Usai Beasiswa 1000 Doktor, SHM Bakal Cetak Ribuan Sarjana Baru di Tanah Bumbu Sederet Prestasi Niha, Hafizah Cilik Kotabaru dari MTQ Tingkat Kabupaten hingga Provinsi Polisi Anulir Pernyataan Status Tersangka Dua Mahasiswa Kalsel 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Paula Verhoeven Hamil, Kiano Bakal Punya Adik, Baim Wong Ingin Mak Beti Ucapkan Selamat ke Sang Istri

Manfaat Minum Kopi Menurut Ulama Islam di Abad Pertengahan

- Apahabar.com Sabtu, 17 Oktober 2020 - 13:54 WIB

Manfaat Minum Kopi Menurut Ulama Islam di Abad Pertengahan

Ilustrasi kopi. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Umat Islam di abad pertengahan mengemukakan manfaat kopi.

Diketahuik, selain kelompok sufi, para jamaah haji juga berjasa dalam memopulerkan kopi ke seluruh dunia. Abdul Qadir al-Jaziri, yang menulis Umdat Al-Safwa pada 1587, menceritakan penyebaran kopi di dunia Islam. Katanya, kopi sampai di Makkah pada abad ke-15.

Kedai-kedai kopi marak bermunculan di kota yang selalu ramai tiap musim haji. Pengunjungnya tidak hanya dari kalangan warga setempat, tetapi para jamaah haji dari berbagai ne geri. Mereka mencicipi kopi dan terkesan akan rasa minuman tersebut.

Abdul Qadir juga menuliskan ihwal persiapan, penggunaan, kebaikan, dan manfaat dari meminum kopi. Dikatakannya pula, setelah kopi mencapai Makkah dan Madinah, para jamaah haji dan para pedagang menyebarkannya ke wilayah Islam lainnya.

Hanya saja, keberadaan kedai-kedai mulai mengundang kecurigaan rezim penguasa. Ada tuduhan bahwa kedai berperan sebagai titik temu kelompok-kelompok yang ingin menghasut tatanan politik masyarakat. Karenanya, cukup banyak kedai yang dipaksa tutup, termasuk kasus pada 1511.

Benih-benih dari apa yang kini marak disebut sebagai parisian café sudah tampak pada zaman keemasan Islam. Abdul Qadir dalam karyanya tersebut menyuarakan arti penting kedai-kedai kopi sebagai tempat pertemuan publik.

Di dalamnya, orang-orang dapat bertemu, mengobrol, bertukar pikiran, atau bahkan mengadakan diskusi tentang suatu persoalan publik. Tidak mengherankan bila kedai-kedai kopi pada masa itu banyak menjadi magnet bagi kaum Muslim dari kalangan cendekiawan dan penulis.

Dilansir apahabar.com dari Republika, kopi menjadi minuman yang terkenal hampir di seluruh negeri Arab yang dikuasai Dinasti Turki Usmani. Sebut saja, Mesir, Suriah, dan Irak. Sumber mengatakan, kopi masuk ke Mesir melalui tangan seorang mahasiswa asal Yaman yang belajar di Universitas al-Azhar pada abad ke-16.

Dia membawa bahan minuman itu untuk membantu meningkatkan stamina saat berzikir dan belajar tiap malam. Di Turki sendiri, kedai kopi pertama bernama Kiva Han yang berdiri di Istanbul pada 1475. Sejak abad ke-17, popularitas kopi mulai menggurita hingga ke Eropa, melalui Venice, Marseilles, Amsterdam, London, dan Wina.

Editor: M Syarif - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Kewafatan Habib Merah Terbilang Mengejutkan, Begini Penuturan Murid Beliau
apahabar.com

Religi

Apa Kebahagiaan Itu? Berikut Penjelasannya!
apahabar.com

Habar

Tabligh Akbar UAS di Masjid Al Karomah Martapura, Ribuan Jemaah Menyemut
apahabar.com

Habar

Sambut Ramadan; Marbut Masjid Raya Sabilal Muhtadin Dituntut Bekerja Ekstra
apahabar.com

Habar

Demi Kenyamaan Jemaah Haul Guru Sekumpul, Ini yang Dilakukan DLH Banjar
Populasi Muslim Rusia Diprediksi 50 Persen di 2050

Habar

Populasi Muslim Rusia Diprediksi 50 Persen di 2050
apahabar.com

Habar

Bayar Zakat Fitrah Bisa dengan Uang, Begini Penjelasan Kemenag Banjarmasin
apahabar.com

Habar

THR Gratis untuk Hafalan Alquran
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com