Hingga Hari ke-10 Memori CVR Sriwijaya Air Belum Ditemukan Menteri Siti Blakblakan Biang Kerok Banjir Kalsel, Bukan Tambang dan Sawit UPDATE 264 Rumah di HST Hilang Disapu Banjir, 9 Meninggal BANYU LALU HAJA Tim Paman Birin Mau Polisikan Warga, Peradi-Komnas HAM Pasang Badan Duuh, 8 Kecamatan di Tanah Laut Hilang Disapu Banjir

Jurnalis Tak Dibekali APD, AJI Ingatkan Tanggung Jawab Perusahaan Media

- Apahabar.com Jumat, 25 Desember 2020 - 16:28 WIB

Jurnalis Tak Dibekali APD, AJI Ingatkan Tanggung Jawab Perusahaan Media

Meski pandemi kian menggila, AJI mencatat masih banyak perusahaan media yang tak membekali jurnalisnya dengan APD. Foto-Komite Perlindungan Jurnalis

apahabar.com, JAKARTA – Hingga pengujung tahun 2020, penyebaran Virus SARS-Cov-2 atau Virus Corona tipe baru penyebab Covid-19 belum juga bisa diredam.

Secara global, virus ini telah menginfeksi hampir 80 juta manusia dan menewaskan 1,7 juta jiwa.

Di Indonesia, jumlah kasus Covid-19 hampir menyentuh angka 700.000 kasus dengan korban meninggal lebih dari 20.000 jiwa.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan meminta perusahaan media tak menyepelekan pandemi sekali pun di tengah situasi krisis seperti sekarang awak media tetap melakukan peliputan.

“Media sangat dibutuhkan untuk memberikan informasi yang terpercaya dan melakukan literasi publik terkait pandemi tapi pandemi ini tak boleh dianggap sepele,” ujarnya Manan, dalam siaran persnya, Jumat (25/12).

Dalam melaksanakan tugasnya, para pekerja media sangat rentan tertular virus Corona. Pekerja media juga rawan menularkan virus tersebut ke orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga.

Oleh karena itu, perusahaan media wajib memberikan perlindungan ekstra kepada para pekerjanya.

Berdasarkan hasil survei Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama International Federation Journalists (IFJ) pada 27 Oktober-13 November 2020, dari total 792 pekerja media yang menjadi responden, sebanyak 63,2 persen mengaku tidak dibekali alat pelindung diri (APD) dari perusahaannya. Hanya 36,8 persen responden yang menyatakan dibekali APD.

Riset juga menemukan bahwa masih sedikit media yang memberikan fasilitas rapid test maupun swab test (PCR). Sebanyak 63,8 persen responden mengaku perusahaannya tidak menyediakan layanan tes Covid-19 dan hanya 23,9 persen yang mengatakan ada layanan tes Covid-19.

Namun, yang tidak kalah penting dilakukan adalah upaya pencegahan dan penanganannya. Apabila di lingkungan media diketahui ada pekerja media yang positif Covid-19, maka perusahaan media wajib melakukan tindakan segera dan menyampaikan kepada otoritas kesehatan guna kepentingan penelusuran kontak (tracing).

Mengingat tingginya risiko bagi pekerja media dan pentingnya media mengawal upaya penanganan Covid-19, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyampaikan sikap:

1. Mendesak perusahaan media untuk terbuka dan transparan jika terdapat pekerjanya yang terindikasi positif Covid-19. Selama ini media selalu mendesak pemerintah terbuka dalam menangani pandemi. Sudah seharusnya juga menerapkan prinsip yang sama jika ada kasus Covid-19 yang dialami pekerjanya. Sikap itu antara lain bisa ditunjukkan dengan mengumumkan situsi terkini kepada seluruh pekerjanya dan memberitahu otoritas bidang kesehatan atau Satgas Penanganan Covid-19.

2. Mendesak perusahan media segera bertindak jika ada pekerjanya yang terindikasi positif Covid-19. Pekerja yang positif hendaknya segera diusahakan untuk mendapatkan perawatan. Bagi yang diketahui punya kontak erat, diminta melakukan isolasi mandiri. Tindakan segera ini dimaksudkan untuk melindungi pekerja lainnya, keluarganya, narasumbernya, dan publik yang kemungkinan melakukan kontak dengan para pekerja media. Perusahaan media perlu ingat bahwa kesehatan adalah salah satu hak pekerja yang itu diatur dalam pasal 35 dan 86 Undang Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

3. Perusahaan media wajib menyediakan alat Pelindung diri (APD) dan fasilitas tes Covid-19 (PCR atau antigen) bagi jurnalis maupun pekerja media yang masih turun ke lapangan melakukan peliputan.

4. Demi keselamatan jurnalis dan pekerja media, perusahaan media perlu memperhatikan keamanan dari acara-acara yang akan diliput jurnalis. Untuk saat ini, cukup bijak jika perusahaan media tidak menugaskan jurnalis ke acara yang dihadiri orang banyak dan tidak memungkinkan untuk jaga jarak minimal 1,5 meter.

5. Untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan perusahaan, perlu ada disinfeksi secara rutin dan sesuai standar kesehatan di lingkungan kerja masing-masing.

6. Perusahaan media perlu memiliki protokol kesehatan dan membuat panduan peliputan yang aman untuk menjaga keselamatan para jurnalis dan pekerja media. Protokol tersebut mencakup langkah-langkah pencegahan dan penanganan jika jurnalis terinfeksi Covid-19. Selain memiliki protokol dan panduan peliputan, yang tak kalah penting adalah menerapkannya secara konsisten.

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Jokowi Puji Inovasi Anak Bangsa Lawan Covid-19
Idham Azis Akan Segera Pilih Polwan Berprestasi Jadi KapoldaIdham Azis Akan Segera Pilih Polwan Berprestasi Jadi Kapolda

Nasional

Idham Azis Akan Segera Pilih Polwan Berprestasi Jadi Kapolda
apahabar.com

Nasional

Gempa 4,5 SR Guncang Lombok Tengah NTB
apahabar.com

Nasional

Pasangan Prabowo-Sandi Unggul di Ternate
apahabar.com

Nasional

Gubernur Kaltim Dinilai Gagal Paham, Sebut Bukit Soeharto Bukan Hutan Lindung
apahabar.com

Nasional

Pemindahan Ibu Kota Perlu Dukungan Politik
apahabar.com

Nasional

UAS Bersama 10 Ribu Jemaah Bakal Peringati 14 Tahun Tsunami Aceh
apahabar.com

Nasional

Menperin Optimistis UU Cipta Kerja Akan Pacu Reindustrialisasi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com