Debat Ke-2 Pilbup Tanbu: “Wakil Komitmen” HM Rusli Bikin Bingung Alpiya, Mila Karmila Speechless PN Martapura Putuskan Camat Aluh-Aluh Melanggar Netralitas ASN Kembali, Duta Zona Selatan Batola Memenangi Atak Diang Kawal Pilkada Serentak, Polda Kalsel Komitmen Tegakkan Netralitas Tapin Berpotensi Tinggi di Sektor Energi Terbarukan, Pertanian, dan Parawisata

Menko Muhadjir Effendy Sebut Rokok Hambat Siklus Pembangunan Manusia

- Apahabar.com Sabtu, 24 Oktober 2020 - 16:06 WIB

Menko Muhadjir Effendy Sebut Rokok Hambat Siklus Pembangunan Manusia

Ilustrasi rokok. Foto-Shutterstock

apahabar.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menyoroti rokok menjadi salah satu penghambat pembangunan SDM.

“Salah satu yang bisa menjadi penghambat di dalam setiap siklus pembangunan manusia itu adalah rokok,” ujar Muhadjir dalam siaran pers dari Kemenko PMK, Sabtu (24/10/2020).

Hal ini disampaikan Muhadjir saat menjadi narasumber dialog bertema ‘Mewujudkan Anak dan Remaja Unggul Melalui Pengendalian Konsumsi Rokok yang Kuat dan Berdampak’ yang diadakan Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI secara daring, Jumat (23/10) malam.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018, prevalensi perokok di atas usia 15 tahun mencapai 33,8 persen dan penduduk usia 10-18 tahun meningkat dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 9,1 persen pada 2018. Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah pria dewasa perokok tertinggi ketiga di dunia, di bawah China dan India.

Muhadjir menyebut rokok bukan hanya merusak aspek kesehatan, tapi juga mengancam keberlanjutan pembangunan SDM. Rokok dinilai sebagai ranjau yang menjadikan pembangunan kualitas manusia Indonesia terganggu.

“Rokok juga berpengaruh terhadap perilaku manusia menjadi tidak berkeadilan serta tidak mendukung pemajuan kebudayaan bangsa. Itulah mengapa secara umum, masalah rokok menjadi perhatian dan komitmen Kemenko PMK,” kata Muhadjir, kutip apahabar.com dari Detikcom.

Polemik rokok juga terjadi lantaran dinilai sebagai salah satu penghasil devisa tertinggi bagi negara. Padahal jumlah kerugian yang disebabkan oleh penyakit akibat rokok nilainya jauh lebih besar ketimbang pemasukan yang dihasilkan negara dari rokok.

Kematian dini dan morbiditas akibat merokok telah menjadi beban signifikan pada sistem kesehatan nasional dengan menghabiskan biaya kesehatan diperkirakan USD 1,2 miliar atau Rp 17,46 triliun per tahun.

Rokok juga diperkirakan dapat membunuh sekitar 226 ribu jiwa atau 14,7 persen dari total kematian orang Indonesia setiap tahun.

“Masalah rokok ini harus ditangani secara intensif, termasuk membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menurunkan angka prevalensi rokok serta meminimalkan dampaknya di segala aspek yang dapat mengganggu pembangunan kualitas SDM Indonesia,” ujar Muhadjir.

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Hari Ini Karangan Bunga Hiasi Halaman Istana
apahabar.com

Nasional

Nah, RSPON Terima 350 Pasien Stroke Tiap Hari!
apahabar.com

Nasional

Produsen Alutista Dalam Negeri Optimis Tembus Pasar Filipina
apahabar.com

Nasional

8 Rumah Sakit di Bogor Putus Kontrak dengan BPJS Kesehatan
Kemenkes: PSBB Depok, Bogor, Bekasi Sudah Disetujui

Nasional

Kemenkes: PSBB Depok, Bogor, Bekasi Sudah Disetujui
apahabar.com

Nasional

Banjir Jabodetabek, Basarnas Kirim Pasukan SAR ke Jakarta
apahabar.com

Nasional

Tegakkan Protokol Kesehatan, Jokowi Libatkan TNI/Polri
apahabar.com

Nasional

Panik Mendengar Air Laut Surut, Warga Mengungsi Amankan Diri
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com