Warga Eks Bioskop Cempaka Geger, Pria Tewas Bersimbah Darah 7 POPULER KALSEL: Ibu Bunuh Anak di Benawa HST hingga Ketua Nasdem Tala Buron Positif Sabu, Oknum Anggota DPRD Tala Terancam Dipecat! Hasil Visum: 2 Anak yang Diduga Dibunuh Ibu di Benawa HST Mati Lemas! Orbawati Buron, Nasdem Tanah Laut Fokus Menangkan BirinMu

Mengenang Jejak Sultan Suriansyah Lewat Tradisi Maturi Dahar dan Jamasan

- Apahabar.com Selasa, 10 November 2020 - 15:41 WIB

Mengenang Jejak Sultan Suriansyah Lewat Tradisi Maturi Dahar dan Jamasan

Maturi Dahar dan Jamasan (pencucian) pusaka leluhur. Foto-apahabar.com/Musnita Sari

apahabar.com, BANJARMASIN – Rekam jejak para leluhur menjadi tonggak sejarah yang menyimpan kisah-kisah masa silam. Agar tak hilang tergerus zaman, masyarakat kerap melaksanakan tradisi untuk mengenang dan menghormati peninggalan mereka.

Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Restu Sultan Suriansyah, gelaran haul Sultan Suriansyah atau Sunan Batu Habang dikemas dengan acara Maturi Dahar dan Jamasan (pencucian) pusaka leluhur, belum lama tadi.

Dahar diambil dari bahasa Jawa yang berarti makanan. Pada umumnya, Maturi Dahar disajikan untuk para leluhur. Acara ini kerap dilaksanakan setiap tahun saat memasuki Bulan Maulid.

“Tapi dalam Islam, makanan disediakan untuk dimakan bersama masyarakat agar tidak mubazir. Ada 41 macam sajian tradisional. Sekaligus pembacaan doa haul dan doa selamat,” ungkap Ketua Yayasan Restu Sultan Suriansyah, Syarifudin Nur, kepada apahabar.com.

Ritual mengenang jejak leluhur juga tergambar dalam acara Jamasan. Sedikitnya ada 400 benda pusaka yang dilakukan pembersihan dan perawatan pada kegiatan ini, seperti keris, tombak, pedang serta sarung kesultanan.

“Biasanya dilakukan bergantian di tiap rumah zuriat Sultan Suriansyah. Tapi tahun ini kita fokuskan di makam,” terangnya

Beberapa pusaka di antaranya ada yang memiliki umur hingga 500 tahun.

Menurut Syarifudin, perlu teknik khusus untuk merawat dan membersihkan benda peninggalan Raja Banjar pertama tersebut.

Pusaka dimandikan dengan campuran jeruk nipis dan air kembang. Setelahnya dibaluri dengan minyak harum, lalu dikeringkan di atas asap-asap dupa. Dipercaya, teknik ini akan membuat besi menjadi lebih tahan lama.

“Kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian. Kami ingin mengubah image dari benda sirik menjadi benda bersejarah dan memiliki nilai seni,” jelasnya

Selain peringatan sejarah, momen ini juga dimaknai sebagai ajang silaturahmi antar masyarakat Banjar. Diharapkan, tradisi ini dapat meningkatkan minat para generasi muda untuk belajar memahami silsilah keturunan Pangeran Sultan Suriansyah.

“Intinya jangan lupa sejarah, jangan lupa leluhur kita,” tutupnya.\

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Melawan, Siswa di Kotabaru Lolos dari Serangan Buaya Liar
apahabar.com

Kalsel

Masuk ‘Zona Hitam’ Covid-19, Penduduk Pekapuran Raya Siap-Siap Gangguan Air Bersih
apahabar.com

Kalsel

Objek Vital di Simpang Empat Tanbu Didisinfektan
apahabar.com

Kalsel

Dapat Kucuran Dana dari Kemensos, SBC Kembali Salurkan Bantuan Sosial
apahabar.com

Kalsel

Asap Masih Terasa, Hujan Intensitas Ringan dan Sedang Pun Mewarnai

Kalsel

Positif Bertambah 12 Kasus, Kalsel Tertinggi Covid-19 Se-Kalimantan
apahabar.com

Kalsel

Jalan Tol Banjarbaru – Batulicin Siap Dilintasi Tahun Depan
apahabar.com

Kalsel

Gerindra Dukung Usaha Korem 101/Antasari Jaga Kamtibmas Jelang Pilkada Kalsel
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com