Awal Usul Buka Investasi Miras di 4 Provinsi, Berikut Penjelasan Bahlil Heboh, Hujan Es Terjadi di Long Ikis Paser Izin Investasi Miras Dicabut, Bahlil Yakin Kepercayaan Investor Masih Baik Detik-Detik Kaburnya 4 Napi Kandangan, Jebol Teralis hingga Panjat Genteng BREAKING! Polisi Tangkap 2 Narapidana Kabur dari Rutan Kandangan

Mengintip Prototipe Jembatan Anti Banjir di Banjarmasin

- Apahabar.com Selasa, 23 Februari 2021 - 16:31 WIB

Mengintip Prototipe Jembatan Anti Banjir di Banjarmasin

Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalsel memperlihatkan prototipe jembatan anti banjir. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Program normalisasi sungai yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin memasuki babak baru.

Karenanya, Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalsel memiliki prototipe jembatan bangunan gedung (JBG).

Prototipe ini diolah setelah Pemkot Banjarmasin meminta bantuan untuk mengantisipasi musibah banjir dan air pasang dengan akurat.

Permintaan terhitung per tanggal 11 Februari lalu.

“Lalu 12 Februari, kami menjawab bersedia kemudian bentuk tim dan tanggal 14 prototipe selesai. Progres day to day,” ujar Ketua Intakindo Kalsel, Nanda Febryan Pratamajaya.

Menurutnya prototipe jembatan ini bersifat secara umum. Namun bisa dipertanggungjawabkan untuk dibangun. Jembatan berbentuk trapesium.

“Standar jembatan ini sesuai dengan Bina Marga yang dikeluarkan Kementerian PUPR,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa prototipe ini khusus dibuat untuk JBG di Jalan Ahmad Yani Banjarmasin.

Desainnya dibikin tinggi sekitar 60 Centimeter (Cm) di atas permukaan air saat kondisi pasang.

Tetapi jarak tersebut belum menjadi acuan utama lantaran lebar Sungai Ahmad Yani tidak beraturan.

Setiap bangunan yang memiliki jembatan mempunyai lebar sungai yang berbeda beda. Perhitungannya dari struktur, bukan dari lantai jembatan.

“Tinggi 60 Cm dari Dinas Pekerjan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setelah melihat banjir ketika di lapangan,” imbuhnya.

Lebih rinci, material infrastruktur jembatan tersebut juga tidak sembarangan.
Ia menuturkan jembatan di Jalan Ahmad Yani tidak menggunakan tiang penyangga di tengah.

Pertimbangannya, karena kepala dari alat berat dan pasukan turbo Dinas PUPR lebih memudahkan masalah pembersihan dari sampah yang menumpuk.

Tak hanya itu. Lebar jembatan juga tidak menentu lantaran harus menyesuaikan dengan jarak sungai.

Lebar jembatan sangat memaksimalkan kondisi sungai, tapi harus bisa dilewati dua mobil atau sekitar 7 meter.

“Hasil di lapangan kalau di depan TVRI sampai lima meter. Kalau di depan Mesjid At Taqwa tidak sampai 2 meter,” katanya.

Masih Nanda, bahwa material pembangunan pondasi sangat menyesuaikan dengan tingkat beban yang diterima jembatan.

Secara umum, seluruh jembatan memiliki besaran material yang berbeda beda.

Rincian materialnya adalah panjangan galam dan lainnya.

Khusus material lantai jembatan adalah gabungan dari baja dan beton.

“Kepala jembatannya beton,” ucapnya.

Setelahnya, pihaknya kembali diminta oleh Pemkot Banjarmasin untuk membuat prototipe jembatan di jalan Veteran. Khusus di kawasan tersebut rupanya tidak bisa sembarangan.

Sungai Veteran berkesinambungan dengan Balai Wilayah Sungai dan Pemprov Kalsel. Otomatis tidak hanya Pemkot setempat saja yang mengelola.

Khusus desain jembatan di Jalan Veteran sangat berbeda ketimbang kawasan Ahmad Yani.

Di Jalan Veteran mempunyai tiang pancang sebanyak 2 buah. Alasannya karena lebar sungai Veteran tidak sama dengan Ahmad Yani.

“Materialnya bervariasi, antara lain bahan ulin full bisa dibuat,” katanya.

Lantas berapa anggarannya?

Nanda menuturkan anggaran pembangunan jembatan ini perlu mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit.

Biaya pembuatan operasi tergantung kelasnya dari A hingga C.

Mengambil data Intakindo, untuk kelas A menghabiskan dana sekitar Rp494 juta. Kelas B mencapai sekitar Rp446 juta. Sedangkan kelas C sekitar Rp343 juta.
Seluruh dana ini untuk pembuatan jembatan berskala pabrik. “Kalau untuk komersil 60 persen lebih murah dari ini anggarannya,” ucapnya.

Ia mengharapkan bahwa desain jembatan untuk mengantisipasi banjir susulan ini diikuti oleh pemilik bangunan. Namun harus dilihat dari pemilik jembatan.

Apabila sifatnya swasta, maka biaya dibebankan kepada pribadi. Kecuali pemukiman, maka tanggung jawab Pemkot Banjarmasin untuk membangunnya.

Pembangunan jembatan paling lama sekitar sebulan. Namun sebelum dibangun, mereka harus melakukan penelitian lapangan.

“Kalau swasta atau milik pemerintah, mungkin anggaran mereka masing-masing,” tuturnya.

Editor: M Syarif - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Majelis Taklim Ahbabul Mustafa, Mempersatukan Umat di Perdesaan Kotabaru
apahabar.com

Kalsel

Sempat Ditolong, Korban Tak Sengaja Injak Tubir Sungai
apahabar.com

Kalsel

Akibat Hujan Deras dan Angin Kencang, Sebagian Wilayah Banjarmasin Gelap
apahabar.com

Kalsel

BPJS Nunggak, Bayi Penderita Hidrosefalus di Banjar Tak Bisa ke RS
apahabar.com

Kalsel

Polres Batola Sambut Kedatangan Tim Supervisi Bidang Propam Polda Kalsel
Kayu Ilegal

Kalsel

Angkut Kayu Ilegal, Polres Barut Tangkap 3 Warga Tala dan 1 dari Batola
apahabar.com

Kalsel

Begini Cara Jitu Polsekta Banjarmasin Tengah Tekan Curanmor 
apahabar.com

Kalsel

I Goat It, Menu Serba Kambing di Hotel Aston Banua
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com