Ssttt.. Aziz Lapor Polda Kalsel Buntut Isu Penggelembungan Suara Banjar  Isu Penggelembungan Suara Kabupaten Banjar, KPU Cecar Komisioner Aziz  Beredar Transkrip PPK Banjar Terima Rp10 Juta, Kordiv Bawaslu Terkejut Teriakkan Kelangkaan Elpiji 3 Kg, Mahasiswa Banjarmasin Serbu Pertamina Puluhan Pangkalan Elpiji di Kalsel-Teng Diputus Pertamina! Simak Alasannya

Regenerasi Sektor Pertanian, Bonus Demografi Perlu Dioptimalkan

- Apahabar.com Senin, 8 Februari 2021 - 10:06 WIB

Regenerasi Sektor Pertanian, Bonus Demografi Perlu Dioptimalkan

Petani mengecek pertumbuhan sayur selada di Dusun Kambangan, Gebog, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (23/1/2021). Foto-Antara

apahabar.com, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Hermanto mengingatkan bahwa bonus demografi yang sedang dialami Indonesia perlu untuk lebih dioptimalkan.

Hal itu dalam rangka mengatasi permasalahan regenerasi tenaga kerja yang mumpuni di sektor pertanian.

“Kondisi [bonus demografi] ini harus dikelola sebaik-baiknya. Jangan sampai kita kehilangan momentum yang sangat baik ini,” kata Hermanto dalam rilis di Jakarta, seperti dilansir Antara, Senin (8/2).

Seperti diketahui, bonus demografi terjadi bila suatu negara memiliki jumlah penduduk usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk usia nonproduktif.

Hermanto juga mengingatkan bahwa pada masa pandemi Covid-19 sekarang ini, sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif sementara sektor lain mengalami pertumbuhan negatif.

“Saat ini, sektor pertanian menunjukkan keunggulan dibandingkan sektor lain,” ujar Hermanto.

Untuk itu, ujar dia, kalangan milenial atau generasi muda diharapkan agar tidak ragu untuk kembali menekuni sektor pertanian.

Ia berpendapat bahwa bila ditekuni dengan serius, maka sektor pertanian bisa mendatangkan penghasilan yang tidak kalah dengan sektor lain.

“Ada milenial yang menekuni bisnis pertanian, penghasilannya ratusan juta sebulan,” ucap Hermanto.

Sebelumnya, akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Asna Mustofa mengingatkan regenerasi petani sangat penting dilakukan guna mendukung program pertanian berkelanjutan.

“Regenerasi petani memang diperlukan guna mendukung program pertanian berkelanjutan dan mendukung program ketahanan pangan,” katanya.

Asna yang merupakan dosen Fakultas Pertanian Unsoed tersebut mengatakan perlu dibuat berbagai program yang inovatif guna menarik minat petani muda atau milenial.

Selain itu, kata dia, teknologi pertanian juga dapat mendukung peningkatan produksi dan efisiensi.

“Teknologi tidak harus canggih, tetapi yang sepadan. Dalam arti teknologi yang sesuai kebutuhan. Teknologi yang terlalu tinggi akan butuh biaya yang tinggi, sehingga harus disesuaikan juga dengan lahan yang akan digarap,” katanya.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mencatat petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang atau sekitar 8 persen dari total jumlah petani di Indonesia.

Melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2019, jumlah petani muda tercatat terjadi penurunan 415.789 orang dari periode 2017 ke 2018.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Peneliti: Vokasi Sektor Industri Akan Ikuti Tren Digitalisasi
apahabar.com

Ekbis

Erick Ungkap Utang BPJS Kesehatan Rp 1 Triliun kepada Kimia Farma
apahabar.com

Ekbis

Neraca Perdagangan Kaltim Surplus USD 11,48 Miliar
IHSG

Ekbis

Bursa Saham Benua Kuning Naik, IHSG Ikut Menguat
apahabar.com

Ekbis

Deputi Gubernur BI Luluh ‘Digoda’ Pedagang Pasar Terapung
apahabar.com

Ekbis

Jokowi: Pemulihan Ekonomi Indonesia Diprediksi Tercepat Setelah China
apahabar.com

Ekbis

Dibayangi Stimulus Covid-19, IHSG Diprediksi Melemah
apahabar.com

Ekbis

Jelang Rakercab, Hipmi Tanah Bumbu Perkuat Konsolidasi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com