Respons BirinMu, Eks KPK dan HW Cs Jadi Panglima Gugatan II H2D di MK Duduk Perkara Heboh Piton Patuk Majikan di Q-Mall Banjarbaru Drama #SAVEKPK di Banjarmasin, Supian HK Dicari-cari Mahasiswa Kalsel Kalah Jumlah, Polisi Pastikan Aksi #SaveKPK di Banjarmasin Kondusif Skenario Kelolosan di Grup B dan C: Harapan Terakhir Denmark, Ukraina Cari Imbang

Studi Terbaru Ungkap Donor Plasma Kurang Efektif Obati Covid-19

- Apahabar.com Selasa, 27 Oktober 2020 - 00:24 WIB

Studi Terbaru Ungkap Donor Plasma Kurang Efektif Obati Covid-19

Ilustrasi tes darah. Foto-Pixabay via Antara

apahabar.com, JAKARTA – Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pasien Covid-19 yang menerima plasma dari pasien yang pulih dari corona tidaklah menurunkan angka risiko kematian akibat penyakit tersebut.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di India dan dipublikasikan di “BMJ” meneliti 464 orang dengan Covid-19 sedang, artinya mereka adalah pasien dengan kadar saturasi oksigen 93 persen atau lebih rendah saat bernapas di dalam ruangan, kriteria jika seseorang yang terinfeksi SARS-CoV-2 harus dirawat di rumah sakit, karena itu saat di mana virus bisa menimbulkan penyakit.

Aparna Mukherjee, seorang ilmuwan epidemiologi dan penyakit menular di Dewan Riset Medis India seperti dilansir Antara, mencatat bahwa pasien dalam studinya kemungkinan akan dianggap sakit parah di negara lain, karena definisi penyakit sangat bervariasi di seluruh dunia.

Begitu sampai di rumah sakit, beberapa pasien dalam penelitian ini menerima dua dosis plasma penyembuhan dari mereka yang telah sembuh dari penyakit dan menyumbangkan darah kaya sel kekebalan mereka.

Dibandingkan dengan mereka yang dirawat dengan perawatan standar, pasien yang diberi plasa rupanya memiliki rerata kematian setelah 28 hari.

“Studi ini memiliki ukuran sampel yang besar dan menunjukkan bahwa ketika plasma diinfuskan pada pasien dengan Covid-19 sedang [serupa dengan yang parah di negara lain], itu tidak mengurangi kematian atau perkembangan menjadi Covid-19 yang lebih kritis,” kata Aparna Mukherjee dikutip dari Time pada Senin (26/10).

Hasil studi ini menambah perdebatan berkelanjutan tentang seberapa berguna plasma penyembuhan kemungkinan bisa jadi pengobatan untuk Covid-19.

Plasma konvalesen adalah salah satu terapi tertua yang digunakan dokter dalam mengobati penyakit menular, berdasarkan gagasan bahwa orang yang terinfeksi dan pulih secara alami akan memiliki persediaan sel kekebalan yang tepat yang diperlukan untuk melawan virus atau bakteri tersebut.

Tetapi karena sistem kekebalan manusia sangat bervariasi, volume sel yang melawan penyakit juga tidak dapat diprediksi, dan dapat berkisar dari tingkat yang hampir tidak memadai hingga sumber sel kekebalan yang sangat kaya.

Variabilitas tersebut menyebabkan hasil yang bertentangan pada keefektifan terapi, termasuk dalam penelitian ini, yang menggunakan plasma donor dari orang yang sakit selama rata-rata enam hari dengan apa yang penulis gambarkan sebagai penyakit ringan.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

BMW

Gaya

BMW M1 milik mendiang Paul Walker “Fast and Furious” Dilelang
apahabar.com

Gaya

Coffee Mocktail, Tren Baru Minuman Kopi Kekinian

Gaya

Begini Cara Membedakan Gejala Covid-19 dengan Flu Biasa
apahabar.com

Gaya

Budaya Minum Kopi Kekinian
apahabar.com

Gaya

IDI Kalteng: Jangan Remehkan Protokol Kesehatan Covid-19
apahabar.com

Gaya

Akar Tanaman Herbal Dapat Tingkatkan Kekebalan Tubuh
apahabar.com

Gaya

Yurianto Jelaskan Pedoman Kegiatan di Kantor Selama Pandemi
apahabar.com

Gaya

Long Weekend Segera Berakhir, Begini Cara Kembalikan Semangat Kerja
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com