Paula Verhoeven Hamil, Kiano Bakal Punya Adik, Baim Wong Ingin Mak Beti Ucapkan Selamat ke Sang Istri 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Hasil Liga Champions, Tanpa Ronaldo Juventus Ditekuk Barcelona, Messi Cetak Gol, Skor Akhir 2-0 Alasan Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin Terancam Batal Beredar Video 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah Saat Demo Anti UU Omnibus Law, Sosok Pelaku Terekam?

Remdesivir vs Obat Generik Murah Cegah Kematian Covid-19, Ini Kata Pakar

- Apahabar.com Sabtu, 10 Oktober 2020 - 17:45 WIB

Remdesivir vs Obat Generik Murah Cegah Kematian Covid-19, Ini Kata Pakar

Remdesivir. Foto-iStock

apahabar.com, JAKARTA – Indonesia siap menggunakan remdesivir sebagai obat untuk pasien Covid-19 dalam perawatan. Apa bedanya dengan obat generik yang murah?

Menurut pakar, obat generik yang lebih murah justru bisa menurunkan potensi kematian pasien Covid-19.

“Berdasarkan penelitian hingga saat ini, untuk pasien Covid-19 yang sangat kritis, remdesivir tidak mungkin mengubah kelangsungan hidup (mencegah kematian) atau kebutuhan ventilasi mekanis,” kata dr Dicky Budiman dikutip apahabar.com dari detikcom, Sabtu (10/10).

Dicky adalah dokter sekaligus epidemiolog, lulusan Dokter Umum Universitas Padjadjaran, master epidemiologi Universitas Griffith Australia, dan pernah menjadi Kepala Kerjasama Teknik dan Perjanjian Internasional Biro Perencanaan Kementerian Kesehatan, serta pernah menjadi Kepala Kerjasama Bilateral Pusat Kerjasama Luar Negeri Kemenkes. Dia juga pernah menjadi sekretaris Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI.

Soal remdesivir sebagai obat Covid-19, Dicky merujuk pada laporan akhir uji coba remdesivir yang diterbitkan The New England Journal of Medicine. Pasien yang menerima remdesivir memiliki waktu pemulihan rata-rata 10 hari dibandingkan 15 hari pada kelompok plasebo. Namun perbedaan kematian tidak signifikan secara statistik pada hari ke-15 dan ke-29.

Pada hari ke-15, angka kematian pasien adalah 6,7% (remdesivir) dan 11,9% (plasebo); pada hari ke-29, tingkat kematian adalah 11,4% (remdesivir) dan 15,2%(plasebo).

“Pasien berusia 18 sampai 40 tahun dan mereka yang memiliki gejala kurang dari 10 hari sebelum pengobatan dimulai adalah yang paling mungkin mendapat manfaat dari remdesivir,” kata Dicky.

Laporan yang dimuat di The New Englang Journal of Medicine pada 22 Mei 2020 menunjukkan remdesivir hanya efektif dalam menurunkan jumlah lama rawat dari 15 hari dari kelompok plasebo menjadi 11 hari pada kelompok yang diberi remdesivir.

“Satu-satunya obat hingga saat ini yang terbukti menurunkan mortalitas (kematian) tetaplah deksametason, obat generik dan murah,” kata Dicky.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan remdesivir tidak dijual bebas. Remdesivir diperuntukkan bagi perawatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan.

Remdesivir sudah tiba di Indonesia sejak 24 September. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ri telah memberikan izin penggunaan obat remdesivir peada PT Amarox Pharma Global, PT Indofarma, dan PT Dexa Medika.

Editor: M Syarif - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kesehatan

Covid-19 Mengalami Perubahan Genetik, Terdapat 7 Strain
apahabar.com

Kesehatan

Uang Kertas Menyebarkan Covid-19, Benarkah?
apahabar.com

Kesehatan

Waspada Kanker Payudara Pria, Perokok Berisiko
apahabar.com

Kesehatan

Ibu Positif Covid-19 Bolehkan Beri ASI?

Kesehatan

Tubuh Keluarkan Keringat Berlebih di Malam Hari, Ketahui Sebabnya

Kesehatan

Cara Unik Deteksi Penyakit Melalui Suara, dari Depresi Hingga Jantung
apahabar.com

Kesehatan

Kenali Glaukoma pada Anak, Apa Penyebab dan Gejalanya?
apahabar.com

Kesehatan

Mengenal Kanker Tenggorokan yang Diidap Eddie Van Halen
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com