Gubernur Sahbirin Mau Digugat karena Banjir Terparah, Walhi-Jatam Sepakat Class Action Data Lengkap Korban Longsor Mantewe Tanah Bumbu, Dari Amuntai hingga Kapuas Banjir Kalsel Berbuntut Panjang, Lawyer Banua Ancam Gugat Paman Birin Banjir Kalsel, Warga Kompleks Elite Nyinyir Rumah Miliaran “Calap Jua” Berakhir Hari Ini, Pembatasan Banjarmasin Ambyar Diterjang Banjir

Wartawan Jangan Ragu Investigasi Bentrok FPI-Polisi

- Apahabar.com Selasa, 8 Desember 2020 - 20:28 WIB

Wartawan Jangan Ragu Investigasi Bentrok FPI-Polisi

Rilis penembakan saat penyelidikan kasus Rizieq Shihab. Foto-Liputan6.com

apahabar.com, JAKARTA Persatuan Wartawan Indonesia Pusat mendorong wartawan melakukan penelusuran dan investigasi kasus kematian laskar FPI dalam insiden di Kilometer 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Pasalnya, menurut PWI, kasus yang terjadi Senin 7 Desember kemarin itu, turut menyita perhatian dunia internasional.

Ilham Bintang menegaskan Dewan Kehormatan PWI Pusat perlu membuat pernyataan untuk mengurangi keraguan wartawan dalam mengungkap kebenaran, terkait kasus bentrokan antara aparat Polri dan laskar FPI.

“Pernyataan ini perlu untuk mengurangi keraguan wartawan dan media dalam melakukan investigasi terhadap peristiwa tol Cikampek,” tegas Ilham dalam rapat daring DK PWI, Selasa (8/12) petang.

Rapat dihadiri Ketua DK PWI Ilham Bintang, Sekretaris Sasongko Tedjo, anggota: Tri Agung, Asro Kamal Rokan dan Nasihin Masha.

Langkah wartawan untuk mengungkapkan kasus di tol Cikampek bukan untuk mencari siapa salah dan siapa benar.

Melainkan, kata dia, untuk menjalankan fungsi pers yang sesungguhnya, sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Wartawan Indonesia.

“Semagat kita menjaga kemerdekaan pers, menaati kode etik dan kode perilaku wartawan,” tambah Asro Kamal Rokan.

Guru jurnalislistik Bill Kovach dan Tom Rosentiel, kata dia, mengingatkan elemen dasar jurnalistik yang seharusnya dipatuhi oleh seorang wartawan.

Elemen itu pada perkembangannya bertambah menjadi sepuluh, dengan masuknya jurnalisme warga.

Namun, hal utama yang tidak boleh dilupakan wartawan, adalah kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.

Selain itu, Bill dan Tom mengingatkan pula, loyalitas pertama jurnalisme itu pada warga dan wartawan seharusnya berdisiplin dalam memverifikasi data dan informasi yang diperolehnya.

Tidak boleh ditinggalkan pula, karena bertanggungjawab pada publik, wartawan harus menjaga jarak yang sama terhadap narasumbernya dan menjadi pemantau yang independen terhadap kekuasaan.

Hal dasar dalam jurnalisme yang dianut banyak wartawan di seluruh dunia itu sebenarnya tersedia pula di Kode Etik Wartawan Indonesia tahun 2006, yang diinisiasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pula, bersama organisasi kewartawanan lain dan Dewan Pers.

Pasal 1 Kode Etik Wartawan Indonesia menegaskan wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik (pasal 2). Selain itu, pada pasal 3 dan 4 ditegaskan, wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Terkait dengan peristiwa kematian enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) Senin (7/12) lalu, sebagai akibat berbenturan dengan Kepolisian, dengan masing-masing laporan versi Polri atau FPI, Dewan Kehormatan PWI Pusat mendorong wartawan Indonesia untuk dapat mewujudkan keterbukaan informasi.

“Sehingga duduk perkara kasus itu terungkap,” ujarnya.

Hal ini senada pula dengan pesan Penasihat PWI Pusat mendiang Jakob Oetama (1931-2020), dalam buku “Pers Indonesia: Berkomunikasi dalam Masyarakat yang Tidak Tulus” (Penerbit Buku Kompas, 2004), yaitu: orang membaca surat kabar untuk mencari informasi, yakni informasi yang cukup lengkap, sehingga jelas duduknya perkara dan karena itu memberikan bahan informasi yang berarti.

Di era saat ini, media bukan hanya surat kabar, tetapi juga media elektronik, televisi dan radio, serta media online (dalam jaringan).

Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat Raja Parlindungan Pane pun menambahkan pers harus objektif dan menjunjung tinggi cover both side dan menyampaikan fakta yang terjadi.

“Pers jangan sampai partisan dan akhirnya PWI terkena imbasnya,” ujarnya.

Nashihin Masha menambahkan wartawan harus menjunjung fakta yang ditemukan. Bukan sekadar mengikuti pendapat narasumber.

Oleh karena itu, untuk mampu mengungkapkan fakta terkait kasus di Tol Cikampek yang sesungguhnya, tak bisa lain, wartawan harus turun ke lapangan.

Menurut Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat Sasongko Tedjo, dalam melakukan upaya mengungkapkan kebenaran terkait kejadian di tol Cikampek, wartawan tetap harus mengutamakan keselamatannya.

Tterutama dalam situasi pandemi Covid-19 hari ini. Tidak ada berita sehebat apapun yang seharga dengan keselamatan jiwa wartawan. Selain itu, ada kepentingan masyarakat dan bangsa yang harus dipertimbangkan pula. (*)

Editor: Fariz Fadhillah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Iduladha Istimewa Etty, Bebas Hukuman Mati di Saudi Kumpul Keluarga Lagi
apahabar.com

Nasional

Kasihan, Kaki Harimau Sumatra Terancam Amputasi
apahabar.com

Nasional

Gempa Magnitudo 6,3 di Jailolo Terasa Hingga Manado
apahabar.com

Nasional

Melihat Sepak Terjang Idham Azis yang Ditunjuk Jadi Kapolri  
apahabar.com

Nasional

Ada 33 Lembaga Survei Quick Count Terdaftar di KPU
apahabar.com

Nasional

Salahkan Muslim, Kepala Senator Australia Digepruk Telur
apahabar.com

Nasional

Pakta Integritas Tak Bocorkan Soal Debat Capres, Jika Melanggar Moderator dan Panelis Kena Sanksi
apahabar.com

Nasional

HIV/AIDS Papua Barat Kian Menyedihkan, Gubernur: Ayo Periksa
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com