Tak Cuma Wali Rakyat, Wali Kota Banjarmasin Juga Minta Mobdin Baru! Fakta Baru Pengeroyokan Wildan: Pelaku Habis Minum Gaduk, Tapi Tak Berani Lawan Korban Sendirian Tak Sempat Telan Sabu, Warga Amuntai Keburu Diringkus Satresnarkoba HSU Pemerintah Tetapkan 1,3 Juta Formasi CPNS 2021 Pandemi Covid-19, Wakil Rakyat Banjarmasin Malah Minta Mobil Baru

Ketika Desa Haratai-Loksado Tutup, Sorang Warga Kotabaru Jalani Sanksi Adat

- Apahabar.com Selasa, 13 Oktober 2020 - 18:09 WIB

Ketika Desa Haratai-Loksado Tutup, Sorang Warga Kotabaru Jalani Sanksi Adat

Air Terjun Haratai, salah satu objek wisata andalan Kabupaten HSS di Desa Haratai, Kecamatan Loksado. Foto-apahabar.com/Ahc27

apahabar.com, KANDANGAN – Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) memberlakukan isolasi dengan dasar aturan adat sejak April hingga September 2020 lalu.

Siapapun warga luar Kecamatan Loksado, dilarang memasuki wilayah Desa Haratai. Melanggar aturan itu, bisa dikenai sanksi adat berupa denda maksimal Rp 1 juta, serta melakukan ‘bapalas’ atau menyerahkan besi berupa pisau atau parang.

Sejak ditutup itu, banyak orang luar baik yang berwisata maupun berdagang, terpaksa mengurungkan niat berkunjung ke Desa Haratai.

Ada yang bersikeras ingin masuk dengan beradu argumen, bahkan ada yang nekat masuk sampai terkena sanksi.

“Ada, pada pertengahan September lalu seorang yang berkeras diri masuk wilayah kami,” ungkap Kepala Desa (Kades) Haratai, Marto kepada apahabar.com, Selasa (13/10).

Marto mengatakan, pihaknya sudah menerangkan sebelumnya sudah ada aturan adat tertulis terkait isolasi wilayah desa.

apahabar.com

Kades Haratai Marto mengisahkan aturan adat terkait larangan masuk bagi warga luar Kecamatan Loksado. Foto-apahabar.com/Ahc27

“Dia mengaku warga Tanjung (Kabupaten Tabalong), namun tidak mau memperlihatkan KTP dengan alasan tidak membawa,” ungkapnya.

Pihaknya tetap tidak mengizinkan masuk, ternyata orang tersebut tetap masuk dan bermalam di objek wisata Air Terjun Haratai.

“Langsung (waktu) subuh didatangi, dan diberlakukan sanksi adat. Setelah diperiksa identitasnya, ternyata dia warga Kabupaten Kotabaru,” terangnya.

Kemudian, pihaknya membawa orang itu ke posko penjagaan. Karena tidak mampu membayar ungkapnya, akhirnya orang itu hanya diminta menyerahkan jam tangan.

“Ibaratnya, maninggal wasi (menyerahkan besi, red) biarpun bukan parang, boleh saja digantikan dengan jam tangan karena sama terbuat dari besi,” ujarnya.

Akhirnya orang itu, langsung pulang setelah berurusan dengan adat tersebut.

Selain itu sebutnya, ada oknum yang bersikeras sampai mencatut nama aparat berpangkat tinggi. Marto berujar, pihaknya hanya menjalankan aturan adat yang tidak bisa dilanggar.

Kini, Desa Haratai sudah bisa dikunjungi lagi. Pasalnya, kesepakatan bersama kembali, sejak 1 Oktober 2020 aturan adat resmi berakhir.

Kendati demikian, ia mengimbau pengunjung yang memasuki desanya, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan. Hal itu, untuk menghindari penularan Covid-19 pada warganya.

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Mulai Gerah, Denny Indrayana Minta Bawaslu RI-DKPP Turun Gunung
apahabar.com

Kalsel

Kesal Kena Razia, Sopir Ini Protes, Minta Dibikinkan Pintu Gerbang Tinggi 2,5 Meter
apahabar.com

Kalsel

“Hutan segala Rindu”, Sebuah Napas Bagi He Benyamine
apahabar.com

Kalsel

Kondisi Banjarmasin Pasca Supersemar (3), Bentuk Front Pancasila
apahabar.com

Kalsel

Mengantuk, Tiang Listrik di Skip Lama Ditabrak hingga Roboh
apahabar.com

Kalsel

Rutan Klas IIB Pelaihari Gelar Isra Miraj dan Haul Guru Sekumpul
apahabar.com

Kalsel

Go Jukung Antar Fikri Juara Pertama Stand Up Comedy apahabar.com
apahabar.com

Kalsel

BREAKING NEWS! Kabar Duka, Ananda Suami Mama Lita MasterChef Meninggal Dunia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com