Ribuan Vial Vaksin Covid-19 Tahap II Tiba di Kapuas Sempat Tertunda karena Banjir, Akhirnya Vaksin Covid-19 Tiba di Tala Bertambah 13.094, Covid-19 Indonesia Tembus 1 Juta Kasus Update Covid-19 Tanbu: Sembuh 10 Orang, Positif 8 H2D Sidang Perdana di MK, Bawaslu RI ‘Turun Gunung’ ke Kalsel

Saham di Wall Street Jatuh, Indeks Dow Jones Merosot 130,4 Poin

- Apahabar.com Jumat, 18 September 2020 - 09:57 WIB

Saham di Wall Street Jatuh, Indeks Dow Jones Merosot 130,4 Poin

Ilustrasi - Seorang pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. Foto: Reuters

apahabar.com, NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB).

Jatuhnya bursa di Wall Street karena saham-saham terkait perusahaan teknologi besar merosot lagi untuk hari kedua berturut-turut dan data pemerintah menunjukkan tingkat klaim pengangguran mingguan tetap tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 130,4 poin atau 0,47 persen, menjadi ditutup pada 27.901,98 poin.

Indeks S&P 500 kehilangan 28,48 poin atau 0,84 persen, menjadi berakhir di 3.357,01 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup anjlok 140,19 poin atau 1,27 persen, menjadi 10.910,28 poin.

Amazon.com Inc terpuruk 2,3 persen dan Apple Inc turun 1,6 persen, membuat penurunan terbesar di S&P 500 dan Nasdaq. Pekan lalu, kerugian Nasdaq membuat indeks anjlok 10 persen dari rekor penutupannya, mengonfirmasikan koreksi dimulai pada 2 September.

Dari posisi terendah pasar pada Maret, “ini merupakan pemulihan luar biasa yang diwakili oleh beberapa nama teknologi yang baik,” kata Kepala Eksekutif Longbow Asset Management, Jake Dollarhide, di Tulsa, Oklahoma.

“Mereka mengalami minggu terakhir Agustus yang luar biasa, dan saya pikir ini adalah skenario pengambilan keuntungan yang rasional saat ini.”

Minggu lalu, ketiga indeks saham utama AS membukukan penurunan minggu kedua berturut-turut karena investor menjual nama-nama terkait teknologi yang telah mendorong Indeks S&P 500 ke rekor tertinggi dalam reli dramatis dari posisi terendah Maret.

Dollarhide mengatakan dia memperkirakan nama-nama terkait teknologi bangkit kembali sebelum akhir tahun.

Menambah kekhawatiran tentang pemulihan yang terhenti, laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan bahwa sementara lebih sedikit orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran minggu lalu, jumlahnya tetap bertengger di tingkat yang sangat tinggi.

Pada Rabu (16/9/2020) Federal Reserve (Fed) berjanji untuk mempertahankan suku bunga rendah dalam waktu yang lama untuk mengangkat ekonomi terbesar dunia itu keluar dari resesi yang dipicu pandemi.

Ketua Fed Jerome Powell memaparkan menu dari faktor-faktor termasuk pertumbuhan upah, partisipasi tenaga kerja dan perbedaan dalam pengangguran minoritas relatif terhadap kulit putih yang harus dipenuhi sebelum The Fed akan melihat ekonomi pada kesempatan kerja maksimum, dan bahkan mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga.

“Investor senang ketika The Fed menurunkan suku bunga, karena mereka merasa itu bagus untuk pasar,” kata Dollarhide.

“Tetapi jika The Fed mengatakan kita perlu mempertahankan suku bunga rendah lebih lama, maka orang mulai mengkhawatirkan ekonomi itu sendiri.”(Ant)

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Indonesia Diproyeksi Impor 500 ribu Ton Singkong sepanjang 2018
apahabar.com

Ekbis

Bank Dunia: Pandemi Covid-19 Pukul Pertumbuhan Ekonomi Asia
apahabar.com

Ekbis

Ekonomi Indonesia Tumbuh Stabil, Jokowi: Berkat Doa Ulama
apahabar.com

Ekbis

Ditutup Menguat, Rupiah Pagi Ini Dibuka Melemah
apahabar.com

Ekbis

Apa Kabar Proyek Bandara Baru Syamsudin Noor?
apahabar.com

Ekbis

Didukung Sentimen Vaksin Covid-19, Rupiah Masih Berpotensi Menguat
apahabar.com

Ekbis

Stimulus AS Pupus, Wall Street Berakhir Turun

Ekbis

Dipicu Aksi Ambil Untung Investor, IHSG Ditutup Terkoreksi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com