Usai Beasiswa 1000 Doktor, SHM Bakal Cetak Ribuan Sarjana Baru di Tanah Bumbu Sederet Prestasi Niha, Hafizah Cilik Kotabaru dari MTQ Tingkat Kabupaten hingga Provinsi Polisi Anulir Pernyataan Status Tersangka Dua Mahasiswa Kalsel 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Paula Verhoeven Hamil, Kiano Bakal Punya Adik, Baim Wong Ingin Mak Beti Ucapkan Selamat ke Sang Istri

Keterangan Pembunuh Istri Muda Pembakal Ada Perbedaan, Hakim Minta Penyidik Polisi Dihadirkan

- Apahabar.com Selasa, 6 Oktober 2020 - 20:29 WIB

Keterangan Pembunuh Istri Muda Pembakal Ada Perbedaan, Hakim Minta Penyidik Polisi Dihadirkan

Sidang perdana kasus pembunuhan Latifah (31) istri muda Pembakal Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah (HST) yang menghadirkan terdakwa, R (15) berlangsung tertutup untuk umum di PN Barabai. Foto-apahabar.com/HN Lazuardi

apahabar.com, BARABAI – Sidang perdana kasus pembunuhan Latifah (31) istri muda Pembakal Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah (HST) yang menghadirkan terdakwa, R (15) berlangsung tertutup untuk umum di Pengadilan Negeri (PN) Barabai, Selasa (6/10).

Berdasarkan informasi yang diterima apahabar.com, sejumlah fakta kematian Latifah (31), istri siri Pembakal Desa Patikalain tersebut mulai diungkap satu persatu di persidangan.

Pantauan apahabar.com, pada sidang tertutup tersebut diagendakan pembacaan dakwaan dan pemeriksaan saksi-saksi.

Saat pemeriksaan saksi-saksi juga dihadirkan terdakwa, R yang tak lain adalah anak tiri Latifah atau anak dari istri pertama pembakal sendiri.

Ada 7 saksi yang di periksa di ruang sidang itu. Antara lain, ibu korban, Sainah dan Ayah R atau pembakal dan anggota polisi serta saksi-saksi yang menemukan dan melihat kondisi kematian korban.

Informasi dihimpun apahabar.com, ada keterangan berbeda dari R. Disebutkan keterangan R berbeda dari BAP Penyidik Polisi.

Sesuai BAP, R disebutkan membacok wanita yang tengah hamil 9 bulan itu sebanyak 7 kali. Sementara saat di meja hijau, R mengaku hanya membacok satu kali.

“Persidangan masih berjalan sesuai Undang-Undang SPPA, untuk agenda selanjutnya majelis akan memanggil saksi verbal lisan [penyidik polisi] yang memeriksa terdakwa untuk menjelaskannya [perihal keterangan terdakwa-red],” kata Juru Bicara PN Barabai, Ariansyah ditemui apahabar.com, Selasa (6/10) sore.

Umumnya dari sejumlah informasi, dalam pengadilan, saksi verbal lisan atau penyidik, akan dimintai keterangan terkait keabsahan dalam mendapatkan alat bukti. Bagaimana tata cara mendapatkan alat bukti, sesuai hukum acara atau tidak.

Menurut Ariansyah, pertimbangan memanggil saksi verbal tadi penting. Mengingat antara pengakuan R dan BAP berbeda.

“Karena itu kami meminta JPU [Jaksa Penuntut Umum] menghadirkan saksi verbal,” kata Ariansyah.

Majelis juga menanyakan, sosok Ry atau rekan terdakwa yang ikut menemani terdakwa ke rumah korban. Hal itu terus disebut dalam persidangan dan dalam keterangan terdakwa di BAP.

Diketahui, sosok Ry datang bersama terdakwa dari pesan WhatsApp korban kepada ibunya pada 11 September pukul 18.57. Korban menyebut R dan keponakan pembakal datang ke rumah.

“Sosok Ry ini juga ada yang melihat di TKP. Kok tidak ada [orangnya] di-BAP. Kemudian soal sajam yang digunakan. Katanya sajam itu punya ayah R [pembakal], kenapa bisa ada di situ [rumah Latifah]. Majelis hakim perlu mengetahui,” tutup Ariansyah.

Menjawab hal itu, JPU Prihanida Dwi Saputra mengatakan, sosok Ry ini memang statusnya pernah menjadi saksi. Beberapa kali dipanggil, tidak pernah hadir memenuhi panggilan dalam kapasitasnya sebagai saksi.

“Ry sudah dipanggil secara atau proses hukum acara tapi orangnya tidak ada. Ada surat keterangan dari Pembakal daerahnya yang menyebutkan Ry ini sudah pindah. Jadi dia lepas demi hukum,” kata Hanida ditemui terpisah.

Sementara peradilan anak ini, lanjut Hanida harus dilakukan cepat dan waktu penahanan sangat terbatas sesuai Undang-Undang SPPA.

“Ketika JPU memiliki alat bukti dan tersangka sudah ada, kita menggunakan alternatif bukti lain seperti keterangan saksi yang menerima penyerahan R ke Polsek Hantakan. Dari saksi-saksi lain memang mengarah ke tersangka tunggal berdasarkan bukti-bukti,” terang Hanida.

Masa penahan R (15) oleh PN hanya berlangsung 10 hari ditambah 15 hari oleh ketua majelis. Jika lebih dari itu maka terdakwa R harus dilepas.

“Misalkan harus didapatkan si Ry, iya kalau dapat soalnya masa perpanjangan penahanan anak tidak boleh diperpanjang,” jelas dia.

Lantas bagaimana bisa ada sajam milik Pembakal HST di rumah Latifah?

“Sesuai BAP sajam itu memang ditinggal di situ oleh pembakal. Dan tersangka memang tidak membawa sajam, dan sifat kejadian ini insidentil [berdasarkan BAPAS-red]. R emosi [terpancing amarah dengab kata-kata korban yang menghina ibu kandungnya-red] dan memang temperamen,” tutup Hanida.

Perlu diketahui, dalam sidang perdana hingga diputuskannya perkara di PN Barabai, terdakwa terus didampingi pengacara atau penasihat hukum dan petugas dari BAPAS serta orang tua terdakwa. Hal ini sesuai dengan Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA.

Agenda persidangan yang kedua dijadwalkan pada Rabu (7/10).

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hukum

Pemabuk Rusak Pot Bunga Senilai Rp7,7 Juta Diamankan
apahabar.com

Hukum

Sakit Hati Dicerai, Motif Mantan Suami Bunuh Sekeluarga
apahabar.com

Hukum

Simpan Sabu, Pria di Teluk Dalam Ditangkap Polisi
apahabar.com

Hukum

KPK Sita Uang Ratusan Juta dari Ruang Menag
apahabar.com

Hukum

Tertangkap di Banjarmasin, Pelarian Maling HP dari Tabalong Berakhir
apahabar.com

Hukum

Bawa Sajam, Petani Simpur Kandangan Diamankan
apahabar.com

Hukum

Puluhan Pengendara Terjaring Razia di Teluk Tiram
apahabar.com

Hukum

Jual Sabu ke Polisi, Dua Pria Banyiur Terancam 5 Tahun Penjara
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com