Agya Vs Scoopy di Stagen Kotabaru, Gadis 17 Tahun Patah Kaki Hari Ini, 22 Warga Kotabaru Positif Covid-19 Polisi Ungkap Kronologis Kecelakaan Maut di Cempaka yang Tewaskan 1 Pengendara Ratusan Gram Sabu Gagal Edar di Kukar, Polda Kaltim Ringkus 1 Pelaku Mulai Besok, Wisata Dadakan di Liang Anggang Ditutup!

China Lockdown, Harga Minyak Dunia Terdampak

- Apahabar.com Senin, 18 Januari 2021 - 09:00 WIB

China Lockdown, Harga Minyak Dunia Terdampak

China lockdown, harga minyak mentah dunia terdampak. Foto-Ilustrasi kilang minyak/Depositphoto

apahabar.com, JAKARTA – China melakukan penguncian wilayah (lockdown) gelombang kedua Covid-19. Harga minyak mentah dunia pun terdampak.

Mengutip CNN Indonesia, Senin (18/1) pasar khawatir kebijakan lockdown menghentikan permintaan impor kuat minyak mentah dari China yang merupakan konsumen terbesar dunia.

Imbasnya, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret anjlok US$1,32 atau 2,3 persen menjadi US$55,10 per barel.

Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Februari turun US$1,21 atau 2,3 persen menjadi US$52,36 per barel.

Kedua kontrak acuan tersebut membukukan penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir. Tercatat, Brent melorot 1,6 persen pekan ini dan minyak mentah AS melemah sekitar 0,4 persen.

Produsen minyak menghadapi tantangan luar biasa untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan. Di satu sisi, sejumlah negara sudah mulai melakukan vaksinasi covid-19, tetapi di lain pihak kasus covid-19 terus bertambah, sehingga terjadi lockdown di sejumlah wilayah.

China sendiri melaporkan jumlah kasus harian covid-19 tertinggi dalam lebih dari 10 bulan pada Jumat (15/1) lalu. Akibatnya, Negeri Tirai Bambu itu memberlakukan pembatasan yang mengakibatkan lebih dari 28 juta orang diisolasi.

“Penyebaran pandemi covid-19 menjadi pusat perhatian lagi. Pedagang semakin khawatir tentang durasi penguncian wilayah Eropa yang lama dan tentang pembatasan baru di China,” kata analis dari Rystad Energy Bjornar Tonnage.

Sementara itu, presiden terpilih AS Joe Biden telah mengumumkan paket bantuan stimulus senilai hampir US$2 triliun.

Pasar berharap stimulus jumbo itu dapat meningkatkan permintaan minyak dari AS. Namun, beberapa analis mengatakan langkah tersebut mungkin tidak cukup untuk memicu permintaan.

“Berbicara tentang permintaan, Asia adalah satu-satunya titik terang,” kata mitra di Again Capital Management di New York John Kilduff.

Ia menyoroti lockdown yang terjadi lantaran China merupakan ‘jantung’ permintaan minyak di Asia.

Diketahui, impor minyak mentah ke China melonjak 7,3 persen pada 2020 karena permintaan mulai pulih pada akhir tahun seiring meredanya kasus covid-19 di China.

Namun, gelombang dua covid-19 di China memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap permintaan minyak mentah.

“Penguncian baru ini sangat mencolok di jantung permintaan Asia. Ini masalah,” imbuhnya.

Editor: M Syarif - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Global

Dianggap Bocorkan Rahasia Militer, Surat Kabar Nigeria Digerebek Tentara
apahabar.com

Global

1,3 Juta Ayam Dibantai di Hong Kong demi Lawan ‘Virus Misterius’
apahabar.com

Global

Kalbar-Kalteng Desak Moratorium Sawit, Kaltim Tuntut Anak Tewas di Lubang Tambang
apahabar.com

Global

India Buru Macan Tutul Pembunuh Biksu
apahabar.com

Global

Merasa Dikhianati Boeing, Rusdi Kirana Meradang!
apahabar.com

Global

Trump akan Campur Tangan dalam Penangkapan Eksekutif China
apahabar.com

Global

Politisi Australia Minta Maaf Pernah Ancam Umat Islam di FB
WHO Eropa

Global

WHO Eropa Khawatir Vaksin Covid-19 Tak Mampu Tangani Corona Baru
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com