Breaking: Kapal Selam TNI AL Dikabarkan Hilang Kontak Kuasa Hukum AF Minta Kejari Tanbu Tunjukkan Bukti Kerugian Negara Duh, DLH Tabalong Tak Pernah Lihat Dokumen Pascatambang ADARO Melihat Sidang Perdana Kasus Korupsi Kursi di Tanah Bumbu, Audit Tak Dilakukan BPK! AnandaMu Dihentikan, Kasus SARA Ustaz HA Berlanjut ke Polisi!

PPNI: Beban Kerja hingga Penyaluran Insentif Jadi Masalah Para Perawat Selama Pandemi

- Apahabar.com Rabu, 17 Maret 2021 - 20:53 WIB

PPNI: Beban Kerja hingga Penyaluran Insentif Jadi Masalah Para Perawat Selama Pandemi

Ilustrasi tenaga medis. Foto-Shutterstock

apahabar.com, JAKARTA – Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyatakan permasalahan beban kerja hingga penyaluran insentif yang diterima oleh para perawat selama pandemi Covid-19.

“Akhir tahun kemarin saat sangat tinggi kasus Covid-19, selain insentif adalah beban kerja yang berat. Banyak perawat yang double hingga triple shift kerja,” ujar Ketua Umum PPNI, Harif Fadhillah dalam gelar wicara “Hari Perawat Nasional: Perawat Tangguh, Indonesia Bebas Covid-19” di Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu (17/3).

Harif mengungkap hal itu membuat para perawat memforsir tenaganya dan kekurangan istirahat. Akibatnya, mereka merasa mendapatkan beban fisik yang cukup tinggi, yang berdampak pada beban mental.

Sementara itu, ada dua hal yang disorot Harif berkaitan dengan insentif kepada perawat. Pertama yakni keterlambatan turunnya insentif sejak Juni 2020, di sejumlah Rumah Sakit Daerah, di mana hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

“Kedua, insetif ini sudah dibagi dan sampai ke rekening masing-masing. Tapi oleh manajemen, dikembalikan dan dibagi lagi kepada mereka yang tidak harus mendapatkan. Kita melihat hal ini harus dievaluasi regulasinya, bahwa insentif harus berbasis keadilan dan kewajaran,” kata dia.

Harif memberi gambaran, perawat yang mendapatkan insentif Covid-19 hanyalah yang bertugas di unit gawat darurat, unit perawatan intensif, isolasi maupun kamar bedah.

Sedangkan perawat lainnya tidak mendapatkan insentif tersebut, meskipun seorang pasien Covid-19 telah masuk ke beberapa ruang rawat umum selain yang disebutkan.

Selain itu Hanif menyoroti ketimpangan pembagian insentif kepada tenaga keperawatan di Puskesmas, yang mana intensif didapatkan berbasis kuota jumlah rujukan.

Hal tersebut menjadi sumber masalah dan terjadinya pembagian ulang insentif oleh pihak manajemen fasilitas kesehatan, sehingga perawat tidak mendapatkan sebagaimana seharusnya dia dapatkan.

“Data kami, lebih dari 50 persen yang wafat dari 274 orang, mereka dari perawat yang bekerja di ruang rawat umum, yang tidak merawat pasien. Jadi mereka memiliki risiko yang tinggi juga, dan itu harus menjadi evaluasi bagi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan,” ujar Harif.

Hingga saat ini, laporan PPNI hingga 17 Maret, sejumlah 274 perawat meninggal dunia di tengah perjuangan mereka di garis depan penanganan Covid-19 secara nasional, dan lebih dari 5.884 ribu perawat di Indonesia dilaporkan terjangkit Covid-19.

Editor: Aprianoor - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Wakil Jaksa Agung Tewas Kecelakaan di Tol Jagorawi
apahabar.com

Nasional

Berat Turun! Intip Kondisi Terkini Titi Wati
apahabar.com

Nasional

Meski Ada Vaksin, Erick Thohir Minta Masyarakat Tetap Patuhi Prokes
apahabar.com

Nasional

Kematian Tenaga Medis Indonesia Tertinggi di Dunia, IDI Terbitkan Pedoman Standar Perlindungan Dokter Tangani Covid-19
vaksin covid-19

Nasional

Momen Presiden Jokowi Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac
apahabar.com

Nasional

Jebol Pintu untuk Evakuasi Wanita 350 Kg di Kalteng
apahabar.com

Nasional

Jokowi Blusukan di Balikpapan, 1.401 Personel Gabungan TNI-Polri Diterjunkan
apahabar.com

Nasional

Prakiraan Cuaca Sepekan ke Depan, BMKG: Waspada Banjir!
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com