Mahasiswanya Positif Covid-19, Kampus FISIP ULM Banjarmasin Lockdown Selama Sepekan Larang Anggota Fraksi ke Luar Daerah, Golkar Targetkan Kemenangan BirinMu 70 Persen Sembuh dari Covid-19, Sugianto Hadir di Kampanye Penutup Jelang Pencoblosan, Ratusan Anggota Fraksi Golkar Se-Kalsel Siap Awasi Money Politics Aduuuuuuuuuh ai, Viral Bocah di Tapin Ngamuk-Buang Motor Saat Ditilang Polisi

Emas Melorot, Ini Alasannya

- Apahabar.com Selasa, 20 Oktober 2020 - 10:57 WIB

Emas Melorot, Ini Alasannya

Ilustrasi Sumber: net

apahabar.com, JAKARTA – Harga emas di pasar spot melorot 0,1%, Selasa (20/10).

Pada 08.35 WIB, harga logam mulia emas dibanderol di US$ 1.901,96/troy ons. Pada perdagangan kemarin, harga emas ditutup di US$ 1.904,27/troy ons.

Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh analis CommerzbankDaniel Briessman, pergerakan harga emas dipengaruhi oleh tiga hal, yakni diskusi soal stimulus, kenaikan kasus Covid-19 dan juga Brexit.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Ketua DPR AS Nancy Pelocy kembali berdiskusi dan diharapkan keputusan apakah pengesahan RUU stimulus ekonomi lanjutan di AS dapat disahkan sebelum pemilu atau setelah pemilu bisa diputuskan Kamis pekan ini.

Apabila ada kesepakatan soal stimulus dan bisa disahkan dalam waktu dekat tentu menjadi sentimen positif di pasar dan bakal mendongkrak harga emas. Emas sudah menguat lebih dari 25% sepanjang tahun ini akibat masifnya stimulus yang digelontorkan pemerintah maupun bank sentral.

Ancaman inflasi yang tinggi di masa depan akibat pasokan dan harga uang yang rendah serta yield riil aset safe haven (minim risiko) lain seperti obligasi pemerintah AS yang sudah negatif membuat opportunity cost memegang aset tak bertimbal hasil seperti emas menjadi lebih rendah.

Di sisi lain kasus infeksi Covid-19 yang terus meningkat di seluruh dunia semakin mencemaskan dan membuat prospek perekonomian global menjadi suram.

“Emas memulai minggu baru perdagangan sedikit lebih kuat pada US$ 1.900 per troy ounce. Harga emas mendapatkan dukungan dari kenaikan tajam dalam kasus virus corona baru, yang memicu kekhawatiran di antara para pelaku pasar,” kata Briessman, mengutip Kitco.

Lalu beralih ke Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan Negeri Ratu Elizabeth harus bersiap untuk menerima Hard Brexit jika Uni Eropa tak menyetujui perjanjian perdagangan bebas.

“Minggu-minggu berikutnya akan menunjukkan apakah kedua belah pihak dapat bertemu satu sama lain dan bisa mengambil jalan tengah dan menghindari kerusakan [ekonomi] yang lebih substansial. Emas harus mendapat untung dari ketidakpastian ini, menurut pendapat kami,” kata Briesemann.

Kembali ke AS, perhelatan akbar pemilu kurang dari dua minggu lagi. Pasar juga mengantisipasinya. Siapapun yang bakal menjadi Presiden Negeri Adikuasa, harga emas diperkirakan bakal lanjut reli.

Namun jika Joe Biden dari Partai Demokrat yang menang, ada kemungkinan reli emas lebih kencang karena Partai Biru AS tersebut cenderung lebih berani ‘menghamburkan’ uang. Hal ini terlihat dari usulan nominal stimulus yang diajukan sangatlah besar.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Catatan BPS Khusus Hotel Berbintang di Kalsel
apahabar.com

Ekbis

Kontrak Baru Pertamina di Rig Hakiryu Senilai 96 Juta Dolar
apahabar.com

Ekbis

Suku Bunga BI Diputuskan Tetap 4,5 Persen
apahabar.com

Ekbis

Keputusan Tata Motors Pertahankan atau Lepas Jaguar Land Rover
apahabar.com

Ekbis

Lenovo Kenalkan Laptop Yoga C930  di Indonesia
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Menguat Didorong Sentimen Positif di Pasar Keuangan
apahabar.com

Ekbis

Didorong Potensi Stimulus Fiskal AS, Rupiah Hari Ini Berpeluang Menguat
apahabar.com

Ekbis

Pemerintah Perpanjang Bansos hingga 2021
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com