Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Terparah, Walhi-Jatam Sepakat Class Action Data Lengkap Korban Longsor Mantewe Tanah Bumbu, Dari Amuntai hingga Kapuas Banjir Kalsel Berbuntut Panjang, Lawyer Banua Ancam Gugat Paman Birin Banjir Kalsel, Warga Kompleks Elite Nyinyir Rumah Miliaran “Calap Jua” Berakhir Hari Ini, Pembatasan Banjarmasin Ambyar Diterjang Banjir

Awas, Penggunaan Berulang Minyak Jelantah Dapat Memicu Kanker

- Apahabar.com Selasa, 29 Desember 2020 - 12:05 WIB

Awas, Penggunaan Berulang Minyak Jelantah Dapat Memicu Kanker

Sebelum membeli gorengan, sebaiknya perhatikan dulu kejernihan minyak goreng. Foto: Kompas

apahabar.com, JAKARTA – Jangan meremehkan penggunaan minyak goreng jelantah. Kalau dipakai berulang-ulang, justru bisa memicu kanker.

Makanan yang digoreng memang digemari banyak orang, khususnya di Indonesia. Selain kaya vitamin karena minyak goreng dibuat dari unsur nabati, makanan juga lebih gurih.

Namun tidak jarang minyak yang digunakan untuk menggoreng, sudah digunakan berulang kali atau minyak jelantah.

Ironisnya minyak jelantah lazim digunakan masyarakat Indonesia. Padahal jelantah memiliki banyak risiko buruk untuk tubuh.

“Minyak yang digunakan berulang juga sudah tidak lagi memiliki kandungan gizi,” papar Analis Kesehatan dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kendari, Satya Darmayani, seperti dilansir Antara.

“Penggunaan minyak jelantah lebih dari tiga kali dipastikan tidak baik untuk kesehatan, karena mengandung senyawa bersifat karsinogenik atau zat yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel kanker,” imbuhnya.

Ikhwal pertumbuhan sel kanker itu disebabkan radikal bebas yang dihasilkan jelantah. Semakin sering menggoreng dengan minyak jelantah, bertambah pula radikal bebas yang menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan mutasi gen.

Mereka yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas, seharusnya lebih memperhatikan penggunaan minyak jelantah.

Penyebabnya minyak jelantah memiliki kadar kalori dan lemak trans yang terus meningkat. Kelebihan kalori dan lemak trans itulah yang memicu obesitas.

Saking tidak lagi bermanfaat untuk kesehatan, minyak jelantah sedianya hanya digunakan untuk mencuci perkakas yang berkarat.

“Kalau langsung dibuang ke lingkungan, juga memiliki berbagai dampak negatif. Di antaranya menjadi beban pencemar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD),” papar Satya.

“Hal yang tidak kalah penting adalah minyak jelantah masuk dalam kategori limbah B3, sehingga harus dibuang dengan benar,” tambahnya.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalisir limbah minyak jelantah adalah mendaur ulang minyak jelantah menjadi lilin atau sabun.

“Sabun dibuat dengan mencampurkan minyak atau lemak dengan alkali melalui proses saponifikasi. Sabun dari minyak jelantah ini dapat digunakan untuk membersihkan barang-barang yang tidak digunakan langsung untuk tubuh manusia,” tandas Satya.

Menukil artikel berkeluarga.id, jelantah juga bisa diolah menjadi aroma terapi. Sebelumnya minyak jelantah harus dijernihkan dulu.

Lalu direndam dengan ampas tebu selama kurang lebih dua hari. Selanjutnya masukkan bubuk jeli dan aroma kesukaan.

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Iduladha Istimewa Etty, Bebas Hukuman Mati di Saudi Kumpul Keluarga Lagi
apahabar.com

Nasional

PLN Ajak Masyarakat Beralih ke Kompor Listrik, Katanya Hemat Rp 50.000 per Bulan

Nasional

Kadin Sambut Positif Penundaaan Pelonggaran Modal Asing
apahabar.com

Nasional

Artis VS Pasang Tarif Rp30 Juta
apahabar.com

Nasional

Buku “Satu Malam di Baitullah Bersama Jokowi” Diluncurkan
apahabar.com

Nasional

Baku Tembak dengan KKSB Papua, 2 Prajurit TNI Gugur
apahabar.com

Nasional

Kepala BNPB : 99 Persen Karhutla Ulah Manusia
apahabar.com

Nasional

Polisi: SPDP Prabowo Ditarik Karena Belum Saatnya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com