Blak-blakan Walhi Soal Biang Kerok Banjir Kalsel BREAKING NEWS: Usai Pasukan Katak, Giliran Paskhas Mendarat di Kalsel Meletus! Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer Edan! 2 Pria Pembawa Sabu 11 Kg Tertangkap di Duta Mall Licin, Bos Travelindo Terduga Penipu Jemaah DPO Sejak Tahun Lalu

Bukan Pilihan Utama, Atap Daun Rumbia dari Anjir Muara Batola Tetap Diminati

- Apahabar.com Minggu, 20 Desember 2020 - 21:37 WIB

Bukan Pilihan Utama, Atap Daun Rumbia dari Anjir Muara Batola Tetap Diminati

Sembari menunggu musim tanam atau panen, ibu-ibu di Anjir Serapat Muara membuat atap daun rumbia. Foto: Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – Kendati bukan lagi pilihan utama bahan bangunan, sejumlah pengrajin atap daun rumbia masih bertahan di Barito Kuala.

Memang dibandingkan seng, asbes hingga sirap sekalipun, atap daun rumbia memiliki ketahanan yang terbilang rendah.

Oleh karena terbuat dari tumbuhan, atap daun rumbia juga rentan terbakar, terutama yang berumur lebih dari 5 tahun.

Namun demikian, sejumlah pembuat atap daun rumbia masih banyak ditemui di Batola. Salah satunya di Desa Anjir Serapat Muara Kecamatan Anjir Muara.

Kebanyakan pembuat atap daun rumbia dari kalangan ibu-ibu rumah tangga. Biasanya mereka mulai bekerja, ketika intensitas pekerjaan di sawah mulai berkurang.

“Lumayan untuk menambah penghasilan, terutama kalau pekerjaan di sawah sudah tidak terlalu banyak,” papar Nita, salah seorang pembuat atau daun rumbia.

Satu lembar atap daun rumbia dijual seharga Rp1.000. Kalau dikerjakan terus-menerus, mereka mampu membuat minimal 2.000 lembar per bulan atau menghasilkan pendapatan Rp200 ribu.

“Kami sudah turun-temurun membuat atap daun rumbia. Saya sendiri sudah sekitar 20 tahun menjalani usaha ini,” jelas Nita.

Tidak hanya daun, rumbia yang sudah tua dan mengandung sagu, dapat dijual seharga Rp60 ribu sampai dengan Rp80 ribu.

“Sampai sekarang kami belum kekurangan bahan baku. Selain di belakang rumah, banyak pohon rumbia di pinggir jalan dan sungai,” sahut Suriah, Kepala Desa Anjir Serapat Muara.

Pemasaran dilakukan di pasar-pasar terdekat. Juga tidak jarang konsumen datang sendiri dan membeli ribuan lembar atap daun rumbia.

“Memang atap daun rumbia sudah jarang dipakai untuk rumah tinggal. Biasanya kami memakai atap daun untuk pondok di sawah atau kandang ternak,” beber Mujahidin, salah seorang pembeli dari Alalak.

“Selain ringan dan cukup baik menahan panas, atap daun rumbia lebih murah ketimbang seng atau asbes,” tandasnya.

Daun Rumbia

Kendati kurang awet, atap daun rumbia dipilih lantaran ringan dan cukup banyak menahan panas. Foto: Istimewa

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Aksi Anti Omnibus Law Berlanjut, Buruh di Kalsel Rencanakan Gelar Unjuk Rasa Pada 10 November
Reses, Saatnya Wakil Rakyat Perjuangan Aspirasi Masyarakat   

Kalsel

Reses, Saatnya Wakil Rakyat Perjuangan Aspirasi Masyarakat   
apahabar.com

Kalsel

Jaga Keamanan, Polsek Aranio Rutin Lakukan Patroli Cipkon
apahabar.com

Kalsel

FPI Balangan Galang Dana untuk Korban Banjir
apahabar.com

Kalsel

Menanam Cinta Seni Budaya kepada Pelajar di Balangan, SKB Goes to School
apahabar.com

HSS

Manugal, Tradisi Masyarakat Meratus Gotong-Royong Tanam Padi

Kalsel

Rumah Lanting Menghilang, Pasaran Bambu Lesu
apahabar.com

Kalsel

Kabar Gembira, Jalan Perdagangan Kayutangi Segera Diaspal
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com