Kabar Duka, Satu Lagi Perawat di Banjarmasin Gugur karena Covid-19 Update Banjir Bandang NTT: Meninggal 177 Orang, 45 Masih Hilang Persiapan Terbatas, Pereli Binuang H Rihan Variza Naik Podium Kejurnas Sprint Rally Gugur Bertugas, Polisi Pemburu Buron di Sungai Martapura Tinggalkan 3 Anak Pegawainya Mencuri, Pangeran Khairul Saleh Minta KPK Evaluasi Diri

Kondisi Seseorang Ditunda atau Gagal Vaksinasi Covid-19, Simak Penyebabnya

- Apahabar.com Minggu, 7 Maret 2021 - 22:04 WIB

Kondisi Seseorang Ditunda atau Gagal Vaksinasi Covid-19, Simak Penyebabnya

Dua warga lanjut usia (lansia) menjalani cek kesehatan sebelum mendapatkan vaksinasi Covid-19 di Yayasan Bhakti Suci, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (5/3/2021). Foto-Antara/Jessica Helena Wuysang/rwa

apahabar.com, JAKARTA – Ada sejumlah gejala yang mengharuskan seseorang ditunda atau gagal menjalani vaksinasi Covid-19.

Hal itu termasuk yang dalam kategori lanjut usia atau lansia.

“Orang yang kontak dengan pasien Covid-19, apa ada gejala demam, batuk, pilek, sesak napas. Kalau ada, tunda 14 hari. Apakah pernah terkonfirmasi? Kalau iya, tunda 3 bulan sejak terkonfirmasi,” kata Ketua Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI) sekaligus dokter spesialis geriatrik, Prof Siti Setiati, seperti dilansir Antara, Minggu (7/3).

Orang dengan riwayat penyakit akut dan tidak terkendali, kemudian pasien kanker dengan pengobatan, kecuali ada surat rekomendasi dari dokter yang merawat, juga sebaiknya menunda waktu vaksinasi.

“Orang dengan penyakit autoimun sistemik, menunda [vaksinasi] atau berkonsultasi dulu dengan dokter,” kata Siti.

Khusus lansia, ada syarat tambahan yang perlu dipenuhi sebelum divaksinasi yakni terkait kerentaan dan ini bahkan bisa berdampak pada gagalnya dia mendapatkan vaksin.

Siti mengatakan, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan penting misalnya ada tidaknya kesulitan naik 10 anak tangga, sering merasa lelah, kesulitan berjalan sekitar 100-200 meter, penurunan berat badan yang bermakna dalam setahun terakhir.

Pertanyaan lainnya, terkait apakah memiliki paling sedikit lima dari penyakit yakni: hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke, dan penyakit ginjal.

“Kalau ada tiga atau lebih jawaban ‘ya’, maka sebaiknya memang vaksinasi tidak diberikan. Atau punya lima penyakit ditambah dua masalah lain maka tidak disarankan untuk divaksinasi,” kata dia.

Untuk memudahkan, PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) sudah membagikan kuesioner yang bisa diisi mencakup RAPUH yang merupakan akronim dari Resistensi, Aktivitas, Penyakit lebih dari 4, Usaha berjalan dan hilangnya berat badan.

Pada kategori Resistensi, pertanyaan yang harus dijawab: “Dengan sendiri atau tanpa bantuan alat, apakah Anda mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga tanpa istirahat di antaranya”. Beri skor 1 untuk jawaban “ya” dan 0 untuk “tidak”.

Untuk kategori Aktivitas, pertanyaannya “Seberapa sering dalam empat minggu Anda merasa kelelahan?”. 1: Sepanjang waktu; 2: Sebagian besar waktu; 3: Kadang-kadang; 4: Jarang. Jawaban 1 atau 2 mendapatkan skor 1 dan selain itu skornya 0.

Pada kategori Penyakit lebih dari 4, partisipan ditanya apakah dokter pernah mengatakan tentang penyakit Anda (seperti contoh penyakit di atas)?. Bila jawaban jumlah total penyakit skor yang tercatat 0-4 penyakit beri skor 0 dan 5-11 penyakit berilah skor 1.

Kemudian untuk kategori Usaha berjalan, pertanyaan yang diajukan “Dengan diri sendiri dan tanpa bantuan, apakah Anda mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100-200 meter?” Beri skor 1 apabila “ya” dan 0 bila “tidak”.

Terakhir, kategori Hilangnya berat badan yang biasanya dihitung menggunakan data bobot tubuh tahun dan sekarang. Persamaan yang digunakan [(bobot tahun lalu-bobot sekarang) : berat bada satu tahun] dikali 100 persen.

Apabila hasil lebih dari 5 persen atau artinya mewakili kehilangan berat badan 5 persen maka beri skor 1.

Interpretasi kuesioner yakni: skor total 1-2 prarapuh dan skor lebih dari 2 rapuh atau renta.

Menurut Siti, lansia sebaiknya menjalani penyaringan (screening) kerentaan minimal tiga hari jadwal vaksinasi agar apabila ada penyakit bisa mendapatkan pengobatan dan mengetahui layak atau tidaknya dia divaksin. Screening bisa dilakukan mandiri di rumah atau fasilitas kesehatan semisal puskesmas atau rumah sakit.

Dia menekankan persiapan agar vaksinasi bisa bekerja optimal, mempertimbangkan disfungsi imunitas karena usia. Hal ini berhubungan dengan respon terhadap vaksin yang kurang maksimal.

“Karena immunosenescence biasanya sudah terjadi inflamasi kronis lebih rendah akibat kombinasi penurunan imunitas tubuh, paparan terhadap antigen terus menerus, peningkatan produksi sitokin proinflamasi dari senescent T cells dan makrofag,” kata Siti.

Persiapkan diri

Dalam kesempatan yang sama, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sekaligus HealthCare Communicator Kalbe Nutritionals, Muliaman Mansyur, mengatakan bahwa selain screening riwayat penyakit, Anda juga perlu siap secara psikis dan fisik sebelum, selama dan sesudah vaksin.

“Penting untuk mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang dengan kandungan tinggi protein, vitamin dan mineral, khususnya vitamin C, D dan zinc. Khusus lansia, apabila kurang mendapat asupan nutrisi protein, maka risiko malnutrisi dan sarcopenia atau berkurangnya massa dan kekuatan otot akan mudah terjadi,” kata dia.

Vitamin D khususnya terbukti memainkan banyak peran dalam mendukung fungsi kekebalan dan mengurangi risiko infeksi.

Selain itu, imunitas yang terbentuk pascavaksinasi menjadi kurang optimal. Setelah divaksinasi pun, Anda masih memerlukan nutrisi memadai untuk menjaga imunitas, khususnya lansia yang masih aktif berkegiatan, baik secara profesional maupun secara sosial.

Dia menyimpulkan, mempersiapkan kondisi tubuh yang sehat dan fit sebelum menjalani screening yang melihat kondisi kesehatan sebelum divaksin sangat dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi harian, terutama pada lansia. Hal perlu mendapatkan perhatian agar vaksin yang diterima dapat bekerja secara efektif.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Tanaman Hias

Gaya

Janda Bolong Lewat, Ini Tren Tanaman Hias 2021
apahabar.com

Gaya

5 Hal Viral di Internet di 2018, dari Bowo TikTok Hingga Operasi Plastik
apahabar.com

Gaya

WhatsApp Gulirkan Pembaruan Via Google Play Beta Program, Silakan Coba
apahabar.com

Gaya

Dosen IPB Buat Formula Anti Penuaan Dini dengan Batang Nyirih
Pramugari

Gaya

Duh, Demi Pengobatan Sang Ibu, Pramugari Cantik Ini Rela Jadi Penjual Sayur dan Alpokat

Gaya

Fitur Baru Spotify: Filter Lagu Berdasarkan Suasana Hati
apahabar.com

Gaya

Kesal Diremehkan Pelayan Toko, Pria Ini Beli dan Gunting Tas Seharga Rp 100 Juta
apahabar.com

Gaya

Gaharnya Sosok Toyota Hilux Racikan Tuner Racing TRD
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com