3 Kali Diskor, Sidang Perdana Netralitas ASN Camat Aluh Aluh Berlangsung hingga Malam Sisa 85 Hari Jadi Bupati, Sudian Noor Doyan Bikin Kebijakan Kontroversial Diam-Diam, Adaro Kepincut Proyek Coal to Methanol di Kotabaru, Apa Kata Dewan? Kubah Datu Kelampaian Kembali Ditutup, Simak Penjelasan Zuriyat Gelapkan Penjualan Motor, Supervisor Marketing PT NSS Tabalong Diamankan Polisi

Pakar ULM: Ada Indikasi Penurunan Tes Covid-19 karena Pilkada

- Apahabar.com Senin, 23 November 2020 - 00:31 WIB

Pakar ULM: Ada Indikasi Penurunan Tes Covid-19 karena Pilkada

enurunan yang terjadi selaras dengan berkurangnya tes Covid-19 atau polymerase chain reaction (PCR), sejak Agustus kemarin. Foto: Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Hidayatullah Muttaqin menyangsikan penurunan kasus baru Covid-19 belakangan waktu ini.

Muttaqin mengatakan penurunan yang terjadi selaras dengan berkurangnya tes Covid-19 atau polymerase chain reaction (PCR), sejak Agustus kemarin.

Terlebih penurunan terjadi di tengah peningkatan kapasitas laboratorium.

“Ada indikasi penurunan tes PCR terkait momen pilkada. Akibatnya, tentu saja laju tambahan kasus baru di daerah tersebut cenderung menurun sehingga peta zonasi risiko dapat menjadi bias,” kata Hidayatullah, Minggu (22/11) dilansir Antara.

Menurutnya, peta zona risiko Covid-19 tidak boleh bias sehingga tak menggambarkan situasi pandemi mendekati kondisi riil.

“Tanpa dukungan jumlah testing yang memadai, maka peta zonasi risiko tidak dapat menggambarkan situasi pandemi,” ujarnya.

Keberadaan peta yang menggambarkan kondisi dan situasi pandemi sangat penting bagi pusat dan daerah dalam rangka monitoring dan evaluasi.

Peta zonasi juga penting karena mudah dipahami masyarakat umum dengan melihat warnanya. Hanya saja persoalan utama dalam penggambaran kondisi pandemi di tiap-tiap daerah adalah lemahnya testing Covid-19.

Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ujar Muttaqin, jumlah sampel tes PCR yang harus diambil adalah satu per seribu penduduk (1/1.000) tiap pekan.

Sementara pada tingkat nasional pada pekan IV Oktober baru mencapai 63 persen dari standar WHO.

Pada pekan I dan II November jumlah tes sebanyak 67 persen dan 86 persen dari standar.

Permasalahannya, kata dia, adalah jumlah tes PCR nasional tersebut tidak merata di setiap daerah.

Misalnya pada pekan II November, dari 233 ribu orang yang dites sebanyak 74 ribu di antaranya adalah penduduk Jakarta.

Bahkan secara kumulatif dari hampir 3,5 juta orang yang sudah menjalani tes PCR sebanyak 43 persen disumbangkan oleh provinsi DKI Jakarta.

Untuk penurunan kasus baru dan pengendalian pandemi, menurutnya diperlukan peningkatan tes PCR terhadap penduduk hingga memenuhi syarat WHO.

“Dan dilakukan secara konsisten,” sambungnya.

Memang pada tahap awal langkah berpotensi mendorong lonjakan kasus karena menyebabkan semakin banyaknya penduduk yang terdeteksi terinfeksi.

Namun, dengan data yang semakin valid, peta zonasi risiko lebih mendekati kondisi riil sehingga sangat berguna dalam kebijakan memangkas angka pertumbuhan kasus baru ke depannya.

Pakar ULM: Waspada! Fenomena Penurunan Semu Covid-19 di Banjarmasin

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Dibanding Negara Tetangga, Jumlah Wirausahawan di Indonesia Masih Rendah
apahabar.com

Nasional

Pakar Tsunami Bantah Isu Patahan Lempeng di Surabaya Membesar
apahabar.com

Nasional

1.377 Pemuda dan Pelajar Diamankan Polisi Terkait Unjuk Rasa UU Cipta Kerja di Jakarta
apahabar.com

Nasional

Mulai 2020-2022, Pemerintah Targetkan Optimalisasi 165.000 Hektare Lahan di Kalteng
apahabar.com

Nasional

Diskors, MK Lanjutkan Sidang Gugatan Pilpres 2019 Selasa Depan
apahabar.com

Nasional

Gubernur Jambi Zumi Zola Pasrah Hadapi Putusan Pengadilan Tipikor
apahabar.com

Nasional

Pagi Ini Rupiah Menguat ke Rp14.027/USD
apahabar.com

Nasional

Jokowi Siapkan 3 Jurus Hadapi Musim Kemarau yang Lebih Berat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com