Ramuan Herbal Daun Sungkai Digunakan Warga Bantu Pengobatan Pasien Covid-19 di Banjar Nah Loh, Dana PPKM Level IV Banjarmasin Gagal Cair Update Pemakaman Istri Guru Ijai: Sekumpul Lengang, Polisi Berjaga di Puluhan Titik Kabar Baik! Banjarmasin Rencanakan Gelar Pekan Gebyar Vaksinasi Massal BREAKING! Ambulans Mendiang Istri Abah Guru Sekumpul Tiba di Ar-Raudhah

TikTok dan WeChat Dilarang di AS, China Siapkan Serangan Balasan

- Apahabar.com     Minggu, 20 September 2020 - 08:54 WITA

TikTok dan WeChat Dilarang di AS, China Siapkan Serangan Balasan

Ilustrasi: Foto-BBC

apahabar.com, JAKARTA – Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan yang melarang aplikasi berbagi video TikTok dan aplikasi pembayaran elektronik dan media sosial WeChat.

Kebijakan kontroversial itu pun memicu respons Pemerintah China. Jika AS tetap bertahan, China diprediksi akan mengambil tindakan balasan yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan yang sah dua perusahaan China itu.

Demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China (Mofcom) yang beredar di sejumlah media setempat, Minggu (20/9).

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melarang warganya menggunakan dua aplikasi buatan China tersebut per 20 September 2020.

Larangan tersebut dinilai merusak hak perusahaan dan mengganggu tatanan pasar.

Mofcom menilai keputusan AS tidak berdasar dan dapat merusak kepercayaan investor internasional yang hendak berinvestasi di sana.

“Kami kecewa atas keputusan tersebut dan aplikasi ini diblokir bagi pengunduh baru mulai Minggu serta aplikasi ini dilarang mulai 12 November. Di AS kami punya komunitas pengguna TikTok sebanyak 100 juta karena ini telah menjadi tempat hiburan, ekspresi pribadi, dan menjalin koneksi,” demikian manajemen TikTok perwakilan AS dikutip Xinhua.

Kementerian Perdagangan AS, Jumat (18/9), mengeluarkan keputusan bahwa aplikasi TikTok sudah tidak bisa ditemukan lagi di Apple Store dan Googgle Pay mulai Minggu (20/9).

Kemudian mulai 12 November 2020, TikTok dan WeChat akan dilarang di negara adidaya itu.

Sebelumnya TikTok berhasil merangkul perusahaan data internet asal AS Oracle. Saat ini kesepekatan kedua perusahaan tersebut sedang menunggu persetujuan dari otoritas di China dan AS.

Editor: Puja Mandela

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Vaksin

Internasional

Rusia Produksi Vaksin Covid-19 Gelombang Pertama
Israel

Internasional

Israel Peringatkan Dunia soal Presiden Baru Iran, Kenapa?

Internasional

AS Izinkan Anak 12 Tahun yang Sudah Vaksin Lepas Masker

Internasional

Telepon Perdana Biden, Hubungi 3 Pimpinan Negara Kunci di Asia-Pasifik
apahabar.com

Internasional

Ledakan Guncang Pemakaman Al Balad Arab Saudi, KJRI Jeddah: Tak Ada Korban WNI
apahabar.com

Internasional

Lagi, Hotel Dekat Masjidil Haram Terbakar
apahabar.com

Internasional

Kasus Positif Covid-19 Melonjak, Taiwan Tolak Sementara Pekerja Migran dari Indonesia
apahabar.com

Internasional

Jacob Blake yang Ditembak 7 Kali oleh Polisi di Kenosha AS, Sampaikan Pesan Memilukan dari RS
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com