Menkes Ungkap Tambahan Kasus Mutasi Corona Baru, 1 dari Kalsel Amuntai Heboh! Belasan Balita Diduga Keracunan Usai Konsumsi Soto Duh, Wali Kota Balikpapan Terpilih Dipolisikan Terkait Dugaan Ijazah Palsu Ultah Corona di Banjarmasin: Pasien Positif Pertama Puji Syukur Kesembuhan Cerai dengan Adaro, Pama Gerak Cepat Antisipasi Gelombang PHK Massal

Sepanjang Pekan Ini, Harga Emas Antam Loyo

- Apahabar.com Sabtu, 16 Januari 2021 - 12:53 WIB

Sepanjang Pekan Ini, Harga Emas Antam Loyo

Ilustrasi emas Antam. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Sepanjang pekan ini, harga emas Antam mengalami penurunan.

Dilansir dari CNBC Indonesia, harga emas Antam dipatok di Rp 956.000/gram, Jumat (16/01) kemarin. Sementara pada Jumat (8/01) pekan lalu, harga emas Antam berada di level Rp 969.000/gram. Kemarin Artinya dalam sepekan harga emas Antam drop 1,3%.

Hari ini, Sabtu (16/01) harga logam mulia tersebut dibanderol Rp 948.000/gram. Apabila dibandingkan dengan harga kemarin emas Antam mengalami penurunan 0,8%.

Volatilitas harga emas Antam cenderung mengekor harga emas global. Di sepanjang pekan ini harga emas dunia rontok 1,17%.

Dalam dua pekan terakhir harga emas ambles 3,6%. Pada periode yang sama indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap kelompok mata uang lain menguat hampir 1%.

Emas dan dolar AS memang punya korelasi negatif yang kuat. Artinya pergerakan emas dan dolar AS saling berlawanan. Ketika dolar AS menguat harga emas cenderung tertekan.

Alasannya pun beragam. Emas ditransaksikan dalam mata uang Paman Sam. Ketika dolar AS mengalami apresiasi artinya harga emas menjadi semakin mahal sehingga mengurangi minat beli terhadap aset yang tak berimbal hasil tersebut.

Selain itu, emas juga punya nilai historis dan pernah digunakan sebagai tools kebijakan moneter. Berbeda dengan mata uang fiat yang bisa dicetak dalam jumlah besar oleh bank sentral kapan saja terutama saat krisis seperti sekarang ini.

Dalam pandangan kaum monetarist, pasokan uang yang berlimpah hanya akan menimbulkan fenomena kenaikan harga di kemudian hari alias inflasi.

Pandemi Covid-19 di tahun 2020 membuat kebijakan makroekonomi global menjadi akomodatif. Bank sentral memangkas suku bunga acuan dan membeli aset-aset keuangan terutama obligasi pemerintah (quantitative easing/QE) untuk menginjeksi likuiditas ke sistem keuangan.

Otoritas fiskal juga menempuh kebijakan yang ekspansif melalui pengucuran stimulus dengan nominal yang jumbo.

Bersama dengan membengkaknya anggaran, pasar melihat adanya risiko inflasi yang tinggi dan instabilitas ekonomi di masa mendatang akibat melonjaknya utang.

Seperti biasa, karakteristik pasar yang forward looking mulai mengantisipasinya. Emas yang jadi salah satu aset yang banyak digunakan untuk lindung nilai (hedging) dari risiko inflasi dan buruknya kinerja aset-aset investasi lainnya mengalami kenaikan harga.

Tahun 2020 telah menjadi saksi bagi keperkasaan emas. Tahun lalu harga logam kuning itu melesat lebih dari 20% melampaui kinerja saham.

Namun belakangan ini emas loyo. Bahkan ketika ada ready viewed proposal untuk menggelontorkan stimulus senilai US$ 1,9 triliun yang disampaikan oleh Presiden AS terpilih Joe Biden.

Kenaikan kasus Covid-19 di banyak negara dan memicu respons penerapan lockdown oleh pemerintah dan membuat pelaku pasar berspekulasi mimpi buruk yang terjadi pada Maret tahun lalu akan terulang.

Saat pasar keuangan global ambrol tahun lalu investor lebih memilih uang tunai cash sebagai aset yang dipegang. Namun bukan sembarang cash yang diinginkan, melainkan dolar AS yang dikenal sebagai safe currency.

Indeks dolar yang sudah tertekan hebat ke level terendah hampir tiga tahun pun akhirnya menemukan momentum untuk rebound. Kenaikan dolar AS inilah yang membuat harga emas anjlok di pasaran.

Meskipun pelaku pasar menilai tren pelemahan dolar AS akan berlanjut hingga tahun ini dan Federal Reserves sebagai bank sentral AS menegaskan tak akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya hingga tahun 2023 belum mampu menjadi katalis positif untuk emas minggu ini.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Rupiah Menguat Jelang Rilis Neraca Perdagangan
apahabar.com

Ekbis

Korban Perang Dagang AS-China, Harga Minyak di Asia Turun
apahabar.com

Ekbis

Malam Lebaran, Penjual Peci di Kelayan Ketiban Cuan
apahabar.com

Ekbis

Akhir Tahun, Stimulus Rp1.039 Triliun Ditarget Terealisasi
apahabar.com

Ekbis

Butuh Duit? Pilih Pinjol atau Kartu Kredit
apahabar.com

Ekbis

Ekonomi Indonesia Tumbuh Stabil, Jokowi: Berkat Doa Ulama
apahabar.com

Ekbis

Kekhawatiran Pasar Mereda, Rupiah Ditutup Menguat
apahabar.com

Ekbis

Harga Minyak Dunia Anjlok, Rupiah Ikut Melemah
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com