Cuaca Kalsel Hari Ini, Waspada Potensi Hujan Petir di Sejumlah Wilayah Demi Top Up Game Online, Pria di Balikpapan Tipu Puluhan Orang Persiapan PON Papua, Balikpapan Sumbang 61 Atlet untuk Perkuat Kaltim Rekap PSU Sejumlah Kecamatan Selesai, KPU Banjar Gelar Penghitungan Lusa Gol Tunggal Raheem Sterling Bawa Inggris Tekuk Kroasia

Mengapa Islam Melarang Nabi Dilukis?

- Apahabar.com Rabu, 4 November 2020 - 11:43 WIB

Mengapa Islam Melarang Nabi Dilukis?

ilustrasi Sumber: istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Presiden Prancis Emmanuel Macron belum lama ini menyebut karikatur Nabi Muhammad sebagai bagian dari kebebasan berpendapat. Aksi tersebut pun menuai kecaman dari berbagai ‘Negara Islam’.

Dalam Islam dilarang melukis fisik Nabi dilukiskan. Direktur Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat menjelaskan alasan itu di salah satu diskusi daring di rumahfiqih.com.

Melukis atau menggambar Nabi Muhammad SAW disebutnya telah melewatkan satu masalah penting tentang kedudukan nabi. Muhammad disebutnya diutus Allah SWT tidak hanya sebagai pembawa wahyu, tapi juga seluruh seluruh penampilan, gerak-geriknya akan menjadi sumber hukum dalam syariat islam.

“Semua yang beliau katakan, semua yang beliau lakukan, bahkan segala penampilan dan gerak-gerik beliau. Semuanya tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa beliau adalah sosok resmi utusan Allah SWT. Maka penampilan beliau dalam ekspresi wajah, senyum, marah, tertawa, bahkan cara beliau berpakaian, menyisir rambut, merapikan jenggot dan kumis serta hal-hal kecil lainnya, tidak bisa dilepaskan dari sumber hukum dalam syariah Islam,” jelasnya.

Nabi Muhammad sebagai salah satu sumber hukum ini, tentunya harus diinformasikan dengan valid dan otentik.

“Tidak boleh hanya semata didasarkan pada khayal, ilusi, imajinasi serta perkiraan subjektif dari orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan beliau,” katanya.

“Dalam menjadi validitas syariah, apapun perkataan yang dianggap sebagai perkataan Rasulullah SAW, pasti akan kita tolak mentah-mentah kalau tidak ada jalur periwayatannya yang sahih dan valid. Dan apapun perbuatan yang dianggap sebagai perbuatan beliau SAW, juga akan kita buang ke tong sampah, selama tidak ada jalur periwayatan secara resmi dan memenuhi standar baku dan prosedur yang benar,” jelasnya.

Karena hal tersebut, penggambaran sosok nabi juga tidak boleh atas dasar khayalan atau menerka-nerka. Gambar atau lukisan ini akan diartikan sebagai hadist palsu yang harus dijauhi.

“Haram hukumnya kita mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar Nabi Muhammad SAW. Karena sama saja kita membuat dan menyebarkan hadits palsu kepada orang-orang. Padahal ada ancaman berat tentang orang-orang yang menyebarkan hadits palsu.”

Nabi Muhammad bersabda:
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Siapa meriwayatkan suatu hadits dariku dan dia tahu bahwa itu adalah dusta, maka dia adalah salah satu dari para pendusta.” (HR. Muslim)

Lantas, bagaimana jika ada lukisan nabi karya para sahabat?

Ia juga menyebut jika memang ada lukisan nabi yang diambil dari karya para sahabat tentunya bisa dipertanyakan tentang kualitas kemampuan lukisan sahabat hingga seberapa otentik lukisan tersebut setelah ribuan tahun.

“Pertama, seberapa ahli sahabat itu dalam melukis wajah orang? Jangan-jangan lukisannya malah tidak mirip dan berbeda dari aslinya. Sampai disitu saja masalah lukis melukis wajah beliau SAW sudah jadi masalah,” ungkapnya.

“Kedua, anggaplah ada sahabat yang berprofesi sebagai pelukis ulung dimana lukisannya amat mirip dengan aslinya, tetap saja masih ada masalah. Masalahnya adalah siapa yang bisa menjamin lukisan itu terjaga keasliannya hingga 15 abad ini?” tambahnya.

Kendati demikian, hingga kini juga belum ada riwayat tentang sahabat nabi yang berhasil melukis sosok Rasulullah dengan gambar yang sama percis. Ia juga menyebut hingga kini tidak pernah ada kasus di mana ada lukisan manusia yang diklaim sebagai wajah Rasulullah SAW sepanjang sejarah umat Islam.

“Kesimpulannya, para ulama telah ijma’ tentang haramnya melukis wajah Rasulullah SAW, apapun alasannya, bahkan meskipun barangkali tujuannya mulia. Dan bab pelarangannya bukan semata karena penghinaan, melainkan karena kepalsuan dan tidak adanya jaminan validitasnya,” jelasnya.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Kisah Ketawadhuan Kiai As’ad dan Buya Hamka
apahabar.com

Hikmah

Simak Kisah Perlombaan Sedekah Umar Bin Khattab dan Abu Bakar
apahabar.com

Religi

Dapat Uang Rp75 Juta, Disedekahkan Semua
apahabar.com

Habar

Kembalikan Tradisi Baik Utsmani, Vefa Siapkan Makan untuk Lansia
apahabar.com

Hikmah

Belas Kasih Sayidina Ali KW Saat Perang
Ibadah Malam Nisfu Syakban di Masjid Ditiadakan, Warga Diimbau Patuhi Keputusan

Habar

Ibadah Malam Nisfu Syakban di Masjid Ditiadakan, Warga Diimbau Patuhi Keputusan
apahabar.com

Religi

Apa Kebahagiaan Itu? Berikut Penjelasannya!
apahabar.com

Hikmah

Apakah Amal yang Ditunjukkan Berarti Riya? Simak Penjelasan Imam Al Ghazali
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com