Pascabanjir Kalsel, Wamen LHK Siapkan 5 Aspek Pemulihan Lingkungan Update Covid-19 Tanbu: Sembuh 1 Orang, Positif Nihil 6 Preman Kampung Pemeras Warga di Jalan Nasional Kalsel-Kaltim Disikat Polisi Pasangannya Meninggal, Rahmad Masud: Saya Masih Nggak Nyangka, Ini Seperti Mimpi Wawali Terpilih Meninggal, Begini Penjelasan RSP Balikpapan

Ada Longsor di Haratai, Sungai Amandit Keruh

- Apahabar.com Senin, 14 Desember 2020 - 18:06 WIB

Ada Longsor di Haratai, Sungai Amandit Keruh

Sungai Amandit yang keruh dari wilayah hulu pegunungan. Sumber: Istimewa

apahabar.com, KANDANGAN – Longsor yang terjadi pada salah satu gunung di wilayah desa Haratai, Kecamatan Loksado, menyebabkan air sungai keruh hingga sepanjang Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Dalam beberapa bulan ini, intensitas curah hujan cukup tinggi di Pegunungan Meratus. Hal itu mengakibatkan terjadinya longsor dan pohon tumbang di salah satu gunung, yang membuat air Sungai Amandit menjadi keruh dari wilayah hulu.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (Dispera KPLH) Kabupaten HSS, Ronaldy Prana Putra menyebutkan, berdasarkan laporan pihaknya di lapangan dan Camat Loksado, terjadi longsor di sekitar Gunung Landuyan, Desa Haratai.

Tanah longsoran terkikis hujan dan turun ke Sungai Landuyan. Lalu mengalir ke Sungai Amandit di wilayah Desa Haratai dan perlahan sampai ke sepanjang Sungai Amandit.

Ronaldy berujar, pihaknya ingin menurunkan alat berat dan berkoordinasi dengan Dinas PUTR untuk mengurangi dampak longsor tersebut. Namun, alat berat tidak bisa masuk, karena medan cukup ekstrim.

Bahkan, ungkapnya, tim yang memeriksa telah melaporkan, titik longsor cukup jauh dari pemukiman.

“Menuju Haratai hanya bisa dengan kendaraan roda dua. Kemudian menuju lokasi hanya bisa dengan berjalan kaki, yang ditempuh sekitar 5 sampai 7 jam,” ungkapnya.

Pihaknya berupaya melakukan penanggulangan kekeruhan Sungai Amandit. Selain faktor alam tersebut, sebelumnya ada faktor non alam lain.

Salah satunya, bekas lubang pertambangan tanpa izin (Peti), yang sebelumnya beroperasi di pinggir sungai yang bermuara ke Sungai Amandit. Lalu, pertambangan galian C atau pasir yang beroperasi di Sungai Amandit.

Diungkapkannya, saat ini sudah menemukan jalan keluar, terkait penanggulangan faktor non alam tersebut, dan saat ini masih dalam proses.

Diharapkan, masyarakat dapat mendukung dan segera dapat ditanggulangi seluruh faktor penyebab kekeruhan sungai tersebut.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Politeknik Kotabaru Mewisuda Puluhan Sarjana Siap Pakai
apahabar.com

Kalsel

Ditemukan 4 Sampel Makanan Mengandung Bahan Berbahaya
apahabar.com

Kalsel

Kisah Dokter Zainal: Disayang Warga, Dibuang ke Pulau Sembilan, Dewan Pasang Badan
apahabar.com

Kalsel

Pilkada di Tengah Pandemi, KPU dan Bawaslu Kalsel Minta Dana Tambahan
apahabar.com

Kalsel

Rendah Serap APBD, Penghasilan Tambahan Kepala SKPD Dipangkas
apahabar.com

Kalsel

Karena IPK, 2 Wisudawati Uniska Banjarmasin Diganjar Umrah
apahabar.com

Kalsel

Sambut Harjad Ke 494 Banjarmasin: Ratusan Goweser Meriahkan Night Ride, Deklarasikan Kota Ramah Pesepeda
apahabar.com

Kalsel

BMKG Prakirakan Kalsel Pagi Berawan, Siang Hujan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com