3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa? PLTS Tak Berfungsi, Kades Panaan Mengadu ke Dinas ESDM Kalsel

Ramai-Ramai Boikot Produk Prancis, Seberapa Efektif?

- Apahabar.com Senin, 2 November 2020 - 17:55 WIB

Ramai-Ramai Boikot Produk Prancis, Seberapa Efektif?

Ilustrasi: Tempo.co

apahabar.com, JAKARTA – Produk Prancis diboikot. Sejumlah negara ramai-ramai melakukan boikot setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut Islam sebagai agama yang mengalami krisis.

Sejumlah kelompok masyarakat Indonesia juga melontarkan kecaman dan ajakan untuk memboikot produk Prancis.

Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan pemboikotan produk Prancis tidak terlalu berpengaruh bagi Indonesia.

“Tidak pengaruh juga. Tapi ini kan luapan emosi ya boleh saja. Tapi kenyataannya tidak banyak mempengaruhi situasi,” ujarnya di Kantor Apindo, dikutip dari Okezone.com, Senin (2/11).

Salah satu sebabnya, produk Prancis yang ada di Indonesia tidak terlalu banyak. Bahkan, beberapa produk makanan Prancis yang dijual di Indonesia tidak banyak diketahui masyarakat.

“Enggak banyak juga kan produk Prancis mana saja sih. Ada satu produk misalnya makanan dan minuman, misalnya gitu. Tapi enggak banyak orang tahu juga,” jelasnya.

Lagipula lanjut Hariyadi, saat ini merupakan era keterbukaan di pasar global. Di mana satu perusahaan yang ada di daerah tersebut belum tentu pemiliknya juga berasal dari negara yang sama.

“Dan perusahaan itu pun mungkin perusahaanya dari Prancis tapi pemiliknya global bisa saja pemilik Prancis lebih sedikit global lebih banyak. Jadi menurut saya kurang efektif juga,” katanya.

Memang menurut Hariyadi, dirinya sangat menyayangkan lontaran pernyataan dari Presiden Prancis tersebut. Menurutnya, sebagai Kepala Negara seharusnya pernyataan yang keluar harus proposional dan jangan mengandalkan emosi semata.

“Memang kita protes jelas kepada makron sebagai kepala negara dia melakukan pidato. Di sisi lain juga bisa dipahami juga reaksi berlebihan (Presiden Prancis) terhadap penusukan tidak tepat juga. Jadi seharusnya diambil langka proposional tapi tidak emosional,” jelasnya.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

“Maafkan Saya Merepotkan Pepo”
apahabar.com

Nasional

Polisi Tetapkan 87 Pengunjuk Rasa UU Cipta Kerja di Jakarta Sebagai Tersangka
apahabar.com

Nasional

Trump: AS Sedang Selidiki Apakah Virus Corona Berasal dari Lab Wuhan
apahabar.com

Nasional

Jokowi Usul Radikalisme Bisa Diganti Jadi Manipulator Agama
apahabar.com

Nasional

KLHK: Kebakaran Hutan Banyak Terjadi di Lahan Milik Perorangan
apahabar.com

Nasional

Polisi Soal ABK Kotabaru Negatif Corona: Diobservasi 3 Hari
apahabar.com

Nasional

Hadapi Pandemi Covid-19, Jokowi Minta Masyarakat Tidak Pesimis
apahabar.com

Nasional

Resmi, Warga Kabupaten Termuda di Kaltim Mulai Nikmati BBM Satu Harga
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com