Temui Pacar, Begal Sadis di Gunung Kayangan Pelaihari Ditembak Petugas Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya

Tugas Selama Pandemi Penyebab Pelajar Bunuh Diri?

- Apahabar.com Selasa, 20 Oktober 2020 - 10:44 WIB

Tugas Selama Pandemi Penyebab Pelajar Bunuh Diri?

Ilustrasi: Tirto.id

Oleh: Siti Kurnia Khasanah

Seorang siswi SMA di Dusun Bontotene, Desa Bilalang, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan bunuh diri diduga karena depresi akibat tugas daring.

Peristiwa yang terjadi pada 17 Oktober 2020 itu mengejutkan berbagai pihak. Terutama bagi saya yang merupakan seorang guru. Saya lalu teringat pada murid-murid saya yang juga sedang melaksanakan pembelajaran daring. Apakah mereka baik-baik saja?

Saya lalu bersegera menyapa mereka melalui WhatsApp grup kelas. Alhamdulillah sampai saat ini belum ada yang memberi keluhan, semoga mereka benar-benar baik-baik saja.

Terkait tragedi siswa yang bunuh diri diduga depresi karena tugas dalam pembelajaran daring tersebut, seharusnya ini menjadi refleksi bagi berbagai pihak terutama guru. Apakah selama ini guru sudah memahami kondisi murid? Sudahkah guru menjalin komunikasi dengan orang tua murid selama pandemi? Apakah guru dalam memberikan tugas terlalu banyak dan memberatkan?

Sebelum melakukan pembelajaran hendaknya guru perlu memahami kondisi murid. Memahami kondisi murid tentunya akan sangat luas maknanya. Namun guru bisa membatasi pada beberapa aspek misalnya: pekerjaan orang tua, minat atau hobi murid, apakah murid memiliki gawai sendiri untuk pembelajaran, apakah ada kuota untuk pembelajaran, kapan waktu yang paling mereka sukai untuk belajar, aplikasi apa yang familer untuk mereka saat belajar daring, apakah mereka sedang banyak tugas, tinggal di daereh manakah mereka dan lainnya.

Untuk mendapatkan data tersebut seroang guru dapat melakukan survei ataupun dapat menggunakan angket yang diberikan pada siswa. Pengumpulan data ini dapat dilakukan di awal tahun pembelajaran atau bisa juga secara berkala misalnya setiap satu semester sekali, sehingga guru dapat mengetahui kondisi murid sebelum memberikan pembelajaran ataupun tugas-tugas. Dengan mengetahui kondisi murid, guru dapat meberikan pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kondisi mereka.

Sebagai contoh, bila dalam satu kelas terdapat anak yang tidak memiliki gawai atau pun kuota untuk pembelajaran daring, maka guru tidak perlu memaksa anak tersebut untuk ikut pembelajaran daring. Guru dapat memberikan pembelajaran secara offline misalnya berkunjung secara berkala ke rumah siswa. Bila tidak memungkinkan untuk berkunjung, guru juga bisa mengirimkan modul, materi, atau pun petunjuk belajar melalui kurir atau ekspedisi.
Kemudian jika ada di dalam saatu kelas, para muridnya ada yang memiliki bermacam-macam minat maka guru bisa menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi, misalnya ada siswa yang memiliki hobi menyanyi, bermain bola, atau menulis, maka kita bisa menggunakan media pembelajaran yang terkait dengan hobi anak-anak tersebut. Dengan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan minat murid maka dapat menambah ketertarikan murid dalam mengikuti pembelajaran.

Selanjutnya dalam pemberian tugas, guru juga harus memperhatikan tingkat perekonomian kedua orang tua murid. Sebelum memberikan tugas guru harus memikirkan biaya yang muncul akibat dari tugas tersebut. Bila mayoritas murid berasal dari keluarga menengah ke bawah maka tugas yang diberikan oleh guru baiknya tidak memerlukan biasa yang besar. Misalnya guru memberikan tugas untuk membuat poster, sebaiknya guru memberikan kelonggaran tentang alat yang digunakan untuk membuat dan mewarnai poster tersebut sesuai dengan alat atau bahan yang dimiliki siswa.

Selain itu, sebelum memberikan tugas, guru juga bisa menanyakan kepada murid apakah tugas mereka sudah banyak, bila tugas yang harus diselesaikan murid masih banyak, guru bisa menunda untuk meberikan tugas.

Kolaborasi dengan teman sejawat dalam memberikan tugas juga perlu dilakukan guru untuk mengurangi beban tugas murid. Misalnya guru bahasa Indonesia dan guru Senibudaya berkolaborasi memberikan tugas kepada murid untuk membuat poster, maka guru bahasa indonesia bisa menilai penggunaan kata-kata yang ada dalam poster tersebut, sedangkan guru seni budaya dapat memberikan nilai pada kreativitas gambarnya.

Dalam melakukan pembelajaran selama pandemi, selain memahami kondisi murid, komunikasi antara guru dan orang tua sangat diperlukan. Komunikasi ini sangat penting untuk membangun hubungan baik dalam penyampaian informasi atau pun untuk membentuk kesepakatan-kesepakatan baik antara guru, siswa, dan orang tua dalam pembelajaran.

Misalnya untuk menentukan waktu pembelajaran daring perlu kesepakatan antara murid, orang tua, dan guru, sebab ada siswa yang memakai gawai orang tua untuk mengikuti pembelajaran, sedangkan pada saat-saat tertentu terkadang gawai harus dibawa orang tua saat bekerja. Hal ini perlu kesepakatan bersama antara guru, murid dan orang tua.

Komunikasi dengan orang tua juga sangat diperlukan bila murid mengalami permasalahan selama pembelajaran daring. Misalnya ada siswa yang beberapa kali tidak mengikuti pembelajaran daring atau hilang komunikasi dengan guru, maka guru bisa menghubungi orang tua untuk mengkonfirmasi tentang kondisi anak. Setelah mengetahui kondisi murid dan permasalahannya tersebut, guru bersama orang tua bisa bersama-sama mencari solusi dan mengkomunikasinkannya dengan murid terebut, sehingga permasalahan dapat terselesaikan dengan kesepakatan bersama.

Bagaimanapun juga masa pandemi ini membuat berbagai pihak sedang belajar menyesuaikan diri untuk bertahan hidup dan dapat melewati pandemi. Tak terkecuali murid, oleh karena itu mamahami murid perlu dilakukan oleh seorang guru sebelum melaksanakan pembelajaran terutama di masa pandemi. Dengan lebih memahami kondisi murid, semoga dapat terjalin kesepakatan-kesepakatan baik antara guru, murid, dan orang tua yang dapat mendukung proses pembelajaran selama pandemi. Dengan adanya komunikasi dan kesepakatan-kesepakatan yang baik antara murid, guru, dan orang tua semoga tidak ada lagi murid yang merasa depresi apalagi bunuh diri saat melakukan pembelajaran di masa pandemi. Semangat untuk semua guru di Indonesia, jangan lelah untuk terus memahami murid dan memberi pelayanan pembelajaran yang baik sesuai dengan kondisi mereka.

*
Penulis adalah guru Bahasa Indonesia SMP N 5 Pekalongan, Jawa Tengah. Aktif sebagai penggerak Komunitas Guru Belajar dan kegiatan lainnya.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Corona Paksa Guru Melek Teknologi
apahabar.com

Opini

Pentingnya Personal Branding Bagi Guru
apahabar.com

Opini

Mendiskusikan Skenario Makro Ekonomi Indonesia
apahabar.com

Opini

Emak-Emak, Robot Canggih di Masa Pandemi
apahabar.com

Opini

Bulan Bahasa Sebagai Momentum mencintai Bahasa Indonesia
apahabar.com

Opini

Menyoal Pelayanan RSUD

Opini

Membaca Manaqib, Melestarikan Tradisi Urang Banjar
apahabar.com

Opini

Jika Belajar Mengajar di Rumah Diperpanjang, Bagaimana Nasib Siswa Berkebutuhan Khusus?
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com