Praktik Jual-Beli Pangkalan Elpiji Kalsel Terendus di Level Agen! Catat! Warga Banjarmasin Sudah Divaksin Corona Tetap Harus Swab Pengadaan Mobdin di Banjarmasin Terancam Berhenti, Simak Alasannya Puluhan Pangkalan Elpiji di Kalsel-Teng Diputus Pertamina! Simak Alasannya Ketika Presiden Jokowi Gaungkan Benci Produk Asing

Banjir Jakarta, Wagub DKI Bantah Ada Data dan Fakta yang Disembunyikan

- Apahabar.com Selasa, 23 Februari 2021 - 08:12 WIB

Banjir Jakarta, Wagub DKI Bantah Ada Data dan Fakta yang Disembunyikan

Wagub DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria. Foto-Antara/Livia Kristianti

apahabar.com, JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria membantah penilaian bahwa Pemprov DKI Jakarta dengan sengaja tidak mengunggah keseluruhan data banjir musiman atau tahunan.

Riza menegaskan tidak ada fakta dan data yang disembunyikan mengenai banjir di Jakarta.

Semuanya, kata Riza sudah sesuai yang dihimpun Pemprov melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan tidak mungkin setiap tahun dipaparkan.

“Jadi, yang pasti teman-teman bisa melihat ini datanya sudah ada terkait dengan banjir Jakarta dalam angka. Ini data yang ditampilkan data yang banjir besar (lima tahunan) yang hujan ekstrem dan semuanya tersimpan dengan jelas,” kata Riza di Jakarta, seperti dilansir Antara, Senin (22/2) malam.

Oleh karena itu, lanjut Riza, yang ditampilkan Pemprov DKI bukanlah banjir yang terjadi setiap tahun, melainkan seperti meloncat-loncat dari tahun satu ke tahun lainnya.

Pemprov DKI Jakarta sendiri mengunggah data banjir besar yang terjadi di Jakarta mulai dari 2002, 2007, 2013, 2015, 2020, hingga 2021.

“Kalau dilihat angka-angka di dalamnya, cukup signifikan penurunannya,” ucapnya.

Dalam data tersebut, kata Riza, pada tahun 2002 luas area yang tergenang adalah 168 km persegi, banjir pada tahun 2007 luas area 455 km persegi, banjir pada tahun 2013 luas area 240 km persegi, 2015 luas area 281 km persegi, 2020 luas area 56 km persegi, dan 2021 hanya 4 km persegi.

Untuk lokasi pengungsian, Riza menyebutkan dari 1.250 titik pengungsian, pada tahun 2013 ada 409 titik pengungsian, pada tahun 2020 ada 269 titik pengungsian, dan 2021 ada 44 titik pengungsian.

“Untuk korban meninggal dari 2002 ada 33 korban meninggal, 2007 ada 48 korban meninggal, 2013 ada 40 korbang meninggal, 2015 ada lima orang meninggal, 2020 ada 19 orang korban meninggal, 2021 ada lima orang meninggal,” ucapnya.

Untuk waktu surut, tutur Riza, berturut-turut adalah 6 hari (2002), 10 hari (2007), 7 hari (2013), 7 hari (2015), 4 hari (2020), dan 1 hari (2021).

“Ini sudah jelas semua, tidak ada yang disembunyikan,” tutur Riza.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Indonesia di Ambang Resesi, Ayo Evaluasi Pengeluaran
apahabar.com

Nasional

Dua Solusi Wapres JK untuk Perbaiki Pemilu Indonesia
apahabar.com

Nasional

Istri Terpidana Teroris Umar Patek Sandang Status WNI
apahabar.com

Nasional

Gilang Bungkus Tidak Dijerat Pasal Pencabulan
apahabar.com

Nasional

Update Covid-19 di Indonesia: 7.418 Positif, 913 Sembuh
apahabar.com

Nasional

Kalsel Provinsi Religius, Jokowi: Tak Salah Pilih Kiai Ma’ruf
apahabar.com

Nasional

Tinjau RS Darurat Wisma Atlet, Presiden Berharap Tidak Sampai Digunakan
apahabar.com

Nasional

PNS Silakan Cek Rekening, Gaji Ke-13 Cair Hari Ini
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com