Kakek di Banjarmasin Meninggal Misterius di Hotel, Polisi Lakukan Pemeriksaan Polisi Tewas di Sungai Martapura, Sudah 2×24 Jam Faisal Diperiksa Intens Akhirnya, Tunggakan Honor Relawan Covid-19 di Banjarmasin Dibayar! Duh, Honor Relawan Covid-19 di Banjarmasin Belum Dibayar Perhatian! Bandara Syamsudin Noor Tetap Beroperasi Selama Larangan Mudik

MUI Jatim Jelaskan Mengapa Vaksin Astrazeneca Tidak Haram

- Apahabar.com Kamis, 25 Maret 2021 - 21:38 WIB

MUI Jatim Jelaskan Mengapa Vaksin Astrazeneca Tidak Haram

Ketua Fatwa MUI Jawa Timur, KH Makruf Khozin. Foto-net

apahabar.com, SURABAYA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) menegaskan najis kandungan (tripsin) di vaksin AstraZeneca tidak terlihat kasat mata. Dari kaca mata kaidah fiqih, AstraZeneca tidak haram dan ditolerir.

“MUI Jatim mengkaji lagi, apa bener tripsin ini haram? Kami datangkan pakar ilmu virus, pakar farmasi, ternyata yang namanya tripsin saking kecilnya tidak terlihat. Terlihat dengan mikroskop, jadi sangat kecil sekali. Di dalam kaca mata fiqih Islam, kalau ada benda najis tidak terlihat oleh mata, ini bukan haram, tapi ditolerir. Seperti mandi di sungai, airnya banyak, kotoran atau najis tidak telihat,” ujar Ketua Fatwa MUI Jatim, KH Makruf Khozin, seperti dilansir detik.com, Kamis (25/3).

Perdebatan najis vaksin AstraZeneca di MUI Pusat, lanjut Makruf, dikhawatirkan bisa berdampak penolakan vaksin oleh warga Jatim.

“(Perdebatan) itu kan soal klasik dari dulu. MUI Pusat sudah dulu menerapkan metode apapun yang menggunakan tripsin dari babi dalam prosesnya maka dihukumi najis, otomatis haram. Kalau belum ada obat yang setara maka dibolehkan, karena darurat. Ini berlaku saat Arab Saudi meningitis. Sama berkesimpulan najis, tapi tidak ada,” imbuhnya.

Dari hasil kajian MUI Jatim, tripsin di AstraZeneca tidak terlihat dan halal digunakan oleh warga Jatim tanpa mengkhawatirkan keharamannya.

“Kemarin sudah dapat klarifikasi, tripsin yang tidak terlihat, lalu inangnya dimasukkan ke tabung bio reaktif, yang membuat 4.000 liter, lah kan tambah tidak terlihat,” ungkapnya.

“Hemat kami, andaikan ada benda najisnya ditolerir, karena saking kecilnya.

Ini terus perdebatan, dari isi kaidah fiqih, apa yang dilakukan MUI Jatim tidak masalah. Lembaga fatwa Mesir juga tidak masalah. Jadi yang perlu kita kaji, dari mana dulu MUI Pusat memberi ketetapan tripsin itu najis. Ini yang di MUI Pusat ada dua kelompok. Satu menilai najis, satu tolerir. Kalau di Jatim boleh, mboten nopo-nopo AstraZeneca,” pungkasnya.

Editor: Muhammad Bulkini - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Habar

Populasi Muslim Negara di Afrika Ini Meledak, Diprediksi Salip Indonesia
apahabar.com

Habar

Batasi 10 Ribu Jemaah, Arab Saudi Sudah Tentukan Jemaah Haji di Tahun Ini
apahabar.com

Habar

Masjid Noor (1), Saksi Bisu Dua Peristiwa Kelam
apahabar.com

Habar

Pelayanan Haji dan Umrah Tetap Jalan, Kemenag: Hanya Ada Pembatasan
apahabar.com

Habar

Pinta Tunda Tatap Muka di Pesantren, KPAI: Pemerintah Jangan Terburu-buru
apahabar.com

Habar

Penyalahguna Logo Haul Guru Sekumpul “Ditangkap”
apahabar.com

Habar

UEA Tak Lagi Sediakan Iftar di Masjid
apahabar.com

Habar

Persiapan Polres Banjar untuk Haul Sekumpul ke 15; Turunkan Speed Boat dan Sulap Water Canon Jadi Tempat Wudhu
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com