Hari Ini, 30 Warga Balangan Dominasi Kasus Positif Covid-19 di Kalsel [FOTO] Penampakan Ratusan Rumah yang Terbakar di Patmaraga Kotabaru Kena PHP, Buruh Tebar Ancaman ke Wakil Rakyat Kalsel di Senayan Daftar Lengkap 64 Link Pengumuman CPNS 2019, sscn.bkn.go.id & Berkas Online yang Harus Disiapkan! Nasib Terkini 505 Warga Korban Kebakaran di Patramarga Kotabaru

Uji Materi UU Penyiaran, Ahli: OTT Perlu Diatur Negara

- Apahabar.com Jumat, 2 Oktober 2020 - 00:23 WIB

Uji Materi UU Penyiaran, Ahli: OTT Perlu Diatur Negara

Mantan Komisioner KPI Pusat Iswandi Syaputra memberikan keterangan dalam persidangan uji materi UU Penyiaran di MK secara virtual, Kamis (1/10). Foto: iNews.id

apahabar.com, JAKARTA – Mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Iswandi Syahputra berpandangan negara harus mengatur layanan over the top (OTT) atau siaran berbasis internet.

Pengaturan ini menurutnya, bukan untuk membatasi warga negara, namun justru melindungi dari konten-konten negatif.

“Oleh karena video OTT dalam bentuk VOD adalah konten siaran maka perlu ada pihak yang mengaturnya. Bahkan saya menyebut negara mutlak harus melakukan pengaturan atau memberikan perlindungan kepada publik dari tayangan-tayangan yang negatif,” katanya secara virtual dalam sidang pengujian Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis.

Jika OTT dalam pengertian VOD tidak diatur melalui sebuah sistem pengawasan yang baik, dia dapat menimbulkan moral panic.

“Dan kita sudah mengalaminya beberapa kali,” kata Iswandi yang juga merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini.

Untuk itu, dalam konteks tersebut maka KPI dapat menjadi pihak yang merepresentasikan keadilan negara dalam memberikan perlindungan kepada publik, kata Iswandi Syahputra dihadirkan sebagai ahli oleh pemohon PT Visi Citra Mulia (INEWS TV) dan PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI).

Ia mengatakan pengaturan tersebut, bukan untuk membatasi kebebasan warga dalam menyampaikan pendapat atau berekspresi, melainkan untuk melindungi warga Indonesia dari berbagai konten-konten negatif di internet melalui video-video dalam konteks media baru.

Ia mengatakan selain VOD, terdapat OTT penyedia layanan perpesanan seperti aplikasi chatting, Whatsapp, Facebook Messenger, kemudian video telekonferensi seperti Skype, Zoom, Google Hangout. Kemudian terdapat juga OTT penyedia video gim daring.

Ada pun dalam sidang sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut apabila layanan video melalui internet dimasukkan ke dalam penyiaran, makan masyarakat tidak lagi dapat memanfaatkan fitur siaran sejumlah media sosial. Pasalnya hanya lembaga penyiaran berizin yang dapat melakukan siaran.

Sementara RCTI dan INews TV mempersoalkan pengaturan penyiaran berbasis internet dalam Pasal 1 ayat 2 UU Penyiaran ambigu dan menyebabkan ketidakpastian hukum.

Para pemohon meminta agar penyedia layanan siaran melaui internet turut diatur dalam UU Penyiaran.(Ant)

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Nasional

2 Kasus Djoko Tjandra Tuntas, Kabareskrim: Bukti Komitmen Polri
apahabar.com

Nasional

Terlibat Baku Tembak di Papua, Tiga Prajurit TNI Gugur
apahabar.com

Nasional

Studi Sosial: 98,2 Persen Responden Setuju Karantina Wilayah
apahabar.com

Nasional

Presiden Jokowi: Kita Ingin TNI dan Polri Ada di Setiap Keramaian
apahabar.com

Nasional

Taiwan Setujui Remdesivir Buatan Gilead untuk Obat Covid-19
apahabar.com

Nasional

Incest di Lampung; Tak Cuma Kakak, Pelaku Setubuhi Kambing-Sapi Tetangga
apahabar.com

Nasional

Ikatan Khatib akan Berlakukan Dai Bersertifikat
apahabar.com

Nasional

Kerusuhan Wamena, Polri: 23 Meninggal Dunia dan 77 Orang Luka-luka
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com