Merasa Dipermainkan, Puluhan Penyapu Jalan di Banjarmasin Kembali Geruduk Balai Kota  Adaro-PAMA Cerai, Bupati Tabalong Turun Tangan Listrik di Kalsel-Teng Mendadak Padam, PLN Beber Biang Keroknya Sabar Ya! Pemulihan Listrik Kalsel-Teng Imbas Pemadaman Dilakukan Bertahap IWD 2021: Mahasiswi Kalsel Jadi Objek Kekerasan Seksual Berbasis Siber

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi Rp5.817 Triliun

- Apahabar.com Senin, 15 Februari 2021 - 12:33 WIB

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi Rp5.817 Triliun

Ilustrasi. Foto-bisnis.com

apahabar.com, JAKARTA – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia naik lagi.

Bank Indonesia (BI) mencatat ULN Indonesia mencapai US$417,5 miliar atau setara Rp5.817,02 triliun (kurs Rp13.933 per dolar AS) pada kuartal IV 2020.

Jumlah utang meningkat 3,5 persen secara tahunan dari US$404,3 miliar pada kuartal IV 2019.

Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan peningkatan utang berasal dari utang pemerintah dan bank sentral yang mencapai US$209,2 miliar dan utang swasta termasuk BUMN US$208,3 miliar.

Erwin mengatakan utang pemerintah mencapai US$206,4 miliar atau tumbuh 3,3 persen dari kuartal IV 2020. Peningkatan utang terjadi karena penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar keuangan.

Penarikan utang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ada penarikan sebagian komitmen pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan pandemi covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” kata Erwin dalam keterangan resmi, dilansir dari CNN Indonesia, Senin (15/2).

Erwin memaparkan utang pemerintah digunakan untuk belaja di sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sekitar 23,9 persen dari total ULN pemerintah.

Lalu, untuk sektor konstruksi 16,7 persen, sektor jasa pendidikan 16,7 persen, dan sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 11,9 persen, serta sektor jasa keuangan dan asuransi 11,1 persen.

Sementara, utang swasta tumbuh 3,8 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan utang sejatinya melambat dari kuartal III 2020 secara tahunan mencapai 6,2 persen.

“Perkembangan ini didorong oleh melambatnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan serta kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan yang lebih dalam,” jelasnya.

Berdasarkan sektornya, utang swasta banyak mengalir ke sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan dan penggalian dengan porsi mencapai 77,1% dari total utang. Sisanya, mengalir ke sektor lain.

Di sisi lain, BI mencatat total utang luar negeri mencapai 39,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Rasionya meningkat dari 38,1 persen pada kuartal sebelumnya.

Dari jumlah utang, sekitar 89,1 persen merupakan utang jangka panjang. Sisanya utang jangka pendek.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” tuturnya.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Bawang Sudah Naik di Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

Perkuat Ekonomi, Garuda Beri Diskon 50 Persen Bagi 65 Ribu Kursi
apahabar.com

Ekbis

Pemprov: Stok dan Harga Sembako Kaltim Aman sampai Lebaran Haji
apahabar.com

Ekbis

New Agya Tampil Lebih Modern, Jawab Kebutuhan Anak Muda
apahabar.com

Ekbis

Ekspor Kalsel Per Juni 2019 Turun 11,17 Persen dan Impor Naik 23,55 Persen
apahabar.com

Ekbis

Polemik Tiket Pesawat, Intip Harga Terupdate Penerbangan dari Banjarmasin
Per Hari Ini, Harga Pertamax di Kalsel Jadi Rp 9.200

Ekbis

Per Hari Ini, Harga Pertamax di Kalsel Jadi Rp 9.200
apahabar.com

Ekbis

Virus Corona Diduga Memicu Anjloknya Tamu Asing dan Ekspor Kalsel ke Tiongkok
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com