Wow, Kalteng Targetkan Groundbreaking Kereta Api Tahun Ini Gugatan 2BHD Diterima, Ketua MK Pimpin Langsung Sengketa Pilbup Kotabaru Viral Jembatan Alalak II Patah Akibat Macet Parah, Cek Faktanya Banjir Belum Reda, Warga Desa Bincau Terancam Kekurangan Makanan Update Covid-19: Belasan Warga Kapuas Sembuh, 1 Positif

Menteri PPPA: Pernikahan Anak Meningkat Akibat Pandemi Covid-19

- Apahabar.com Senin, 30 November 2020 - 18:16 WIB

Menteri PPPA: Pernikahan Anak Meningkat Akibat Pandemi Covid-19

Menteri PPPA, I Gusti Ayu Bintang Darmawati berbicara dalam Rapat Koordinasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait hasil pengawasan penyiapan pembelajaran tatap muka di masa pandemi, Jakarta, Senin (30/11/2020). Foto-Antara/Katriana

apahabar.com, JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati, mengatakan angka pernikahan anak mengalami peningkatan akibat pandemi Covid-19.

“Tidak dapat dipungkiri [mungkir] bahwa salah satu dampak pandemi ini adalah tingginya kasus perkawinan anak,” kata Menteri Bintang dalam Rapat Koordinasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait hasil pengawasan penyiapan pembelajaran tatap muka pada masa pandemi, Jakarta, dilansir Antara, Senin (30/11).

Ia mengatakan, dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2020, Badan Peradilan Agama Indonesia telah menerima sekitar 34 ribu permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh calon mempelai yang belum berusia 19 tahun.

Menteri Bintang menilai tingginya kasus perkawinan pada anak menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka anak putus sekolah.

Kondisi tersebut, katanya, menjadi keprihatinan bagi Kementerian PPPA dan pihak-pihak lain. Untuk itu, KPPA berkomitmen untuk menjadikan upaya penurunan angka perkawinan anak sebagai isu prioritas kementerian tersebut pada 2020-2024.

Dalam kesempatan itu, Menteri Bintang juga menegaskan dukungan terhadap rencana pembelajaran tatap muka (PTM) pada Semester Genap Tahun Ajaran 2020-2021, karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang tidak efektif diduga menjadi salah satu pemicu tingginya kasus anak putus sekolah hingga berujung pada kasus perkawinan anak.

Namun demikian, ia menggarisbawahi perlunya kepastian bahwa pembelajaran apapun yang akan diputuskan oleh pemerintah daerah (Pemda), sekolah maupun orang tua dan siswa harus berorientasi pada kesehatan dan keselamatan anak, khususnya di tengah pandemi COVID-19 yang belum dapat diatasi.

“Baik PJJ maupun tatap muka harus berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak,” kata Menteri PPPA.

Ia mengatakan bahwa upaya untuk mewujudkan situasi yang kondusif bagi anak memerlukan partisipasi banyak pihak.

Oleh karena itu, Menteri Bintang mengharapkan kerja sama dari semuanya, sehingga upaya pencegahan perkawinan anak kelak dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

“Kemen PPPA tentu tidak dapat bekerja sendiri. Hal ini hanya dapat tercapai dengan adanya kerja sama yang baik dari Pemerintah Pusat, Pemda, lembaga masyarakat, dunia usaha bahkan dari lingkungan masyarakat, sekolah maupun keluarga itu sendiri untuk menyosialisasilan pencegahan perkawinan anak,” kata Menteri Bintang.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Jokowi Kenalkan 7 Staf Khusus Milenial
apahabar.com

Nasional

Usulan Fatwa Tak Puasa di Tengah Covid-19, Ini Tanggapan MUI
apahabar.com

Nasional

BMKG: Pernah Terjadi Tsunami di Selatan Jawa
apahabar.com

Nasional

Laporan Keuangan 2019, OJK Gaet Opini WTP dari BPK
apahabar.com

Nasional

BPBD Lampung: Korban Tewas Tsunami 7 Orang, 89 Orang Luka-luka
apahabar.com

Nasional

Romi Sempat Ingin Kabur Saat Tahu KPK Datang
apahabar.com

Nasional

Bahlil Jadi Menteri, Hipmi Canangkan Tahun Investasi

Nasional

Menggigil hingga Sakit Kepala, Mungkin Gejala Baru Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com