Terima Kasih Warga Banjarmasin, Korban Banjir Batola Terima Bantuan dari Posko apahabar.com Operasi SAR SJ-182 Dihentikan, KNKT Tetap Lanjutkan Pencarian CVR Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Talaud Sulut, Tidak Berpotensi Tsunami Potret Seribu Sungai, Serunya Memancing di Jembatan Sudimampir Banjarmasin Menengok Kondisi Pengungsi Banjar di Kota Idaman Banjarbaru

Harga Kedelai Melonjak, Kementan Siapkan Ketersediaan Produksi Lokal

- Apahabar.com Senin, 4 Januari 2021 - 14:05 WIB

Harga Kedelai Melonjak, Kementan Siapkan Ketersediaan Produksi Lokal

Perajin membuat tahu di Krapayak X, Margoagung, Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (2/1/2021). Foto-Antara/Andreas Fitri Atmoko/pras

apahabar.com, JAKARTA – Menteri Pertanian (mentan), Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa pihaknya segera menyiapkan ketersediaan kedelai dari produksi lokal.

Hal itu sebagai respons atas melonjaknya harga kedelai di pasar dunia.

Harga kedelai saat ini melonjak hingga Rp9.300 per kilogram dari harga tiga bulan lalu yang masih di kisaran Rp6.000-Rp7.000 per kg, berdasarkan data Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo).

“Ini menjadi pelajaran untuk kita semua sehingga kekuatan [produksi] lokal dan nasional harus menjadi jawaban dari kebutuhan [kedelai] itu,” kata Syahrul usai menggelar rapat bersama Gakoptindo di Kantor Pusat Kementan Jakarta, seperti dilansir Antara, Senin (4/1).

Syahrul menilai bahwa harga kedelai di pasar dunia yang melonjak ini merupakan bagian dari kontraksi global. Meningkatnya harga kedelai dipengaruhi dari negara produsen utama, yakni Amerika Serikat.

Kementerian Perdagangan mencatat bahwa kenaikan harga dikarenakan kenaikan permintaan konsumsi dari China, negara importir kedelai terbesar dunia.

Indonesia yang menjadi negara importir kedelai terbesar setelah China, pun turut merasakan dampak dari kurangnya pasokan komoditas tersebut.

Akibatnya, kenaikan harga kedelai itu menjadi beban bagi para perajin tahu dan tempe yang terpaksa harus meningkatkan harga jualnya.

Menyikapi hal tersebut, Syahrul menjelaskan bahwa Kementan telah berkoordinasi dengan integrator dan pengembang kedelai untuk menggenjot produksi dalam negeri.

Ia mengatakan bahwa setidaknya dibutuhkan waktu 100 hari dalam satu kali masa tanam dan panen kedelai. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produsen tahu dan tempe, Syahrul menyebutkan bahwa diperlukan dua kali masa tanam.

“Ini kan membutuhkan 100 hari minimal kalau pertanaman. Dua kali 100 hari bisa kita sikapi secara bertahap sambil ada agenda seperti apa mempersiapkan ketersediaannya. Kita juga bekerja sama dengan kementerian lain,” kata Syahrul.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Penghargaan untuk ASN Jangan Kurangi Waktu Pelayanan Publik
apahabar.com

Nasional

Update Korban Longsor Sukabumi, BNPB: 9 Tewas, 4 Luka-Luka, 34 Hilang
apahabar.com

Nasional

Semua Pasien Positif Corona di Magetan Sembuh
apahabar.com

Nasional

Erick Thohir: Kabar OTT Romi Tak Gerus Suara Jokowi

Nasional

Video: Ribuan Keluarga di Papua Terdampak Banjir dan Longsor
vaksin

Nasional

Sudah Tiba di Indonesia, Siapa Pertama Divaksin Covid-19 Sinovac?

Nasional

Dipanggil Polisi, Anies Bandingkan Penanganan Massa Habib Rizieq dengan Pilkada Serentak
apahabar.com

Nasional

Pimpin Ratas Soal Mudik, Presiden Jokowi: Fokus Kita Mencegah Meluasnya Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com