Peredaran Rokok Ilegal Tinggi, KAKI Kalsel Geruduk Kantor Ditjen Bea Cukai Status Siaga Banjir di Balangan Berlaku hingga 12 Desember Waspada Banjir Rob, BPBD Tanah Bumbu Ingatkan Warga Pesisir Laut Puncak Harjad ke-56 Tabalong, Momentum Melanjutkan Estafet Pembangunan Lebih Maju Tergantung Status, Banjarmasin Punya Rp 500 Juta Siap Dirikan Dapur Umum-Logistik

BMKG: Puncak Musim Hujan Berakhir Bulan Ini

- Apahabar.com     Jumat, 12 Maret 2021 - 06:44 WITA

BMKG: Puncak Musim Hujan Berakhir Bulan Ini

Ilustrasi. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia akan berakhir pada bulan ini. Hal itu berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Dapat dikatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau mulai akhir Maret 2021,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, Kamis (11/3).

Saat ini fenomena Monsun Asia masih cukup aktif dan mengakibatkan aliran massa udara dari wilayah Belahan Bumi Utara (BBU) berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat.

Sedangkan hasil analisis dinamika atmosfer-laut BMKG menunjukkan fenomena La Nina masih akan berlangsung hingga Mei 2021 mendatang dengan intensitas lemah hingga normal.

Itu berarti akan terjadi periode peralihan musim. Salah satu ciri umumnya adalah pada pagi-siang umumnya langit cerah-berawan dengan kondisi panas cukup terik yang diikuti dengan pembentukan awan yang signifkan.

Hujan berintensitas tinggi dalam durasi singkat yang secara umum dapat terjadi pada periode siang-sore hari.

Selama periode peralihan musim, ada beberapa fenomena cuaca ekstrem yang harus diwaspadai, yaitu, hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, puting beliung, waterspout, dan hujan es.

Guswanto mengatakan fenomena hujan es merupakan fenomena yang umum terjadi selama periode peralihan musim. Fenomena dipicu oleh pola konvektifitas massa udara dalam skala lokal-regional yang lebih signifikan selama periode peralihan musim.

Hujan es umumnya dapat terjadi dari sistem awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi dengan kondisi labilitas udara yang signifikan sehingga dapat membentuk kristal es di awan dengan ukuran yang cukup besar.

Fenomena downdraft atau aliran massa udara turun dalam sistem awan yang terjadi di sistem awan Cb terutama pada saat fase matang dapat menyebabkan butiran es dengan ukuran yang cukup besar menjadi fenomena hujan es.

Dalam sepekan ke depan, dinamika atmosfer yang diidentifikasi masih dapat berkontribusi cukup signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

“Teramatinya sirkulasi siklonik di Samudera Pasifik Timur Filipina dan di Samudera Hindia sebelah selatan Bali-Nusa Tenggara yang dapat mengakibatkan terbentuknya pola konvergensi dan belokan angin sehingga dapat meningkatkan pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia,” jelasnya.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya fenomena Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksikan masih cukup aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian barat.

Selain itu kondisi labilitas udara lokal yang signifikan juga dapat meningkatkan potensi konvektifitas dan pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di wilayah berikut:

1. Aceh

2. Sumatera Utara

3. Sumatera Barat

4. Banten

5. Jawa Barat

6. Jawa Tengah

7. DI Yogyakarta

8. Jawa Timur

9. Bali

10. Nusa Tenggara Barat

11. Nusa Tenggara Timur

12. Kalimantan Timur

13. Kalimantan Utara

14. Kalimantan Selatan

15. Sulawesi Utara

16. Sulawesi Tengah

17. Sulawesi Selatan

18. Sulawesi Tenggara

19. Maluku

20. Maluku Utara

21. Papua Barat

22. Papua

 

 

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Tempat Ibadah Mulai Buka di Makassar, Jemaah Diwajibkan Ini
Prakerja

Nasional

Resmi! Gelombang 13 Kartu Prakerja Dibuka, Ini Link Pendaftarannya
apahabar.com

Nasional

Cari Korban Banjir Sentani, Ini yang Ditemukan Anggota TNI

Nasional

Peringati Gerakan Non-Blok, Menlu RI Soroti Ketimpangan Vaksin
apahabar.com

Nasional

Peneliti Coba Mengungkap Sejarah Nusantara
apahabar.com

Nasional

Satu Polisi Terluka, Simak Kronologis Lengkap Baku Tembak di Tanah Laut
apahabar.com

Nasional

Sudah 1.954 Pasien Covid-19 Sembuh, Paling Banyak di Jakarta
Ustaz di Kepri

Nasional

Diduga ODGJ, Pria yang Serang Ustaz di Kepri Kerap Bikin Resah Warga
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com