Mahasiswanya Positif Covid-19, Kampus FISIP ULM Banjarmasin Lockdown Selama Sepekan Larang Anggota Fraksi ke Luar Daerah, Golkar Targetkan Kemenangan BirinMu 70 Persen Sembuh dari Covid-19, Sugianto Hadir di Kampanye Penutup Jelang Pencoblosan, Ratusan Anggota Fraksi Golkar Se-Kalsel Siap Awasi Money Politics Aduuuuuuuuuh ai, Viral Bocah di Tapin Ngamuk-Buang Motor Saat Ditilang Polisi

Bukan Kaleng-kaleng, Simak Alasan Bupati Batola Tampil dalam Rakorteknas Pencegahan Stunting

- Apahabar.com Rabu, 21 Oktober 2020 - 21:03 WIB

Bukan Kaleng-kaleng, Simak Alasan Bupati Batola Tampil dalam Rakorteknas Pencegahan Stunting

Bupati Barito Kuala, Hj Noormiliyani AS, membacakan komitmen bersama dalam Rakorteknas Percepatan Pencegahan Stunting yang dilakukan secara virtual. Foto: Humpro Setda Batola

apahabar.com, MARABAHAN – Bukan kebetulan kalau Bupati Barito Kuala, Hj Noormiliyani AS, didapuk membacakan komitmen bersama dalam Rapat Koordinasi Teknis Nasional (Rakorteknas) Percepatan Pencegahan Stunting, Rabu (21/10).

Rakorteknas virtual ini diikuti 12 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari 34 provinsi, serta bupati/walikota dari 103 lokasi prioritas.

Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut juga diikuti Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, serta Staf Khusus Wakil Presiden, Bambang Widianto,

Termasuk rangkaian kegiatan itu adalah pembacaan komitmen bersama pencegahan stunting untuk 100 kabupaten/kota daerah prioritas 2021.

Dalam sesi ini, Noormiliyani menjadi satu dari 5 kepala daerah yang didapuk membacakan komitmen bersama Bupati Tapanuli Utara, Wali Kota Jakarta Barat, Bupati Wajo dan Wali Kota Ambon.

Semakin spesial saja, Noormiliyani merupakan satu-satunya perempuan di antara 5 kepala daerah tersebut.

“Penunjukkan dalam pembacaan komitmen ini sedikit banyak menunjukan perhatian Pemerintah Pusat atas upaya pencegahan stunting di Batola,” sahut Noormiliyani.

Tentu bukan kebetulan Noormiliyani dipercaya membacakan komitmen tersebut. Diyakini indikator utama yang mendasari adalah penurunan persentase stunting di Batola.

Hingga Agustus 2020, data stunting yang terekam di Batola berjumlah 16,58 persen atau di bawah prevalensi 20 persen.

Pencapaian itu menempatkan Batola di peringkat keenam dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

Peringkat teratas diduduki Banjarmasin dengan 6,04 persen, diikuti Tanah Bumbu 6,58 persen, Hulu Sungai Selatan 7,23 persen, Tanah Laut 10,06 persen, dan Hulu Sungai Tengah 11,05 persen.

Namun demikian, catatan Banjarmasin belum menggambarkan angka keseluruhan. Penyebabnya penginputan data baru mencapai 70 persen.

Sebaliknya 16,58 persen yang dicatatkan Batola merupakan hasil penginputan 80 persen. Dengan demikian, gambaran minimal jumlah stunting di Bumi Selidah sudah terlihat nyata.

Pun 16,58 persen menjadi penurunan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Faktanya berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, persentase stunting di Batola mencapai 47,6 persen.

Kemudian berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017, persentase stunting di Batola menurun hingga 36,3 persen.

Lantas menggunakan sistem elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) 2019, persentase yang dibukukan Batola menurun lagi hingga 22,0 persen.

Bukan tidak mungkin 16,58 persen yang dicatatkan Batola hingga Agustus 2020 terus menurun, seiring totalitas pencegahan stunting dari Pemerintah Pusat.

Dalam Rakorteknas itu, Kementerian Keuangan menjanjikan alokasi belanja Rp27,5 triliun untuk diberikan kepada kementerian/lembaga demi percepatan penanganan stunting.

Rinciannya Rp1,8 triliun untuk intervensi spesifik, Rp24,9 triliun dalam upaya intervensi sensitif dan Rp800 miliar sebagai dukungan koordinasi.

Belanja APBN tersebut diberikan kepada 20 kementerian/lembaga yang bertanggungjawab mencapai 86 output dalam rangka penurunan angka stunting di 260 kabupaten/kota.

Selain belanja kementerian/lembaga, anggaran itu juga dialokasikan kepada pemerintah daerah melalui Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).

Anggaran sebesar itu digunakan untuk memenuhi target prevalensi stunting nasional menjadi 14 persen hingga 2024.

Sementara hingga 2019, terdapat 27,7 persen atau sekitar 6,5 juta anak bawah lima tahun (balita) di Indonesia mengalami stunting atau keterlambatan perkembangan.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Pemkab Batola

Tiga Kades Dilantik, Begini Pesan Bupati Batola
apahabar.com

Pemkab Batola

Nuansa Penuh Warna di Festival Hijau III Ije Jela Bahalap
apahabar.com

Pemkab Batola

Doa Dari Batola Untuk Kelancaran Pelantikan Presiden
apahabar.com

Pemkab Batola

Minta Dikarantina, Pengidap Covid-19 Ngeluruk Rumah Camat Marabahan
apahabar.com

Pemkab Batola

Akhirnya Dapat Buku Nikah, Pasangan dari Tamban Batola ini Tak Lagi Kebingungan
apahabar.com

Pemkab Batola

Tekan Zona Merah di Batola, Dua Kecamatan Jadi Target Pendisiplinan Protokol Kesehatan
apahabar.com

Batola

Berlangsung Serentak, Pemilihan BPD di Batola Pakai Mekanisme Baru
apahabar.com

Pemkab Batola

DPRD Batola Rampungkan Dua Raperda
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com