Wow, Kalteng Targetkan Groundbreaking Kereta Api Tahun Ini Gugatan 2BHD Diterima, Ketua MK Pimpin Langsung Sengketa Pilbup Kotabaru Viral Jembatan Alalak II Patah Akibat Macet Parah, Cek Faktanya Banjir Belum Reda, Warga Desa Bincau Terancam Kekurangan Makanan Update Covid-19: Belasan Warga Kapuas Sembuh, 1 Positif

Membingkai Bayang-Bayang, Memoar Perjalanan Hidup Sutarto Hadi

- Apahabar.com Rabu, 13 Januari 2021 - 20:06 WIB

Membingkai Bayang-Bayang, Memoar Perjalanan Hidup Sutarto Hadi

Talk show virtual bertema, "Bicara Buku Membingkai Bayang-Bayang" karya Sutarto Hadi, dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalimantan Selatan, Rabu (13/1). Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalimantan Selatan menggelar talk show virtual bertema, “Bicara Buku Membingkai Bayang-Bayang” karya Sutarto Hadi, Rabu (13/1).

Webinar pertama di awal 2021 ini menunjukkan konsistensi Dispersip Kalsel dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

“Ada banyak semangat dan inspirasi dalam buku beliau yang patut disebarkan ke khalayak umum. Ini menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi Dispersip Kalsel,” kata Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani, dalam sambutannya.

Buku Membingkai Bayang-Bayang adalah sebuah memoar perjalanan hidup Sutarto Hadi yang mengisahkan masa kecilnya sampai berhasil menjadi rektor di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

“Saya rasa bagus untuk dibagikan ke generasi muda. Segala sesuatu itu harusnya ditulis supaya bisa menjadi legacy bagi kita,” kata Sutarto.

Motivasi menulis juga didapatkan ketika dia bertemu seorang penulis ternama di Belanda. Dari pembicaraan keduanya, Sutarto mendapat pesan agar mulai menulis saat menemukan ide-ide cemerlang dan brilian.

“Saya terinspirasi. Beliau yang membimbing saya saat seleksi mendapatkan beasiswa di negeri Belanda dan selama di sana banyak membantu. Beliau adalah penulis buku anak,” urai pria kelahiran Banjarmasin, 31 Maret 1966 silam.

Selama menjabat sebagai petinggi ULM selama dua periode, Sutarto mengaku banyak perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

Sedikit banyak tulisannya juga menyinggung orang-orang sekitar yang berperan dalam perjalanan karirnya. Misalnya ketika ULM menerima dana hibah Rp 500 miliar untuk pembangunan gedung serta sarana dan prasarana perkuliahan.

“Saya kasihan terhadap orang-orang yang bekerja tanpa pamrih namun tidak mengharapkan pujian (silent worker). Tetapi kerja mereka diklaim oleh satu orang. Saya kasihan dan mau mengungkapkan ini dalam sebuah buku yang bisa menjelaskan kepada khalayak bahwa semua adalah hasil kerja bersama,” jelasnya

Dalam buku itu, dia juga mengisahkan bagaimana ULM bisa memeroleh akreditasi A, meningkatkan infrastruktur, hingga menambah SDM tenaga pengajar yang diisi para doktor dan guru besar.

Dia menilai kesuksesan itu merupakan hasil kontribusi banyak orang, bukan hanya karena peran seorang rektor.

“Motivasi lainnya, saya ingin mengangkat ULM ini. Mempromosikannya lewat buku akan membuat ULM lebih dikenal orang,” imbuhnya.

Alasan yang dia ungkapkan tadi, berangkat dari minimnya pengetahuan masyarakat di luar Kalsel atas eksistensi ULM di tingkat nasional.

Sebelum dicetuskan dengan sebutan ULM, kampus yang berada di dua kota besar di Kalsel ini akrab dengan nama Unlam.

“Orang ingat konotasi Unlam itu adalah Lampung, bukan Lambung Mangkurat. Menerbitkan buku itu adalah salah satu promosi,” lanjut Guru besar Matematika ULM ini.

Sutarto mengaku miris mendapati perguruan tinggi yang telah berusia 60 tahun itu tidak mendapat tempat di kalangan mahasiswa luar Kalimantan. Buku Membingkai Bayang-Bayang juga diharapkan dapat meluruskan sejarah bahwa institusi tersebut dibangun oleh usaha kolektif bersama, bukan oleh personal.

“Banyak hal yang memotivasi saya untuk menulis buku itu. Bayang-bayang itu bisa berarti angan-angan atau cita-cita yang dibingkai menjadi sesuatu yang nyata,” kata dia

Dalam talk show ini, Dispersip Kalsel juga menghadirkan sejumlah nama yang turut berperan dalam pembuatan buku Membingkai Bayang-Bayang karya Sutarto Hadi.

Mereka adalah Sumasno Hadi, pemimpin redaksi berita ULM dan Sainul Hermawan, akademisi ULM sekaligus kritikus sastra Kalsel. Sementara yang menjadi moderator adalah novelis Randu Alamsyah.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Tak Masuk DPT, Cukup Pelihatkan e-KTP
Denny

Kalsel

Sumbangan Tembus Rp 60 Juta, H2D Balas Nyinyiran Puar-Rifqi
apahabar.com

Kalsel

Minus PDIP, Ibnu Incar Sejumlah Partai Pengusung di Pilwali Banjarmasin
Update Covid-19 Kalsel: PDP Meroket, Warga Tanbu Diminta Waspada

Kalsel

Update Covid-19 Kalsel: PDP Meroket, Warga Tanbu Diminta Waspada
apahabar.com

Kalsel

Heboh Warga Badandan di Batola Memperoleh Sumber Gas
Denny

Kalsel

UPDATE Penghitungan KPU Kalsel: Suara Masuk 42,62 Persen, Denny-Difri Masih di Puncak
apahabar.com

Kalsel

Jelang HUT RI, 150 Anggota Polres Tapin Gelar Doa Bersama
apahabar.com

Kalsel

Heboh, Ada Sarang Piton di Kolong Rumah Pasca-banjir
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com