Fantastik! Pemkot Banjarmasin Bekali 52 Lurah Motor Listrik Total Rp 1,79 M di Tengah Pandemi Film James Bond ‘No Time To Die’ Tayang di Bioskop, Daniel Craig Antusias Besok, BPP HIPMI Gelar Vaksinasi di Pulau Laut Kotabaru UU Cipta Kerja Paksa Puluhan Perda Banjarmasin Harus Direvisi Bahkan Dicabut Bravo! Satresnarkoba Polres Tanbu Tangkap Bandar Narkotika, Kiloan Sabu dan Ratusan Ekstasi Diamankan

Waspada Hoaks Pilkada Serentak 2020!

- Apahabar.com     Minggu, 15 November 2020 - 12:20 WITA

Waspada Hoaks Pilkada Serentak 2020!

Ilustrasi. Foto-Antara

apahabar.com, JAKARTA – Berita hoaks dan konten negatif lainnya mulai bertebaran menjelang Pilkada Serentak 2020.

Sejak September 2020 lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah melakukan pengawasan secara ketat dan menemukan sejumlah kasus kabar bohong.

“Kami identifikasi ada hoaks terkait pilkada sebanyak 17 hoaks,” kata Plt Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika Direktorat Jenderal (Ditjen) Aplikasi Informatika Kemenkominfo Anthonius Malau, dilansir dari Okezone.com, Minggu (15/11).

Kominfo sudah meneruskan temuan tersebut ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Karena Kominfo tidak berwenang menilai apakah konten tersebut melanggar ketentuan kampanye daring atau tidak.

Anthonius mengatakan Kominfo juga telah menindak beberapa konten negatif terkait pilkada tersebut. Salah satunya memblokir konten yang diunggah ke medsos.

“Kami akan memblokir atau take down konten (negatif) yang ada di medsos,” ujarnya.

Mantan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo dalam berbagai kesempatan memberikan tips untuk mengidentifikasi berita atau informasi hoaks. Berita hoaks biasanya akan semakin gencar muncul ketika di masa kampanye Pemilu atau Pemilihan. Berikut ciri-ciri hoaks:

1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan.

2. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.

3. Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.

4. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.

5. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat.

6. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.

7. Memberi penjulukan.

8. Minta supaya di-share atau diviralkan.

9. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.

10. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.

11. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.

12. Manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Politik

Gegara Asam Lambung, Aditya Absen di Debat Pertama Pilwali Banjarbaru 2020
apahabar.com

Politik

Baca Hasil 5 Survei Terakhir Jokowi vs Prabowo
Denny

Politik

Tidak Klaim Kemenangan, Denny Indrayana Sampaikan 4 Poin Ini
apahabar.com

Politik

Prabowo Minta Jenazah KPPS Divisum
apahabar.com

Politik

Akar Rumput Menguat, Perolehan Suara SHM-MAR di Pilkada Tanbu Diprediksi Sulit Dibendung
apahabar.com

Politik

Intip Sederet Gagasan Zairullah Azhar-Rusli Majukan Kabupaten Tanah Bumbu
apahabar.com

Politik

Relawan Tanah Laut Bersatu Dukung Jokowi-Ma’ruf
apahabar.com

Politik

Petahana Ibnu Sina Dorong Legalitas Relawan BPK Banjarmasin
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com