Eks Bos Berulah, Kepala Penjual Pentol Rantau Nyaris Terbelah Hendak Benarkan Tas, Pemotor Tabrak Truk di Angsau Tanah Laut Negosiasi Rampung: Bagus Lega, Hasnur Rela, Nitizen Bahagia, Bagaimana FC Utrecht? Jelang Masa Tenang, Bawaslu Kalsel Minta Paslon Copot APK Longsor Tergerus Banjir, Oprit Jembatan di Tabalong Diperbaiki

Sebar Hoaks, WhatsApp Blokir 2 Juta Akun

- Apahabar.com Kamis, 19 November 2020 - 20:56 WIB

Sebar Hoaks, WhatsApp Blokir 2 Juta Akun

Ilustrasi WhatsApp. Foto-Pexels/Muhammad Wirawan Kusuma

apahabar.com, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI bergerak memerangi penyebaran hoaks. Salah satu dengan menggandeng WhatsApp.

Hal ini pun direspons WhatsApp dengan memblokir 2 juta akun penyebar hoaks.

Data internal Kominfo menunjukkan sejak 23 Januari hingga 18 Oktober terdapat 2.020 konten hoaks seputar COVID-19 beredar di media sosial, sementara yang sudah diturunkan (take down) berjumlah 1.759.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Pangerapan mengatakan Kominfo dalam menangani konten yang berpotensi hoaks, selalu melakukan pengujian fakta, verifikasi, informasi yang masuk, ke beberapa pihak.

Jika memang informasi tersebut, setelah diverifikasi adalah tidak benar, kementerian akan memberi “stempel” hoaks terhadap konten tersebut.

“Kami perlu melakukan pengendalian, bukan untuk membatasi kebebasan berekspresi masyarakat atau kebebasan berpendapat. Tapi, situasi pandemi ini kami perlu meluruskan informasi-informasi yang salah agar tidak meresahkan masyarakat,” kata Semuel Pangerapan, seperti dilansir Antara, Kamis (19/11).​​​​​​​

Kominfo mengidentifikasi terdapat tiga jenis infodemi yang beredar di Indonesia, yang pertama berupa disinformasi, yakni informasi sengaja dibuat salah untuk mendestruksi apa yang sudah beredar.

Kedua, malinformasi yaitu info faktual, namun dibuat untuk orang tertentu dengan tujuan tertentu dan infodemi berupa misinformasi, yaitu informasi yang diberikan tidak tepat, namun, tidak ada unsur kesengajaan.

Sravanthi Dev selaku Direktur Komunikasi WhatsApp APAC mengatakan pihaknya telah mengembangkan mesin yang dapat mengidentifikasi sebuah pesan spam.

Meski demikian, dia mengatakan bahwa peran aktif dari pengguna WhatsApp juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah disinformasi ini.

“Ketika kamu melihat pesan berisi spam atau yang tidak ingin dilihat, kami ingin anda melaporkan pesan itu sebagai spam dan kita akan mengambil tindakan,” kata Sravanthi Dev dalam jumpa pers virtual, Kamis (19/11).

Sravanthi Dev melanjutkan bahwa WhatsApp dalam beberapa tahun ini juga telah menyesuaikan rancangan produknya untuk membendung disinformasi, yaitu dengan membatasi ketentuan jumlah penerusan pesan (forwarded message) menjadi hanya ke lima kontak dalam satu waktu.

Hal ini membuat jumlah pesan yang diteruskan menurun hingga 25 persen. WhatsApp juga membarui pengaturan Privasi Grup sehingga pengguna dapat meningkatkan keamanan privasi mereka.

Kemudian WhatsApp memperkenalkan label ‘diteruskan/forwarded’ (panah tunggal) dan ‘sering diteruskan/highly forwarded’ (panah ganda), untuk mendorong agar pengguna berpikir dua kali sebelum meneruskan lagi pesan tersebut.

Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini yang menurut dia semakin banyak pesan hoaks yang beredar.

“Saat pandemi ini terjadi di bulan April, kami membatasi pesan yang sering diteruskan hanya ke satu chat saja,” ujar Sravanthi Dev.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

5 Kedai Ngopi Asyik di Banjarmasin
apahabar.com

Gaya

Soal Blokir TikTok, Menkominfo Pegang Teguh Arah Kebijakan Negara
apahabar.com

Gaya

Tetap Jaga Jarak, Apple Terapkan Cara Belanja Baru
apahabar.com

Gaya

Bersama Andre Taulany di Tema Indonesia, Sule Buka Alasan Cintai Nathalie Holscher

Gaya

Banyak Penderita Diabetes Tidak Sadar
apahabar.com

Gaya

Di Tengah Pandemi, 8 Makanan Ini Bisa Tingkatkan Imun Para Lansia
apahabar.com

Gaya

Google Larang Iklan Teori Konspirasi Virus Corona
apahabar.com

Gaya

Penelitian Terbaru, Orang Berdarah O dan B Miliki Resiko Rendah Terpapar Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com