luar maupun di dalam DPRD berjalan dengan baik, terutama antara PKI dengan PNI dan NU.

Ini bisa dibuktikan dalam pemilihan-pemilihan Ketua, Wakil Ketua DPRD, dan DPD-DPD. Terutama, dalam menyelenggarakan rapat-rapat umum, menentukan sikap bersama dalam menghadapi kegoncangan atau menentukan kabinet.

PKI di Kalsel memiliki beberapa ormas di bawah naungannya, seperti Serbupri (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia), Serba (Serikat Buruh Daerah Autonom) bagi pegawai pemerintah daerah.

Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan berbagai ormas lainnya.

Namun, pada 14 Agustus 1967, kepengurusan Comite Daerah Besar (CDB) provinsi yang terdiri Sekretaris I CDB PKI Banjarmasin, Amar Hanafiah diadili oleh Mahmillub Banjarmasin. Kemudian, dijatuhi vonis hukuman mati.

Begitu juga Pimpinan SOBSI Kalimantan Selatan/Pengurus CDB PKI, Suwiyo yang diadili di Pengadilan Negeri Banjarmasin, pada 9 September 1970, dijatuhi vonis hukuman penjara seumur hidup.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Kalsel

Kebakaran di Banjarmasin Tengah, Bengkel Velg dan Gudang Karpet Dilahap Api
apahabar.com

Kalsel

Diisolasi, Tensi ABK Negatif Corona di Kotabaru Naik
apahabar.com

Kalsel

Sasar Pasar Pemarang Tanjung, Satpol PP Tabalong Jaring 4 Warga Tanpa Masker
apahabar.com

Kalsel

Bersama Cegah Covid-19, Tempat Ibadah dan Jalan Umum Disemprot Disinfektan
apahabar.com

Kalsel

Kembangkan Bisnis di Bandara, Angkasa Pura Kumpulkan Ratusan Pengusaha
apahabar.com

Kalsel

Warga Banjarmasin Bandel Taati Protokol Kesehatan, Saatnya Disanksi
apahabar.com

Kalsel

Malam Ini, Positif Covid-19 di Tapin Bertambah 12 Orang
apahabar.com

Kalsel

Internet Kerap Lelet, Rujukan Online di Wanaraya Terhambat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com