Kepergok Mesum, Dua Sejoli di Tapin Langsung Dinikahkan di Depan Warga Habib Banua Sedih Jokowi Legalkan Produksi Miras, Sentil Para Pembisik Presiden Kronologis Penangkapan Penusuk Wildan, Mahasiswa Tanbu yang Tewas Dikeroyok BRAVO! Para Penusuk Wildan Mahasiswa ULM asal Tanbu Diringkus Polisi Transkrip PPK Banjar Terima Rp10 Juta Beredar, Bawaslu Turun Tangan

Bayar Utang, PT Adaro Cari Dana Pinjaman Rp5,6 Triliun

- Apahabar.com Jumat, 5 Februari 2021 - 21:43 WIB

Bayar Utang, PT Adaro Cari Dana Pinjaman Rp5,6 Triliun

Adaro kembali ditetapkan sebagai kandidat peraih proper emas pada 2020 oleh Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Foto: Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Perusahaan tambang batu bara induk Adaro Indonesia yakni PT Adaro Energy Tbk (ADARO) dikabarkan akan melakukan pembayaran utang yang akan jatuh tempo.

Saat ini perusahaan tengah mempertimbangkan untuk menerbitkan obligasi atau mencari pinjaman sindikasi setidaknya senilai US$ 400 juta atau setara dengan Rp 5,60 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$) guna membayarkan kewajibannya tersebut.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira mengatakan upaya ini juga merupakan langkah perusahaan untuk melakukan penguatan modal perusahaan dengan membuka beberapa opsi yang mungkin akan dilakukan.

“Kita akan selalu berupaya untuk memperkuat struktur permodalan kita, dan bond [obligasi] atau loan [pinjaman bank] merupakan beberapa opsi,” ucap Febriati dilansir CNBC Indonesia, Jumat (5/2).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang berakhir pada 30 September 2020, perusahaan memiliki nilai utang bank jangka pendek senilai US$ 571,94 juta.

Utang ini terdiri dari lima pinjaman sindikasi dengan sejumlah perbankan dalam bentuk dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura.

Adapun nilai yang harus dibayarkan perusahaan di tahun ini mencapai US$ 551 juta atau setara dengan Rp 7,71 triliun, sedangkan sisanya harus dibayarkan di tahun lalu.

Dalam keterangan laporan keuangannya di akhir September tahun lalu, manajemen perusahaan menyebutkan tingkat likuiditas perusahaan masih tinggi mencapai US$ 1,67 miliar, terdiri dari kas senilai US$ 1,18 miliar dan US$ 151 juta investasi lainnya.

Perusahaan juga masih memiliki fasilitas pinjaman yang masih belum terpakai mencapai US$ 326 juta.

Nilai utang berbunga mencapai US$ 1,6 miliar, naik 23% secara tahunan (year on year/YoY). Nilai ini sudah termasuk obligasi senilai US$ 750 juta yang diterbitkan pada Oktober 2019.

“Adaro Energy menjaga posisi keuangan yang sehat dengan utang bersih sebesar US$ 264 juta, rasio utang bersih terhadap EBITDA operasional 12 bulan terakhir sebesar 0,29x dan rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,07x,” tulis manajemen.

Posisi ekuitas perusahaan di periode tersebut tercatat senilai US$ 3,88 miliar, angka ini turun dari posisi Desember 2019 yang senilai US$ 3,98 miliar atau 14%.

Penurunan ini disebabkan karena adanya penurunan kepentingan non pengendali karena AE tidak lagi mengkonsolidasikan salah satu anak perusahaan pertambangan batu bara di Kalimantan Timur mulai kuartal keempat 2019.

Editor: Muhammad Robby - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Rupiah

Ekbis

Pembukaan Pasar: Rupiah Menguat ke Rp 13.950/US$
apahabar.com

Ekbis

Hari Ini, Saham China Lanjutkan Tren Pelemahan
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Pagi Ini: Menguat ke Rp 14.005/US$
apahabar.com

Ekbis

Menkeu Ungkap Anggaran Pengadaan Vaksin Covid-19 untuk 2021 Tembus Rp60,5 Triliun
apahabar.com

Ekbis

Produsen Fashion Muslimah Tangerang Jajal Pasar Kalsel
apahabar.com

Ekbis

Erick Thohir Apresiasi Rekomendasi DPR atas Jiwasraya
apahabar.com

Ekbis

Pemerintah Perpanjang Bansos hingga 2021
apahabar.com

Ekbis

IHSG Menguat Terbawa Kenaikan Bursa Saham Global
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com