VIDEO: Polisi Rilis Tersangka Pencurian Hp Rosehan di Pesawat Sengketa Kepemilikan Kampus Achmad Yani, Gugatan Adik Berlanjut di PN Banjarmasin Magrib, Mayat di Jembatan Kayu Tangi Gegerkan Warga Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin: Waktu Belajar Dipangkas, Sehari Hanya 5 Jam Sehari Jelang Penutupan, Pendaftar BLT UMKM di Batola Capai 5.000 Orang

Wakil Ketua MPR Syarief Hasan Tidak Setuju Pengesahan RUU Cipta Kerja

- Apahabar.com Minggu, 4 Oktober 2020 - 17:15 WIB

Wakil Ketua MPR Syarief Hasan Tidak Setuju Pengesahan RUU Cipta Kerja

Ilustrasi penolakan omnibus law RUU Cipta Kerja. Foto-Antara/Mohamad Hamzah

apahabar.com, JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan, mengatakan dirinya tidak setuju pengesahan Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja.

“Dan bila RUU ini akan disahkan oleh Paripurna DPR, maka Partai Demokrat pasti menolak atau minta untuk ditunda,” kata Syarief Hasan di Jakarta seperti dilansir apahabar.com, Minggu (4/10).

Politisi Partai Demokrat itu menyayangkan adanya aspirasi masyarakat yang tidak terserap oleh pemerintah dalam draf RUU tersebut.

Selain itu, kata Syarief, banyak muatan dalam RUU Omnibus Law tersebut yang ditolak elemen masyarakat di Indonesia karena dinilai tidak pro terhadap rakyat.

Muatan bermasalah tersebut, kata dia, seperti aturan pesangon yang semakin menurun kualitasnya dan tanpa kepastian hukum yang jelas.

“RUU ini akan semakin mempermudah perusahaan untuk melakukan PHK karena uang pesangonnya lebih kecil,” kata Syarief.

Pemerintah dan DPR RI juga bersepakat untuk memasukkan skema baru yakni Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dalam Rancangan Undang-Undang Omnibus Law untuk menyelesaikan permasalahan pesangon pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dinilai merugikan pekerja.

JKP yang menggunakan skema asuransi itu dinilai akan menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) cukup besar.

Karena, selain mengharuskan pemerintah memberi dana kas atau data tunai per bulan kepada pekerja PHK, aturan terkait JKP juga mengharuskan pemerintah menyiapkan pendidikan dan pelatihan (diklat) pekerja untuk meningkatkan skill dan kapasitas pekerja dan memberi informasi pekerjaan atau menyalurkan pekerja kepada pekerjaan baru.

“Aturan baru ini malah tidak implementatif, kontraproduktif, dan tidak pro-rakyat,” ujar Syarief.

apahabar.com

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan. Foto: Demokrat.or.id

Selain itu, Syarief juga mengatakan akan ada ketentuan upah minimum yang hilang dengan disahkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja yaitu ketentuan mengenai Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

“Sebab, Pasal 88C ayat (2) hanya mengatur Upah Minimum Provinsi (UMP). UMP di hampir semua Provinsi lebih kecil dibandingkan UMK Kabupatennya, kecuali di DKI Jakarta. Akibatnya, upah buruh menjadi semakin kecil dan tidak layak. RUU ini menunjukkan ketidakberpihakannya terhadap buruh, karyawan, dan rakyat kecil,” ujar Syarief.

Namun, sebelumnya pada 28 September 2020, DPR dan Pemerintah hanya bersepakat untuk menghilangkan ketentuan terkait upah minimum sektoral, dan tetap mempertahankan ketentuan terkait Upah Minimum Provinsi maupun Upah Minimum Kabupaten/Kota.

Pemerintah yang diwakili oleh Staf Ahli Kementerian Koordinator Perekonomian Elen Setiadi pada saat itu, sepakat dengan keputusan mempertahankan Upah Minimum Provinsi dan Upah Minimum Kabupaten/Kota.

“Pemerintah menyampaikan dua bentuk upah minimum sebagai safety net, yang pertama adalah upah minimum provinsi, kedua adalah upah minimum kabupaten/kota sesuai dengan persyaratan yang kami ajukan,” kata Elen dalam rapat Panja RUU Cipta Kerja saat itu.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Kiai Ma’ruf: Tantangan NU ke Depan Bagaimana Bisa Mendunia
apahabar.com

Nasional

Badak LNG Raih Proper Emas 7 Kali Berturut-turut
apahabar.com

Nasional

Terdapat 3.680 Korban, Polisi Ungkap Sindikat Mafia Perumahan Syariah
apahabar.com

Nasional

Pengamat Sebut Kaltim Paling Berpeluang Jadi Ibukota
apahabar.com

Nasional

25 Terduga Teroris yang Diamankan di Palangkaraya dan Gumas Jaringan Uzla
apahabar.com

Nasional

Tiba di Kalsel, Tuan Guru Bajang Langsung Ziarah ke Sekumpul
apahabar.com

Nasional

Kota di Jilin China Diisolasi, KBRI Minta WNI Tetap Tenang
apahabar.com

Nasional

Jadi Ibu Kota, Penajam Minta Masukan UGM
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com