Pascabanjir Kalsel, Wamen LHK Siapkan 5 Aspek Pemulihan Lingkungan Update Covid-19 Tanbu: Sembuh 1 Orang, Positif Nihil 6 Preman Kampung Pemeras Warga di Jalan Nasional Kalsel-Kaltim Disikat Polisi Pasangannya Meninggal, Rahmad Masud: Saya Masih Nggak Nyangka, Ini Seperti Mimpi Wawali Terpilih Meninggal, Begini Penjelasan RSP Balikpapan

Masukkan Soal Ras dan Etnis, Twitter Perluas Aturan Ujaran Kebencian

- Apahabar.com Kamis, 3 Desember 2020 - 12:11 WIB

Masukkan Soal Ras dan Etnis, Twitter Perluas Aturan Ujaran Kebencian

Ilustrasi twitter di Smartphone. Foto: AFP via Jpnn.com

apahabar.com, PALO – Twitter Inc pada Rabu (2/12) waktu setempat atau Kamis WIB memperluas kebijakan yang melarang ujaran kebencian.

“Bahasa yang merendahkan manusia atas dasar ras, etnis dan asal negara,” kata Twitter perusahaan jejaring sosial tersebut dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Antara, Rabu (3/12).

Pada tahun lalu, Twitter melarang ujaran yang merendahkan martabat orang lain berdasarkan agama atau kasta dan memperbarui aturan tersebut pada Maret untuk menambahkan soal usia, kecacatan, dan penyakit ke dalam daftar kategori yang dilindungi dari ujaran kebencian.

Kelompok hak sipil, Color of Change, menyebut perubahan dengan membuat aturan tersebut sebagai “konsesi penting” setelah bertahun-tahun mengalami tekanan dari luar.

Color of Change merupakan bagian dari koalisi organisasi advokasi yang telah mendorong perusahaan teknologi untuk mengurangi ujaran kebencian secara daring.

Seorang juru bicara Twitter mengatakan perusahaan itu telah merencanakan sejak awal untuk menambahkan kategori baru ke dalam kebijakannya dari waktu ke waktu setelah pengujian untuk memastikannya dapat secara konsisten menegakkan aturan yang diperbarui.

Dalam sebuah pernyataan, Wakil Presiden Color of Change, Arisha Hatch mengkritik Twitter karena gagal memperbarui kebijakan sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat pada November, meskipun telah berulang kali diperingatkan oleh kelompok-kelompok advokasi tentang ujaran berbau kekerasan dan tidak manusiawi.

Hatch juga mengatakan Twitter telah menolak untuk memberikan transparansi tentang cara moderator kontennya dilatih dan kemanjuran kecerdasan buatannya dalam mengidentifikasi konten yang melanggar kebijakan.

“Opini publik sejauh ini masih belum diketahui untuk sebuah perusahaan dengan rekam jejak buruk dalam penerapan kebijakan dan menegakkan aturannya bagi para pengguna ekstremis sayap kanan,” katanya.

“Tanpa bukti kuat bahwa perusahaan akan menindaklanjutinya, pengumuman peraturan ini akan jatuh ke dalam kategori yang berkembang dari penawaran aksi humas yang sedikit agak terlambat,” ujar Hatch.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Menhan

Internasional

Menhan Pilihan Biden Janji Perangi Ekstremis
Kereta Barang Ekspor

Internasional

Kereta Barang Ekspor Turki-China Berangkat Perdana,Lewati Dua Benua dan Dua Laut
apahabar.com

Internasional

Film Dokumenter Pembunuhan Jurnalis Jamal Khashoggi Tayang di Zurich

Internasional

Konflik Meningkat, Pemerintah Afghanistan Minta JK Fasilitasi Dialog dengan Taliban
apahabar.com

Internasional

AS Memanas Pasca-Kematian George Flyod, Protes Meluas dari LA hingga Chicago
apahabar.com

Internasional

Bank Sentral Dunia Bahas Mata Uang Digital
apahabar.com

Internasional

Jepang Latihan Militer di Laut China Selatan, Pemerintah Cina Geram
apahabar.com

Internasional

Ada Kabar Baik Vaksin, WHO: Tak Ada Waktu Berpuas Diri Terhadap Virus Corona
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com