Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Terparah, Walhi-Jatam Sepakat Class Action Data Lengkap Korban Longsor Mantewe Tanah Bumbu, Dari Amuntai hingga Kapuas Banjir Kalsel Berbuntut Panjang, Lawyer Banua Ancam Gugat Paman Birin Banjir Kalsel, Warga Kompleks Elite Nyinyir Rumah Miliaran “Calap Jua” Berakhir Hari Ini, Pembatasan Banjarmasin Ambyar Diterjang Banjir

Dongkrak Pertanian Indonesia, Uni Eropa Gelontorkan Rp 16,6 Miliar

- Apahabar.com Sabtu, 17 Oktober 2020 - 13:48 WIB

Dongkrak Pertanian Indonesia, Uni Eropa Gelontorkan Rp 16,6 Miliar

Ilustrasi pertanian. Foto-Antara

apahabar.com, JAKARTA – Uni Erofa menggelontorkan anggaran Rp 16.6 miliar, untuk mendongkrak pertanian Indonesia. Proyek itu bertajuk Promoting Green Economic Initiatives by Women and Youth Farmers in the Sustainable Agriculture Sector in Indonesia (ECHO Green) yang akan berakhir pada tahun 2022.

Proyek ini diluncurkan oleh Yayasan Penabulu bersama Konsorsium pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KpSHK), Konsil LSM Indonesia dan ICCO Cooperation melalui webina bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia pada Jumat, 16 Oktober 2020.

Kegiatan itu diselenggarakan bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Kementerian Pertanian, dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Direktur Yayasan Penabulu, Eko Komara menyebut, proyek ECHO Green akan meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil (CSO) dan sektor swasta untuk memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan. Serta untuk memastikan keterlibatan perempuan dan petani muda dalam perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan.

Proyek ini memberikan dukungan teknis kepada 120 CSO, 100 petani perempuan, 100 petani muda, dan 100 desa di delapan kecamatan di tiga kabupaten di Indonesia, yaitu Padang Pariaman (Sumatera Barat), Grobogan (Jawa Tengah) dan Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat).

Proyek ini bertujuan untuk ekonomi hijau yang inovatif dengan perempuan dan kaum muda berada di garis depan.

“ECHO Green dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk pencapaian TPB (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) di daerah,” katanya dikutip apahabar.com dari Viva, Sabtu (17/10).

Menurut Eko, perempuan dan kaum muda memiliki peran penting dalam bidang pemberdayaan sumber daya manusia, dan menjadi motor pembangunan di era teknologi informasi 4.0.

Eko menjelaskan, ECHO Green memiliki ambisi untuk meningkatkan ekonomi hijau, khususnya di bidang pertanian sebagai sektor andalan untuk menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan, mewujudkan kedaulatan dan keberlanjutan pangan, serta memperkenalkan pendekatan yang lebih inklusif bagi semua pihak

National Program Manager ECHO Green, Dida Suwarida menambahkan, proyek tersebut akan memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan konsep ekonomi hijau kepada masyarakat penerima manfaat di Kabupaten Padang Pariaman, Lombok Timur, dan Grobogan.

“Virus Corona berisiko bagi masyarakat. Wabah virus memberikan keyakinan kepada kita bahwa perempuan dan kaum muda harus mengambil peran untuk mengamankan masa depan kita,” katanya

Menurut Ida, tanpa optimalisasi teknologi digital, pandemi akan menyebabkan kurangnya minat terhadap pertanian berkelanjutan serta terhambatnya distribusi dan rantai produksi, pemasaran dan konsumsi

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020?2024, pemerintah mencatat isu peningkatan kebutuhan pangan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk sebesar 1,2 persen.

Namun produktivitas yang relatif rendah dan fluktuasi harga menyebabkan daya tawar petani rendah. Proyek ECHO Green sejalan dengan agenda prioritas pembangunan nasional untuk tahun 2020?2024.

Uni Eropa Sebut Pembangunan Berkelanjutan Adalah Sebuah Pencapaian

Terpisah, Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket mengatakan, Uni Eropa merasa bangga mendukung proyek tersebut.

“Bagi kami, ekonomi hijau yang inklusif adalah bagian dari pencapaian TPB (tujuan pembangunan berkelanjutan),” katanya dalam jumpa pers yang berlangsung secara daring.
Menurutnya, dengan menerapkan prinsip ekonomi hijau dan inklusif di sektor pertanian akan meningkatkan produktivitas pertanian, menciptakan pendapatan, dan mengurangi ketimpangan dan kemiskinan.

Vincent menyebut, perempuan dan petani muda memainkan peran penting dalam komunitas pertanian lokal. “Melatih mereka menggunakan teknologi pertanian modern akan meningkatkan ketahanan pangan dan nutrisi. Hal ini akan membantu membangun pertanian jangka panjang dan berkelanjutan,” ujarnya

Dengan demikian, kata Vincent proyek diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi warga Padang Pariaman, Grobogan, dan Lombok Timur.

Editor: M Syarif - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Masuk Tahun Politik, JK: Jangan Lupakan Ekonomi
apahabar.com

Nasional

Gugus Tugas soal Mudik, Doni: Tetap Dilarang, Titik! 
apahabar.com

Nasional

Mendikbud Klarifikasi Soal Sekolah Dibuka Juli
apahabar.com

Nasional

Jika Ingin Fokus, KPK Usul Jokowi Bentuk Kementerian Baru Khusus Cegah Korupsi  
apahabar.com

Nasional

Bahas Isu Aneksasi Palestina, Menlu RI Akan Ikuti Pertemuan OKI
apahabar.com

Nasional

Motor Listrik Jokowi Akan Dilelang di Konser Virtual Bimbo

Nasional

Keberadaan Habib Rizieq Masih Misterius
apahabar.com

Nasional

Jelang 22 Mei, Polda Lampung Kirim Pasukan ke Jakarta
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com