Dikira Ijazah, Ternyata SKCK Prof Denny Berserakan di Martapura, Bawaslu Angkat Bicara Prof Yusril: Penetapan Tersangka Eks Sekda Tanbu Labrak HAM Legislator Kalsel Kecam e-Sport Disponsori Judi Online KPU Banjar Tanggapi Santai Protes BirinMu Soal Pembukaan Kotak Suara Ricuh Safari Subuh Denny dan ‘Paman Bakul’ Disetop, Pelanggaran ASN Jalan Terus

Puluhan Desa di Banjar Masih Blank Spot, Sekolah Terpaksa Tatap Muka

- Apahabar.com Rabu, 31 Maret 2021 - 19:22 WIB

Puluhan Desa di Banjar Masih Blank Spot, Sekolah Terpaksa Tatap Muka

Para pelajar Desa Paau saat mencari sinyal menggunakan tiang bambu sebagai penyangga handphone agar tidak bergeser. Foto-apahabar.com/Madani

apahabar.com, MARTAPURA – Jaringan internet di Kabupaten Banjar masih belum merata.

Berdasarkan data Diskominfo Banjar, ada 47 desa yang masih bisa mendapatkan signal internet.

Seperti di Desa Paau, Kecamatan Aranio, masyarakat sekitar belum tersentuh signal internet. Signal hanya sekadar untuk telepon.

Untuk mendapatkan jaringan internet, warga desa itu harus menempuh perjalanan 1 jam menggunakan kelotok, dan mengeluarkan uang untuk 1 liter bahan bakar. Baru signal internet ada di sela pegunungan.

Beda jika cuaca sedang hujan, signal internet sama sekali blank.

Dijelaskan Sekdes Paau, Aspiani Alpawi, pada saat pandemi Covid-19, para pelajar diberlakukan belajar daring di seluruh sekolah tanah air, namun di desanya hal tidak berlaku.

Sekolah tatap muka jadi solusi, mengingat keterbatasan internet. Untungnya, tidak ada penularan Covid-19.

“Jika mendatangi titik tertentu untuk mendapatkan internet, wajib membawa lotion pengusir nyamuk, makanan, dan mengeluarkan uang untuk membeli bensin, karena harus menggunakan kelotok. Itu juga jika cuaca tidak hujan, kalau cuaca sedang buruk dan angin kencang, sulit,” ungkapnya.

Pada 2018, di Kabupaten Banjar telah dibangun 4 unit Base Transceiver Station (BTS) di beberapa desa, di antaranya Desa Paramasan Atas, Peramasan Bawah, Kiram serta Desa Rantau Balai.

Kepala Bidang (Kabid) E Government DKISP Kominfo Kabupaten Banjar, Cornelius Kristianto, mengaku hingga 2021 ini masih ada 47 daerah tanpa sinyal.

“Jika berbicara telekomunikasi, di Kabupaten Banjar memang luas wilayahnya luar biasa. Jika rata seperti Marabahan saja masih enak. Kemarin dari Kecamatan Aranio juga sudah menyampaikan di Musrembang tentang kondisinya di sana,” tutur Kris.

Dari usulan tersebut, pihak Kominfo Kabupaten Banjar, ujar Kris telah mengusulkan ke kementerian, namun pihak kementerian meminta ketersediaan lahan.

“Itu wajib hukumnya, tidak bisa ditawar-tawar, nanti akan diserahkan ke pemerintah daerah,” jelasnya.

Kris mengungkap, jika syarat mendirikan BTS adalah ketersediaan listrik selama 24 jam, permasalahannya di daerah Aranio listrik di beberapa desa hanya 12 jam saja.

“Permasalahan lain, di Aranio ini hampir 99 persen Taman Hutan Raya (Tahura), yang sesuai Perpres tidak boleh diubah fungsinya. Jika mau ada penambahan, prosesnya panjang meminta persetujuan kehutanan atau Kementerian,” ungkapnya.

Dijelaskannya, dana pembangunan satu BTS Rp2 miliar. “Itu untuk daerah-daerah bisa, kalo daerah gunung, lain lagi biayanya,” bebernya.

Kris membeberkan terkait rencana pembangunan BTS di Desa Kecamatan Paramasan, Telkomsel mengaku tidak berani, karena secara finansial dinilai rugi.

Selain itu, terkait dengan lokasi pembangunan BTS, jika di atas gunung, siapa yang akan menjamin keamanan peralatan dan barang-barang BTS.
Dikemukakan Kris, setiap tahun Kominfo Banjar mengusulkan 11 unit BTS, namun tidak ada yang tembus.

Ketua DPRD Kabupaten Banjar, M Rofiqi menyebut, pembangunan BTS di daerah tanpa sinyal harus melibatkan pihak ketiga.

“Jika menilai dari segi jauh dan orangnya sedikit, tentu mereka tidak mau membangun di sana,” ungkapnya.

Rofiqi menyampaikan, jika pihak yang bersangkutan harus membuat sebuah Undang Undang, agar jangan hanya daerah perkotaan saja yang mendapatkan signal, namun di pedesaan juga jangan dibiarkan.

“Tentu masalah ini tidak hanya di Kalimantan saja, di pulau-pulau lain juga sama. Kita mau memaksakan juga bagaimana. Mau membangun sendiri juga tidak mungkin. Karena terkait telekomunikasi yang besar ini, harusnya pihak ketiga yang tidak perlu memikirkan sisi ekonominya,” tutupnya.

Editor: M Syarif - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Ubah Penampilan Pasar Beras, Pemko Anggarkan Rp13 Milyar Pembebasan Lahan
apahabar.com

Kalsel

Kerugian Banjir Pelaihari Sentuh Miliaran Rupiah!
apahabar.com

Kalsel

Kalsel Hari Ini, Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
HST

Kalsel

Update Banjir Kalsel : Total 24 Orang Tewas, 3 Warga HST Masih Hilang
apahabar.com

Kalsel

Viral, Palang Jembatan Alalak II Disorot Nitizen

Kalsel

Lima ODP di Kotabaru Reaktif Covid-19, Pernah ke Gowa
apahabar.com

Kalsel

Warga Tapin Diminta Tetap Waspada Virus G4 dan Jembrana
PDBI

Kalsel

Jumat Berbagi, PDBI Tanbu Sasar Warga Kurang Mampu
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com