Setahun 2 Kali Kalsel Darurat Banjir, Jangan Melulu Salahkan Cuaca Sulitnya Mengungkap Perampokan Bersenpi Bos Emas Paramasan Polisi Tetapkan Mantan Pacar Pelaku Investasi Bodong Balikpapan Tersangka Kalsel Banjir, PLN Gerak Cepat Nonaktifkan Ratusan Gardu Listrik Sikapi Putusan MK, Jokowi Tegaskan Revisi UU Cipta Kerja Secepatnya

PLN Bisa Hemat 30% Usai Batu Bara Dihapus dari Daftar B3

- Apahabar.com     Sabtu, 13 Maret 2021 - 10:35 WITA

PLN Bisa Hemat 30% Usai Batu Bara Dihapus dari Daftar B3

Ilustrasi. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Pemerintah baru saja mengeluarkan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari daftar kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

FABA merupakan limbah padat yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap PLTU, boiler, dan tungku industri untuk bahan baku atau keperluan sektor konstruksi.

PT PLN (Persero) pun berpotensi mengurangi biaya pengelolaan limbah usai pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut.

“Sampai dengan 30 persen dari biaya pengelolaan (limbah) awal,” ujar Vice President Public Relations PLN Arsyadani Ghana Akmalaputri, dikutip dari CNNIndonesia.com, Sabtu (12/3).

Kebijakan itu tertuang dalam PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang merupakan aturan turunan dari UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Lewat aturan itu, limbah batu bara tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan baku infrastruktur. Misalnya, produk beton non konstruksi seperti slab (pelat) beton, kanstin, pemecah gelombang, beton blok, dan sebagainya.

Selain itu FABA juga bisa dimanfaatkan untuk produk semi beton ringan seperti batako, paving, sekat pagar, serta bahan campuran pengeras jalan (road base), dan lainnya.

Arsyadani menyatakan semua produk tersebut telah memenuhi persyaratan kualitas produk atau Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Dampaknya PLN bisa mengoptimalkan penyerapan pemanfaatan, mendorong FABA digunakan sebagai sumber daya material, dan menekan pengeluaran anggaran,” terangnya.

Untuk itu, PLN akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR serata BUMN karya agar FABA bisa dimanfaatkan secara maksimal setelah dikeluarkan dari limbah beracun.

“Berharapnya manajemen pengelolaan FABA di lapangan akan semakin mudah dan murah,” ucapnya.

Pembangkit listrik milik PLN sendiri saat ini memang masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.

Berdasarkan data dari bahan paparan PLN kepada Komisi VII DPR pada November 2020 lalu, disebutkan bahwa porsi PLTU masih mayoritas yakni 50,4 persen atau kapasitas 31.827 MW.

Disusul oleh pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 12,6 persen atau kapasitas 7.992 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sebesar 10,7 persen atau kapasitas 12.137 MW.

Namun, perusahaan setrum itu berencana meningkatkan porsi pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT), dan sebaliknya menurunkan pembangkit energi fosil.

Tercatat, periode 2000-2019 pertumbuhan pembangkit fosil 6,6 persen. Namun, pada 2020-2029 targetnya bisa diturunkan menjadi hanya 3,6 persen.

Sebaliknya, pengembangan pembangkit EBT dari 2000-2019 tumbuh 7,1 persen. Rencana ke depan, jumlah pembangkit EBT ditargetkan bisa naik 12.7 persen pada 2020-2029.

Editor: Puja Mandela - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Breaking News: Presiden Jokowi Tiba di Kalteng
apahabar.com

Nasional

Terduga Penyiram Air Keras ke Novel Ditangkap!
apahabar.com

Nasional

Corona Jadi Pendemi, Jokowi Makin Sering Minum Jamu

Nasional

Bappenas: Ekonomi RI Kontraksi Tapi Tak Terpuruk
apahabar.com

Nasional

Anak Muda Bangun Sistem Online, Jokowi: Bisa Bantu Petani

Kaltim

Catat, Ini Tarif Tol Pertama di Pulau Kalimantan
apahabar.com

Nasional

Target Jokowi PP-Perpres UU Cipta Kerja Selesai 3 Bulan
apahabar.com

Nasional

Menaker: Besaran Gaji Program Pra Kerja Belum Final
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com