Skandal Baramarta, Eks Dirut Bongkar Sosok Oknum Jaksa Diduga Penikmat Korupsi Dana Taktis Kucurkan Rp2 Miliar, Banjarmasin Tancap Gas Perpanjang PPKM Mikro Lagi, Polres Tabalong Tangkap Pemilik Senjata Api Ilegal Blakblakan Duta Mall Banjarmasin Terpaksa Tutup Selama Lebaran Viral Pria Bersajam Vs Polisi-Warga di Nagasari Banjarmasin, Pelaku Diancam Pasal Berlapis!

Sejarah Ganja Masuk Indonesia

- Apahabar.com Selasa, 1 September 2020 - 05:20 WIB

Sejarah Ganja Masuk Indonesia

Ilustrasi ganja. Foto-shutterstock

apahabar.com, JAKARTA – Ganja nyaris dijadikan komoditas binaan. Namun kemudian hal itu dibatalkan.

Pembatalan keputusan ganja menjadi komoditas binaan itu menjadi pro dan kontra. Tak sedikit yang menilai ganja memiliki lebih banyak manfaat kesehatan ketimbang penggolongannya saat ini dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Bahkan, di sejumlah kawasan di Indonesia, ganja digunakan sebagai bagian dari rempah kuliner dan bagian ritual. Tiga wilayah yang identik dengan ganja itu Aceh, Tambora, dan Ternate.

“Tapi tradisi di Tambora musnah dan kebudayaan tidak berkembang setelah letusan gunung,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara Inang Winarso dalam perbincangan dengan detikTravel.

“Kalau di Ternate masih digunakan dalam acara-acara ritual, digunakan seperti dupa,” ujar Inang.

Sementara itu, di Aceh memang menjadi jalan masuk ganja ke Indonesia. Ganja dibawa oleh pedagang dari Gujarat dari India sekitar abad ke-14.

“Dahulu itu diperkirakan ganja dibawa oleh pedagang dari India dalam bentuk biji sebagai alat transaksi perdagangan. “Ganja ditukar dengan cengkeh, kopi, lada, vanili, dan jenis rempah lainnya,” kata Inang.

Di Aceh, ganja beradaptasi terhadap iklim lokal. Oleh warga Aceh, ganja ditanam berdampingan dengan padi. Ganja itu dijadikan sebagai tanaman pengusir hama.

Dalam prosesnya, ganja di Aceh menjadi salah satu rempah penting dalam masakan. Di antaranya digunakan dalam gulai itik dan pelembut daging. Bahkan, juga menjadi campuran kopi.

Kemudian, ganja juga digunakan sebagai obat-obatan. “Seluruh bagian tanaman ganja bermanfaat sebagai obat. Pertama-tama dipakai untuk pengobatan diabetes,” kata Inang.

Inang menyebut bukti ganja sebagai obat dicatat dalam manuskrip kitab kuno Tajul Muluk. Kini, kitab itu telah memiliki versi digitalnya.
Pedagang juga membawa ganja ke Ternate di Maluku Utara. Serupa dengan di Aceh, ganja juga digunakan sebagai alat tukar rempah-rempah oleh pedagang Gujarat.

Oleh warga Terate, ganja digunakan sebagai salah satu rempah untuk meditasi dan ritual. Juga, sebagai obat kencing nanah, gonore, asma, dan nyeri dada.

Inang bilang penggunaan ganja di Indonesia setara dengan rempah-rempah lainnya hingga awal abad ke-20. Barulah kemudian, politik rasialis dan kepentingan ekonomi di AS memasukkan ganja dalam daftar narkotika.

Pelarangan ganja itu pun berkembang menjadi isu internasional dan dikukuhkan dalam Konvensi Tunggal tentang Narkotika. Indonesia menekan konvensi tersebut 15 tahun kemudian saat era Presiden Soeharto melalui UU Narkotika nomor 8 tahun 1976. Saat ini ganja menurut UU Nomor 35 Tahun 2009 masuk ke dalam narkotika golongan I yang produksi hingga konsumsinya dilarang.

“Padahal, zat tanaman obat di dalam ganja itu banyak sekali untuk pengobatan. Dari akar, batang, daun, bunga, dan biji, semuanya mengandung zat untuk pengobatan,” ujar Inang.

Sementara itu Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi, menyebut beberapa senyawa seperti cannabid dan flavonoid dari ganja berpotensi dikembangkan sebagai obat.

“Karena sifat utamanya memang psikoaktif sehingga arahnya bisa dikembangkan untuk obat yang bisa memengaruhi persarafan. Jadi bisa bersifat analgesik atau anti nyeri, anti radang, antiansietas, anti kejang, dan anti mual muntah. Itu potensi untuk dikembangkan,” tutur dr Inggrid.

dr Inggrid mengatakan dari sisi penelitian ganja berpotensi diriset lebih jauh karena selama ini studi soal manfaatnya memang masih minim di Indonesia. Hanya saja, yang jadi masalah adalah tanaman tersebut rentan disalahgunakan. (Dtk)

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Jebol Pintu untuk Evakuasi Wanita 350 Kg di Kalteng
apahabar.com

Nasional

Opsi Reshuffle, Jokowi Peringatkan untuk Para Menteri Masih Kerja Biasa-biasa Saja
vaksinasi

Nasional

BPOM Sebut 71,4 Persen Relawan Vaksin Nusantara Alami Efek Samping
apahabar.com

Nasional

Daftar Orang Terkaya Indonesia, Ciliandra Fangiono Paling Muda Punya Harta Triliunan
apahabar.com

Nasional

Lima Jenis Sedotan Ramah Lingkungan dan Unik Pengganti Sedotan Plastik
Covid-19

Nasional

Kasus Kematian Capai Puluhan Ribu, Satgas Ingatkan Covid-19 Bukan Konspirasi
Gunung Sinabung

Nasional

Erupsi Gunung Sinabung, Abu Vulkanik Menyembur Setinggi 1.000 Meter
apahabar.com

Nasional

Bangkit Melawan Kekerasan, Pemberangusan, dan Turbulensi Industri Media
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com