Debat Ke-2 Pilbup Tanbu: “Wakil Komitmen” HM Rusli Bikin Bingung Alpiya, Mila Karmila Speechless PN Martapura Putuskan Camat Aluh-Aluh Melanggar Netralitas ASN Kembali, Duta Zona Selatan Batola Memenangi Atak Diang Kawal Pilkada Serentak, Polda Kalsel Komitmen Tegakkan Netralitas Tapin Berpotensi Tinggi di Sektor Energi Terbarukan, Pertanian, dan Parawisata

Kotim Mulai Sekolah Tatap Muka, Hanya SMP Ini Diizinkan Satgas Covid-19

- Apahabar.com Senin, 2 November 2020 - 15:11 WIB

Kotim Mulai Sekolah Tatap Muka, Hanya SMP Ini Diizinkan Satgas Covid-19

Ilustrasi dimulainya sekolah tatap muka sejak diberlakukannya belajar daring dari rumah di tengah pandemi Covid-19. Foto-net

apahabar.com, SAMPIT – Sekolah tatap muka di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai melaksanakan sekolah tatap muka, Senin (02/11).

Namun, baru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sampit yang mendapat izin dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kotim.

Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim, Suparmadi menyebut, ada 12 sekolah yang mengajukan izin ke Satgas Covid-19 Kotim untuk melaksanakan sekolah tatap muka.

“Namun yang sudah diberikan izin baru satu sekolah yaitu SMPN 10 Sampit. Sekolah lainnya akan ditinjau kembali oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19,” kata Suparmadi dikutip dari Antara, Senin.

Suparmadi yang juga Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim itu mengatakan, meski sekolah sudah diperbolehkan menggelar pembelajaran dengan sistem tatap muka, namun semua harus tetap mengacu pada ketentuan, sebagaimana tertuang dalam surat edaran Bupati Kotim.

Suparmadi menegaskan, pihaknya juga tidak ingin gegabah dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka tersebut.

Selain wajib menerapkan protokol kesehatan, sekolah juga harus mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung pencegahan penularan Covid-19.

Selain itu, keputusan tetap berada di tangan orangtua siswa dalam memberikan persetujuan. Pembelajaran sistem tatap muka baru dilaksanakan jika lebih dari 50 persen orangtua atau wali siswa menyetujui dan dibuktikan dengan surat pernyataan.

“Semua tetap dilaksanakan dengan sangat hati-hati dan tentunya harus mendapat persetujuan supaya tidak saling menyalahkan. Keselamatan dan kesehatan guru, siswa dan semua orang, tentu selalu menjadi prioritas,” tegas Suparmadi.

Sementara itu, sejumlah sekolah mengumumkan kepada orangtua siswa bahwa sekolah mereka belum melaksanakan belajar dengan sistem tatap muka. Sejumlah alasan disampaikan terkait penundaan tersebut.

Di antaranya, ada sekolah yang mengacu pada hasil pengumpulan persetujuan orangtua siswa yang ternyata lebih dari 50 persen orangtua tidak setuju anak mereka ikut belajar tatap muka.

Di sisi lain, ada pula sekolah yang menunda belajar tatap muka dengan alasan belum menerima izin dari Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kotawaringin Timur.

Seperti SMPN 2 Sampit, pihak sekolah mengeluarkan surat pemberitahuan penundaan belajar dengan sistem tatap muka.
Melalui surat tersebut, Kepala SMPN 2 Sampit menjelaskan bahwa pihak sekolah belum menerima surat izin dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19 sehingga belum bisa melaksanakan pembelajaran sistem tatap muka.

Sementara itu, sebagian orangtua yang tidak setuju anak mereka mengikuti sistem belajar tatap muka di sekolah.

Mereka beralasan karena kondisi saat ini dinilai belum aman sehingga sangat disayangkan jika pemerintah daerah memaksakan pembelajaran dengan sistem tatap muka.

“Lihat saja data yang dirilis pemerintah daerah. Hampir setiap hari ada kasus baru warga terkonfirmasi positif Covid-19. Bahkan hari ini ada satu lagi pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Ini kan jelas belum aman, kok dipaksakan harus membuka sekolah belajar tatap muka?” keluh Maria, salah satu warga.

Dia mengaku mendukung upaya pemerintah menjalankan pola normal baru atau “new normal” agar semua secara perlahan kembali pulih dan bangkit. Namun menurutnya, perkembangan kasus Covid-19 tidak boleh diabaikan, apalagi saat ini tren terjadi peningkatan.

Sesuai perintah Presiden Joko Widodo, kata dia, membuka sekolah adalah langkah terakhir jika semua sektor lainnya dinyatakan sudah normal dan aman.

Ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat menilai pelajar sangat rawan terhadap penularan Covid-19.

Maria berharap pemerintah daerah tidak menerapkan langkah coba-coba dalam hal ini karena ini menyangkut keselamatan peserta didik.

Dia menyarankan pemerintah daerah mengikuti arahan presiden bahwa pembelajaran sistem tatap muka baru dibuka ketika sektor lainnya sudah berjalan normal.

Editor: Zainal Muttaqin - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalteng

60 BUMDes di Barut Direkomendasikan Jadi Pangkalan LPG
apahabar.com

Kalteng

Mudik Lebaran, 5.621 Penumpang Sudah Diberangkatkan dari Pelabuhan Sampit
apahabar.com

Kalteng

Kebakaran Lahan Mulai Marak di Palangka Raya
apahabar.com

Kalteng

Jelang Lebaran, Harga Daging Sapi di Palangkaraya Naik
apahabar.com

Kalteng

Kabut Asap Semakin Pekat, Pemkab Kotim Perpanjang Libur Sekolah
apahabar.com

Kalteng

Fakta Bukan Mitos, Raksasa di TNTP Jadi Obyek Wisata Turis
apahabar.com

Kalteng

Wali Kota Palangka Raya: Petugas PSBB Bekerja Sesuai Perwali
apahabar.com

Kalteng

Dongkrak Sektor Pariwisata, Pemprov Kalteng Terima DAK Rp3,4 M
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com